Kompas.com - 04/02/2019, 22:49 WIB

Saleh mengatakan, pasukan AS berada di negaranya secara legal berada di bawah kesepakatan antara kedua negara dan setiap tindakan yang diambil di luar kesepakatan tidak dapat diterima.

Pemerintah Irak selama ini telah memainkan peranan sebagai penyeimbang di antara dua sekutu utamanya, Washington dan Teheran, yang saling bermusuhan.

AS telah berperan di Irak dalam memimpin koalisi untuk menghancurkan dan mengusir kelompok ISIS yang merebut serta menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah pada 2014.

Namun setelah Trump pada Desember lalu mengumumkan bakal menarik pasukannya dari Suriah karena menyatakan kemenangan atas ISIS, desakan agar Washington juga menarik pasukannya di Irak semakin kuat, terlebih datang dari faksi pro-Iran di Baghdad.

Baca juga: Kunjungan ke Irak, Trump Sebut AS Tak Bisa Lagi Jadi Polisi Dunia

Sabah al-Saadi, anggota parlemen dari blok yang dipimpin ulama anti-Amerika, Moqtada Sadr, telah mengusulkan rancangan undang-undang yang menuntut keluarnya AS dari Irak.

Dan pernyataan terakhir Trump soal "mengawasi" Iran telah membuat pengesahan undang-undang tersebut sebagai sebuah keharusan.

Wakil ketua parlemen Irak, Hassan Karim al-Kaabi, yang juga dekat dengan Sadr, menyebut pernyataan Trump sebagai sebuah provokasi baru.

Beberapa pekan sebelumnya, presiden AS juga telah memicu kemarahan pemerintah Irak karena mengunjungi pasukannya di Pangkalan Udara Al Asad tanpa bertemu seorang pun pejabat Irak, selaku tuan rumah.

Anggota parlemen Kurdi, Sarkawt Shams turut mengecam pernyataan Trump dan menegaskan bahwa misi pasukan AS di Irak bukan untuk "mengawasi".

"Misi pasukan AS di Irak adalah untuk membantu pasukan keamanan Irak melawan terorisme, bukan mengawasi pihak lain."

"Kami mengharapkan, AS dapat menghormati kepentingan bersama kami dan menghindari mendorong Irak ke dalam konflik regional," ujarnya.

Baca juga: Trump Lakukan Kunjungan Kejutan ke Pasukan AS di Irak

Washington telah menempatkan pasukannya di Irak sejak invasi yang dipimpin AS dalam menggulingkan diktator Saddam Hussein pada 2003.

Dalam puncak perjuangannya melawan kelompok gerilyawan, AS sempat memiliki hingga 170.00 tentara di Irak, namun pasukan itu mulai dikurangi pada akhir 2011.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.