Turki: Perlakuan China kepada Muslim Uighur Memalukan bagi Kemanusiaan

Kompas.com - 10/02/2019, 17:53 WIB
Warga Suku Uighur berkumpul usai menjalankan shalat di Masjid Id Kah di Kashgar, Xinjiang, China bagian barat, 19 April 2015. Pihak berwenang China telah membatasi ekspresi agama di Xinjiang, yang telah memicu perlawanan.AFP PHOTO / GREG BAKER Warga Suku Uighur berkumpul usai menjalankan shalat di Masjid Id Kah di Kashgar, Xinjiang, China bagian barat, 19 April 2015. Pihak berwenang China telah membatasi ekspresi agama di Xinjiang, yang telah memicu perlawanan.

ISTANBUL, KOMPAS.com — Pemerintah Turki mengecam perlakuan China terhadap warga Muslim Uighur, dengan menyebut tindakan tersebut sebagai aksi memalukan bagi nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy, Turki menilai komunitas Muslim itu menjadi sasaran penyiksaan dan cuci otak.

"Kebijakan asimilasi sistematis otoritas China terhadap warga Turk Uighur adalah hal yang memalukan bagi kemanusiaan," ucapnya, seperti diwartakan kantor berita AFP, Sabtu (9/2/2019).

Baca juga: Massa Gelar Aksi Bela Uighur di Kedubes China

Seperti diketahui, wilayah barat laut Xinjiang di China merupakan rumah bagi sebagian besar warga Uighur. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka berada di bawah pengawasan ketat polisi usai terjadinya ketegangan antar-etnis.

Panel ahli PBB menyebutkan, hampir 1 juta orang Uighur dan minoritas penutur bahasa Turki lainnya di China dilaporkan berada di dalam tahanan di kamp pendidikan.

"Bukan rahasia lagi, lebih dari 1 juta orang Turk Uighur, yang ditangkap sewenang-wenang, menjadi sasara penyiksaan dan pencucian otak politik di pusat konsetrasi dan penjara," tutur Aksoy.

"Masyarakat Uighur yang tidak ditahan di kamp-kamp juga berada di bawah tekanan besar," imbuhnya.

Terkait kematian tragis penyair dan musisi Uighur, Abdurehim Heyit, di dalam tahanan, pemerintah Turki berpendapat adanya pelanggaran hak asasi manusia.

"Kami telah mengetahui dengan kesedihan tentang penyair terhormat, Abdurehim Heyit, yang dijatuhi hukuman 8 tahun penjara karena karyanya, meninggal pada tahun kedua penahanannya," ucap Aksoy.

"Insiden tragis ini semakin memperkuat reaksi publik Turki terhadap pelanggaran HAM yang serius di wilayah Xinjiang," ujarnya.

Pemerintah Turki meminta komunitas internasional dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk mengambil langkah efektif guna mengakhiri tragedi kemanusiaan di Xinjiang.

Baca juga: Mengintip Wisata di Tempat Tinggal Muslim Uighur China

Sejauh ini, sebagian negara Muslim di dunia belum vokal tentang masalah tersebut, termasuk mengkritik pemerintah China yang merupakan mitra dagang penting.

Pemerintah China menilai pusat pendidikan kejuruan bagi Muslim Uighur merupakan kebijakan untuk membantu menghindari terorisme. Dengan begitu, mereka dapat diintegrasikan kembali ke dalam masyarakat.

Di sisi lain, para kritikus menyebut, China berusaha mengasimilasi populasi minoritas dan menekan praktik agama serta budaya yang bertentangan.


Terkini Lainnya

Babak Baru Sidang Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet...

Babak Baru Sidang Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet...

Megapolitan
Survei Litbang 'Kompas': Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Turun 3,4 persen, Prabowo-Sandi Naik 4,7 Persen

Survei Litbang "Kompas": Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Turun 3,4 persen, Prabowo-Sandi Naik 4,7 Persen

Nasional
Sawah yang Terendam Banjir di Magetan Akan Dapat Klaim Asuransi

Sawah yang Terendam Banjir di Magetan Akan Dapat Klaim Asuransi

Regional
Jaga Persatuan, Wali Kota Hendi Bakal Gelar Semarang Bersholawat

Jaga Persatuan, Wali Kota Hendi Bakal Gelar Semarang Bersholawat

Regional
Pascadebat, Kemana Pemilih Pemula Berlabuh?

Pascadebat, Kemana Pemilih Pemula Berlabuh?

Nasional
Polisi Amankan Uang Palsu Rp 4,6 Miliar dari Rumah Kontrakan di Sleman

Polisi Amankan Uang Palsu Rp 4,6 Miliar dari Rumah Kontrakan di Sleman

Regional
Perjalanan Kasus Romahurmuziy dari OTT hingga Penggeledahan Ruang Kerja Menag

Perjalanan Kasus Romahurmuziy dari OTT hingga Penggeledahan Ruang Kerja Menag

Nasional
Ketika Pedagang Pecel Lele Dipukul karena Lama Menunggu Pesanan...

Ketika Pedagang Pecel Lele Dipukul karena Lama Menunggu Pesanan...

Megapolitan
Trump Munculkan Ide Brasil Gabung Jadi Anggota NATO

Trump Munculkan Ide Brasil Gabung Jadi Anggota NATO

Internasional
[BERITA POPULER] KPK Sita Uang Ratusan Juta di Laci Meja Menteri Agama | Helikopter Prabowo Dilarang Mendarat

[BERITA POPULER] KPK Sita Uang Ratusan Juta di Laci Meja Menteri Agama | Helikopter Prabowo Dilarang Mendarat

Nasional
BMKG: Jabodetabek Diprediksi Cerah Berawan Hari Ini

BMKG: Jabodetabek Diprediksi Cerah Berawan Hari Ini

Megapolitan
WNI di Polandia Ada yang Sudah Mencoblos Pemilu 2019 via Pos

WNI di Polandia Ada yang Sudah Mencoblos Pemilu 2019 via Pos

Nasional
Pemakaman Jenazah Korban Teror di Selandia Baru Dimulai Hari Ini

Pemakaman Jenazah Korban Teror di Selandia Baru Dimulai Hari Ini

Internasional
[HOAKS] Ada Badai 45 Knot di Yogyakarta pada 17-20 Maret 2019

[HOAKS] Ada Badai 45 Knot di Yogyakarta pada 17-20 Maret 2019

Regional
Survei Litbang 'Kompas': Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 49,2 Persen, Prabowo-Sandiaga 37,4 Persen

Survei Litbang "Kompas": Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 49,2 Persen, Prabowo-Sandiaga 37,4 Persen

Nasional

Close Ads X