Di RD Kongo, Perempuan Diberi Vaksin Ebola Jika Beri Layanan Seks - Kompas.com

Di RD Kongo, Perempuan Diberi Vaksin Ebola Jika Beri Layanan Seks

Kompas.com - 12/02/2019, 17:11 WIB
Seorang pekerja kesehatan menggunakan termometer non-kontak untuk memeriksa suhu tubuh warga Republik Demokratik Kongo (RDK) di pusat pemeriksaan Ebola di Mpondwe, Uganda, yang berbatasan dengan DRK. AFP/ISAAC KASAMANI Seorang pekerja kesehatan menggunakan termometer non-kontak untuk memeriksa suhu tubuh warga Republik Demokratik Kongo (RDK) di pusat pemeriksaan Ebola di Mpondwe, Uganda, yang berbatasan dengan DRK.

KINSHASHA, KOMPAS.com - Sebuah program vaksinasi Ebola di Republik Demokratik Kongo kini menjadi sebuah permasalahan.

Pasalnya, sejumlah perempuan mereka dipaksa menukar pengobatan dan pemberian vaksin dengan hubungan seks.

Riset yang dilakukan sejumlah LSM mengungkap adanya ketidakpercayaan terhadap para pekerja kesehatan di RD Kongo.

Baca juga: Tiga Pasien Ebola di Kongo Melarikan Diri dari Karantina

Selain itu, kekerasan berbasis gender cenderung meningkat sejak terjadinya wabah Ebola pada Agustus tahun lalu.

Riset, yang hasilnya dipaparkan di sebuah pertemuan gugus tugas nasional di kota Beni, digelar menyusul seruan dunia internasional agar WHO mempertimbangkan peringatan global terkait wabah ini.

Vaksin eksperimental ini digambarkan WHO sebagai amat manjur dan diharap bisa menghentikan wabah Ebola.

Salah satu studi mengungkap, sejumlah responden mengaku, beberapa orang menawarkan layanan kesehatan terkait Ebola, termasuk vaksin, bisa diberikan jika ditukar dengan layanan seksual.

Ternyata, sejumlah kelompok peneliti juga mengungkapkan adanya risiko eksploitasi yang dilakukan para pekerja kesehatan di garis depan.

Keprihatinan juga muncul terkait adanya laporan meningkatnya stigma dan kekerasan yang dihadapi perempuan.

Berdasar riset yang dilakukan International Rescue Committe (IRC), sejumlah perempuan disalahkan karena dianggap gagal mencegah wabah Ebola.

Para perempuan, yang merawat orang sakit dan memastikan anak-anak mencuci tangan mereka, menghadapi beban kerja yang terus bertambah.

Apalagi, sebagian besar dari mereka masih merasa trauma dan kelelahan menghadapi wabah penyakit ini.

Salah seorang peserta pertemuan mengatakan, para perempuan diisolasi saat mereka sedang haid dan dituduh menjadi pembawa virus Ebola.

"Kami akan menggunakan temuan ini dan bekerja bersama para rekan kami untuk mengatasi masalah ini dan memastikan para perempuan terlindungi," demikian IRC.

Trina Helderman, penasihat senior bidang kesehatan dan nutrisi untuk tim respon darurat global Medair, mengatakan bahwa respon terhadap Ebola seharusnya memiliki standar perlindungan bagi perempuan.

"Di wilayah RD Kongo ini memiliki sejarah panjang kekerasan seks dan eksploitasi terhadap perempuan. Meski mengejutkan, isu ini bisa diantisipasi," ujar Helderman.

"Para pekerja kemanusiaan harus mempersiapkan diri untuk mencegah hal-hal ini terjadi di lapangan," tambah dia.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RD Kongo meminta warga melapor jika menemukan layanan vaksin Ebola yang berbayar.

Baca juga: Perangi Ebola, Kongo Gunakan Vaksin Eksperimental dan Strategi Cincin

Kementerian juga menanggapi serius isu vaksin Ebola ditukar layanan seks dan menyarankan para perempuan diminta hanya menemui para petugas yang mengenakan lambang resmi negara.

Sejak Agustus tahun lalu, telah terjadi 811 kasus Ebola di RD Kongo dengan korban meninggal dunia mencapai 510 orang.



Close Ads X