Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 12/02/2019, 16:34 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Iran baru saja merayakan empat dekade Revolusi Islam Iran 1979 yang diperingati pada 11 Februari lalu.

Perayaan Revolusi Islam Iran memperingati berakhirnya pemerintahan kerajaan di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi dan beralih menjadi republik di bawah pemimpin tertinggi, Ayatollah Ruhollah Khomeini yang terjadi pada 1 Februari 1979.

Rakyat Iran menyebut revolusi itu sebagai keberhasilan dan menyambutnya dengan suka cita, namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menyebutkan sebagai kegagalan.

Melalui twitnya, Senin (11/2/2019), Trump menuliskan, "40 tahun korupsi. 40 tahun represi. 40 tahun teror. Rezim di Iran hanya menghasilkan kegagalan."

"Rakyat Iran yang telah lama menderita layak mendapatkan masa depan yang lebih cerah," tambah Trump dengan tagar #40YearsofFailure.

Baca juga: Trump Klaim Jam Kerjanya Lebih Lama dari Presiden AS Sebelumnya

Sebelumnya, kepala penasehat kebijakan luar negeri Trump, John Bolton mengeluarkan pernyataan serupa melalui akun Twitter miliknya.

"Sudah 40 tahun kegagalan. Sekarang terserah rezim Iran untuk mengubah perilakunya, dan akhirnya terserah kepada orang-orang Iran untuk menentukan arah negara mereka," tulis John Bolton.

"Washington akan mendukung kehendak rakyat Iran dan berdiri di belakang mereka untuk memastikan suara mereka didengar," tambahnya.

Sementara di Teheran, ratusan ribu rakyat Iran berkumpul di Azadi Square untuk memperingati Revolusi 1979.

Turut hadir dalam aksi itu, Presiden Iran Hassan Rouhani, yang menyebut revolusi pada 40 tahun lalu telah menyelamatkan negara dari tirani, penjajahan, dan ketergantungan.

Rouhani mengatakan kepada peserta aksi bahwa rakyat Iran harus menentang konspirasi yang melibatkan Washington.

Pemerintahan Trump telah berusaha keras melemahkan Iran dan apa yang disebutnya dengan pengaruh destabilisasi Teheran.

AS sudah tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Iran sejak 1980. Trump juga telah menarik AS dari perjanjian internasional yang disebut Kesepakatan Nuklir Iran 2015 dan kembali menjatuhkan sanksi terhadap Teheran.

Baca juga: Trump: AS Perang dengan Korut jika Saya Tidak Terpilih Jadi Presiden

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.