Menlu AS Sebut Kelompok Hezbollah Aktif di Venezuela

Kompas.com - 07/02/2019, 22:12 WIB
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (tengah) didampingi istrinya, Cilia Flores, tampil di hadapan massa pro-rezim saat aksi memperingati 20 tahun revolusi di Caracas, Sabtu (2/2/2019).AFP / YURI CORTEZ Presiden Venezuela Nicolas Maduro (tengah) didampingi istrinya, Cilia Flores, tampil di hadapan massa pro-rezim saat aksi memperingati 20 tahun revolusi di Caracas, Sabtu (2/2/2019).

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat ( AS) Mike Pompeo menyebut adanya kelompok yang disokong Iran beraksi di Venezuela.

Dalam wawancara dengan Fox Business via The Independent Kamis (7/2/2019), Pompeo menuturkan terdapat keberadaan Hezbollah di sana.

Baca juga: Bahas Venezuela, Trump Akan Jamu Presiden Kolombia di Gedung Putih

"Orang tidak menyadari jika ada sel sktif Hezbollah di Venezuela," kata Pompeo yang menambahkan, Iran berusaha mengembangkan pengaruh di Amerika Latin.


"Kami mempunyai kewajiban untuk menangkal risiko itu demi keseluruhan Amerika," tegas mantan Direktur Badan Intelijen Pusat AS (CIA) itu.

Washington mendeklarasikan kelompok asal Lebanon itu sebagai organisasi teroris, dan memberi sanksi kepada figur Venezuela yang dianggap punya hubungan dengan Hezbollah.

Pernyataan Pompeo terjadi beberapa jam setelah pensiunan Mayor Jenderal Angkatan Darat AS Bob Scales juga menyebut keberadaan Hezbollah.

Bedanya, Scales menyatakan Hezbollah sudah ada di Venezuela sejak 1980-an. Dia berkata Hezbollah selalu menemukan kelemahan dunia.

"Mereka selalu pergi ke tempat tergelap. Keberadaan mereka hanya berjarak sekitar 1.448 km dari perbatasan selatan kami," tegasnya dikutip Al Masdar News.

AS meyakini Venezuela merupakan basis pengumpulan dana Hezbollah selama beberapa tahun melalui peredaran narkoba dan pencucian uang.

Mendiang Presiden Hugo Chavez dilaporkan mempunyai hubungan erat dengan Iran semasa pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Lebih lanjut, Pompeo mengatakan AS, Inggris, maupun negara Uni Eropa lainnya menekan Presiden Nicolas Maduro untuk mundur dan segera menggelar pemilihan.

Pompeo menyebut Maduro sebagai "iblis" dan bersikeras intervensi AS merupakan respon dari rakyat Venezuela yang menderita di bawah rezimnya.

"Kami tidak boleh membiarkan negara yang berada di kawasan sama dengan kami memperlakukan rakyatnya seperti itu," tegas Pompeo.

Baca juga: Tolak Bantuan Kemanusiaan, Presiden Venezuela: Kami Bukan Pengemis



Terkini Lainnya


Close Ads X