Melihat ke India sebagai Alternatif China

Kompas.com - 13/02/2019, 14:00 WIB
Umat Hindu India berendam di perairan suci di Sangam, yang merupakan pertemuan Sungai Gangga, Yamuna dan sungai Saraswati, Senin (4/2/2019), pada berlangsungnya Festival Kumbh Mela. (AFP/UTTAR PRADESH PR DEPT) Umat Hindu India berendam di perairan suci di Sangam, yang merupakan pertemuan Sungai Gangga, Yamuna dan sungai Saraswati, Senin (4/2/2019), pada berlangsungnya Festival Kumbh Mela. (AFP/UTTAR PRADESH PR DEPT)

BELAKANGAN ini saya telah menghabiskan waktu di India. Meskipun saya tidak dapat berbahasa Tamil, namun bahasa indah itu adalah bagian dari kenangan masa kecil saya, bersama dengan film hitam-putih MG Ramachandran, dosai (panekuk khas India), sambar—(sop kacang lentil khas India), dan chutney (rempah saus) kelapa.

Jadi, ketika saya memulai perjalanan saya, dan saya pikir perjalanan ini wajib dimulai dari arah Selatan di Kawasan Cholas yang bersejarah, saya justru sangat kecewa. Sebab, veshti (pakaian tradisional untuk laki-laki) ternyata telah lama tergantikan oleh celana jins dan chino.

Sekarang India adalah perpaduan banyak hal yang riuh dan beragam – mulai dari Flipkart (e-commerce terbesar di India), taksi Ola, nyanyian rap Ranveer Singh dalam bahasa Hindi, diskriminasi kasta, dan hal-hal yang berasal dari masa lampau.

Anda akan menemukan Adivasi (masyarakat tribal), kasta Dalit, Muslim Sufi, komunitas Jat, dan Brahmana: semua hidup berdampingan namun juga senantiasa dalam konflik.



Candi dan pura terlihat di segala arah—untuk menghormati Dewa-Dewa—tetapi tidak ada yang lebih penting dari Brahma sang pencipta, Wisnu sang pemelihara, dan Siwa sang pemusnah.

Baca juga: Anak Telantar di India Ini Sekarang Jadi Anggota Parlemen Swiss

India juga merupakan tanah asal epik Ramayana dan Mahabharata – yang terukir di sejarah di seluruh Asia Tenggara. Di dataran Gangga, Anda dapat mencari jejak kehidupan dan kematian sang Buddha – sebuah ikatan yang vital dengan sekitar 150 juta umat Buddha di Asia Tenggara.

Tentunya, terdapat beragam kelompok dan agama yang telah meninggalkan pengaruhnya terhadap keyakinan, kepercayaan, dan praktik masa kini, yang berujung ke dunia yang penuh dengan kuil, gereja, sinagog, masjid, dan tempat pemujaan lainnya.

Jadi ketika saya berpergian dan mendengar berbagai bahasa dari Urdu ke Bengali, Marathi, dan Inggris – saya senantiasa sadar akan bayang-bayang yang telah ada sebelum saya.

Perjalanan saya sendiri tidak sekadar mengenai agama dan budaya, bahasa ataupun sejarah. Saya datang untuk mengeksplorasi sebuah “raksasa” yang sering disalahpahami—sebuah keberadaan ekonomi yang akan menjadi pemicu pertumbuhan penting bagi Asia Tenggara, mungkin juga untuk dunia.

Ekonomi India yang sebesar 9,449 triliun dollar AS (saat ini ketiga terbesar menurut perhitungan Keseimbangan Kemampuan Berbelanja atau PPP) dan tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) senilai 7,3 persen (pertumbuhan tercepat di antara negara-negara G20), menunjukkan bahwa ketidakpedulian ini harus berakhir.

Baca juga: Potensi Besar Bisnis Co-Living di India

Berdasarkan dari penelitian Perserikatan Bangsa-Bangsa, India diprediksi akan mengungguli China sebagai negara dengan penduduk terpadat di dunia pada 2024–1,5 miliar penduduk pada 2030.

Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi (kiri) mengamati aneka layang-layang pada Pameran Layang-Layang Indonesia-India di kawasan Monas, Jakarta, Rabu (30/5/2018). Pada kunjungan resmi pertama PM India ke Indonesia Presiden Joko Widodo mengajak untuk bermain dan menghadiri pameran layang-layang yang merupakan permainan tradisional populer di Indonesia dan India.  ANTARA FOTO/DHEMAS REVIYANTO Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi (kiri) mengamati aneka layang-layang pada Pameran Layang-Layang Indonesia-India di kawasan Monas, Jakarta, Rabu (30/5/2018). Pada kunjungan resmi pertama PM India ke Indonesia Presiden Joko Widodo mengajak untuk bermain dan menghadiri pameran layang-layang yang merupakan permainan tradisional populer di Indonesia dan India.
Bahkan, beberapa negara bagian di India sama besarnya dengan negara-negara ASEAN secara individual: Uttar Pradesh di Utara memiliki 224 juta penduduk dan Maharashtra di Pusat memiliki 120 juta penduduk – secara berurutan mereka setara dengan Indonesia dan Filipina.

Angka kelas menengah juga meroket. Dua akademisi Universitas Mumbai, Sandhya Krishnan dan Neeraj Hatekar berpendapat dalam tulisan akademik mereka pada 2017, bahwa jumlah kelas menengah di India telah meningkat hampir dua kali lipat dari 304 juta pada 2004-2005 menjadi 604 juta pada 2011-2012, dengan catatan sebagian besar pertumbuhan ini terjadi di kelas menengah ke bawah.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria di Harlem Tembak Tetangga Apartemen karena Terlalu Berisik

Pria di Harlem Tembak Tetangga Apartemen karena Terlalu Berisik

Internasional
Erdogan Ancam Bakal 'Hancurkan Kepala' Pasukan Kurdi Jika Tak Keluar dari Zona Aman

Erdogan Ancam Bakal "Hancurkan Kepala" Pasukan Kurdi Jika Tak Keluar dari Zona Aman

Internasional
ISIS Pakai Jenazah Anak-anak untuk Jebakan Granat, Nyaris Lukai Pasukan Khusus Inggris SAS

ISIS Pakai Jenazah Anak-anak untuk Jebakan Granat, Nyaris Lukai Pasukan Khusus Inggris SAS

Internasional
Warga Protes Kenaikan Harga Tiket Kereta, Presiden Chile Umumkan Keadaan Darurat

Warga Protes Kenaikan Harga Tiket Kereta, Presiden Chile Umumkan Keadaan Darurat

Internasional
Dari 80 Detik hingga 19 Jam, Inilah Penerbangan Tersingkat dan Terlama di Dunia

Dari 80 Detik hingga 19 Jam, Inilah Penerbangan Tersingkat dan Terlama di Dunia

Internasional
Pemilu Kanada 2019, Bagaimana Peluang PM Justin Trudeau untuk Kembali Terpilih?

Pemilu Kanada 2019, Bagaimana Peluang PM Justin Trudeau untuk Kembali Terpilih?

Internasional
Presiden Meksiko Dukung Keputusan Pihak Keamanan Bebaskan Putra El Chapo

Presiden Meksiko Dukung Keputusan Pihak Keamanan Bebaskan Putra El Chapo

Internasional
Korban Tewas Ledakan di Masjid Afghanistan Jadi 62 Orang, Taliban Bantah Terlibat

Korban Tewas Ledakan di Masjid Afghanistan Jadi 62 Orang, Taliban Bantah Terlibat

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Keluarga Belanda Tinggal 9 Tahun di Bawah Tanah | Indonesia Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Keluarga Belanda Tinggal 9 Tahun di Bawah Tanah | Indonesia Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB

Internasional
Izinkan Artis Masuk Kokpit dan Pegang Kendali Pesawat, Pilot Dilarang Terbang Seumur Hidup

Izinkan Artis Masuk Kokpit dan Pegang Kendali Pesawat, Pilot Dilarang Terbang Seumur Hidup

Internasional
Pemerintah Berencana Berlakukan Pajak WhatsApp, Warga Lebanon Gelar Unjuk Rasa

Pemerintah Berencana Berlakukan Pajak WhatsApp, Warga Lebanon Gelar Unjuk Rasa

Internasional
Ledakan Bom di Masjid Afghanistan saat Shalat Jumat, 28 Jemaah Tewas

Ledakan Bom di Masjid Afghanistan saat Shalat Jumat, 28 Jemaah Tewas

Internasional
Gara-gara Postingan Facebook, Pria Pakistan Ini Dijatuhi Hukuman Penjara 5 Tahun

Gara-gara Postingan Facebook, Pria Pakistan Ini Dijatuhi Hukuman Penjara 5 Tahun

Internasional
Kucingnya Dibunuh, Wanita di Rusia Mutilasi Teman Serumah

Kucingnya Dibunuh, Wanita di Rusia Mutilasi Teman Serumah

Internasional
Qantas Uji Coba Penerbangan Langsung Terlama dari New York ke Sydney selama 19 Jam

Qantas Uji Coba Penerbangan Langsung Terlama dari New York ke Sydney selama 19 Jam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X