Usai Dikritik soal Muslim Uighur, China Minta Warganya di Turki Waspada

Kompas.com - 12/02/2019, 20:09 WIB
Warga Suku Uighur berkumpul usai menjalankan shalat di Masjid Id Kah di Kashgar, Xinjiang, China bagian barat, 19 April 2015. Pihak berwenang China telah membatasi ekspresi agama di Xinjiang, yang telah memicu perlawanan.AFP PHOTO / GREG BAKER Warga Suku Uighur berkumpul usai menjalankan shalat di Masjid Id Kah di Kashgar, Xinjiang, China bagian barat, 19 April 2015. Pihak berwenang China telah membatasi ekspresi agama di Xinjiang, yang telah memicu perlawanan.

BEIJING, KOMPAS.com - Pemerintah China meminta penduduknya di Turki untuk waspada, usai munculnya perselisihan antara kedua negara.

Pertikaian keduanya dipicu ketika Turki mengkritik perlakuan China terhadap warga Uighur di wilayah Xinjiang.

Diwartakan South China Morning Post, Selasa (12/2/2019), Kedutaan Besar China di Ankara menganjurkan penduduk dan para pelancong yang pergi ke Turki untuk waspada dan keselamatan pribadi.

Baca juga: Turki: Perlakuan China kepada Muslim Uighur Memalukan bagi Kemanusiaan

Sebelumnya, Turki menyebut perlakuan China terhadap warga muslim etnis Uighur sebagai tindakan yang memalukan bagi kemanusiaan.

Pemerintah China menyatakan, kritikan Turki tersebut sangat keji. Beijing menilai Ankara harus memiliki pemahaman yang tepat tentang upaya hukum untuk memerangi terorisme.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying bahkan menyentil Turki yang mengklaim bahwa musisi etnis Uighur Abdurehim Heyit meninggal di penjara.

Melalui sebuah video, China merilis video yang memperlihatkan Heyit dalam kondisi masih hidup dan sehat.

"Turki telah membuat sebuah kesalahan yang sanagat buruk, dan tidak bertanggung jawab," katanya.

Hua mendesak Turki untuk menarik kembali pernyataannya, yang dianggapnya berdasarkan kebohongan.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy, pemerintah Turki menilai komunitas Muslim itu menjadi sasaran penyiksaan dan cuci otak.

"Bukan rahasia lagi, lebih dari 1 juta orang Turk Uighur, yang ditangkap sewenang-wenang, menjadi sasaran penyiksaan dan pencucian otak politik di pusat konsetrasi dan penjara," tutur Aksoy.

"Kami telah mengetahui dengan kesedihan tentang penyair terhormat, Abdurehim Heyit, yang dijatuhi hukuman 8 tahun penjara karena karyanya, meninggal pada tahun kedua penahanannya," ucapnya.

Baca juga: China Rilis Video Musisi Muslim Uighur yang Dikabarkan Tewas

Terkait terbitnya "travel warning" ke Turki, China sebelumnya juga mengumumkan peringatan yang sama bagi penduduknya di Kanada dan Swedia.

Hubungan China dan Kanada bersitegang usai penangkapan pejabat tinggi Huswei Sabrina Meng Wanzhou.

Sementara itu, peringatan di Swedia dipicu oleh klaim sekelompok turis China yang mengklaim dianiaya oleh polisi negara itu.



Close Ads X