Venezuela Tolak Ultimatum Uni Eropa untuk Gelar Pemilu dalam 8 Hari

Kompas.com - 27/01/2019, 15:03 WIB
Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta Ibu Negara Cilia Flores hadir dalam upacara penyambutan di Caracas. AFP/FEDERICO PARRAPresiden Venezuela Nicolas Maduro beserta Ibu Negara Cilia Flores hadir dalam upacara penyambutan di Caracas.

CARACAS, KOMPAS.com - Pemerintah Venezuela, melalui Menteri Luar Negeri Jorge Arreaza, menyatakan penolakan terhadap ultimatum yang dijatuhkan Uni Eropa untuk menggelar pemilihan dalam waktu delapan hari.

Arreaza menegaskan, Presiden Nicolas Maduro tetap menjadi pemimpin pemerintahan Venezuela yang sah, meski mendapat tekanan dari AS.

"Tidak ada yang akan memberi kami tenggat waktu atau memberi tahu kami untuk menggelar pemilihan atau tidak," ujar Arreaza dalam sesi khusus Dewan Keamanan PBB, Sabtu (26/1/2019).

"Bagaiman bisa Anda mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah yang berdaulat?" tambahnya seperti dilansir oleh AFP.

Baca juga: Spanyol Ultimatum Maduro, Beri Waktu 8 Hari untuk Gelar Pemilu

Pernyataan menteri luar negeri Venezuela tersebut menyusul adanya ultimatum yang disampaikan Spanyol, Perancis, Jerman, Portugal, dan Inggris, pada Sabtu (26/1/2019), yang memberi tenggat waktu delapan hari kepada pemerintahan Maduro untuk kembali menggelar pemilihan baru.

Apabila ultimatum tersebut tidak dapat dilaksanakan, negara-negara anggota Uni Eropa itu mengancam bakal mengakui kepemimpinan oleh ketua oposisi, Juan Guaido, sebagai presiden sementara Venezuela.

Sebelumnya, pemerintahan Amerika Serikat dan sejumlah negara-negara Barat telah menyatakan dukungannya terhadap Guaido sebagai presiden sementara Venezuela.

Pernyataan tersebut disusul pernyataan sikap dari Uni Eropa yang memperingatkan "akan mengambil tindakan lebih lanjut" jika pemilihan presiden baru tidak digelar di Venezuela dalam beberapa hari ke depan.

Disampaikan kepala diplomatik Uni Eropa Federica Mogherini, tindakan lebih lanjut yang dimaksud termasuk pengakuan terhadap  pemimpin negara.

Langkah Uni Eropa tersebut diambil dengan dasar penolakan bersama oleh AS, Uni Eropa, dan PBB terhadap hasil pemilu Venezuela tahun lalu yang kembali memilih Maduro.

Sementara, Guaido sebagai ketua Majelis Nasional, sesuai undang-undang Venezuela yang diakui, memiliki kewenangan untuk mengambil alih pemerintahan hingga terpilihnya presiden baru dalam pemilu yang demokratis.

"Uni Eropa menegaskan kembali dukungan penuhnya kepada Majelis Nasional, yang merupakan badan sah Venezuela yang demokratis," tambah pernyataan Mogherini.

Baca juga: AS: Kami Tak Mengakui Rezim Maduro sebagai Pemerintah Sah Venezuela

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.