Semangat Menyongsong Pemilu, Akhir dari Pemerintahan Militer Thailand

Kompas.com - 25/01/2019, 20:27 WIB
Chiang Mai, Thailand. DOK CERITALAHChiang Mai, Thailand.

Bahkan sektor andalan Thailand, pariwisata, juga terkena dampaknya. Jumlah wisata mancanegara dari China menurun sebanyak 12 persen pada Agustus 2018. Hal ini disebabkan oleh kecelakaan kapal ferry baru-baru ini di Phuket yang mengakibatkan 47 penumpang meninggal (mayoritas berasal dari China).

Baca juga: Raja Thailand Telah Tanda Tangani Dekret Kerajaan Mendukung Pemilu

Di tengah semua kabar negatif ini, detail pemilihan umum yang sementara ini dijadwalkan pada 24 Februari telah menambah kesuraman bagi warga Thailand. Khun Sopa merasa pemilihan umum mendatang tidak akan adil dan bebas.

Khun Sopa tidak sendiri dalam hal ini. Saat kami berdiskusi politik dengan mantan jurnalis di Chiang Mai, dia tertawa dan berkata: “Jika Anda berbicara tentang keadilan berpolitik di Thailand, itu tidak akan terjadi,” katanya.

Kritik-kritik ditujukan terhadap Konstitusi 2017 yang baru saja diratifikasi sebab dianggap memperkuat posisi Jenderal Prayuth. Salah satu ketentuannya adalah semua 250 senator akan diangkat oleh komite yang ditunjuk pemerintahan junta atas arahan Jenderal Prayuth.

Terlebih lagi, enam dari sepuluh komite ini disediakan untuk anggota pasukan keamanan dan polisi. Memang, bila Senat memutuskan pemerintahan saat ini tidak layak memerintah, Senat dapat mengajukan mosi tidak percaya.

Konstitusi ini juga tidak menjelaskan bila kandidat Perdana Menteri harus berasal dari anggota parlemen yang terpilih. Artinya, Perdana Menteri dapat dipilih tanpa persetujuan parlemen, atau lebih terutama, tanpa persetujuan rakyat.

Kecurangan sistem pemilihan umum yang seakan disengaja ini merusak kredibilitas dan pentingnya pemilihan umum dan amanat yang diperoleh sang calon pemenang.

Kembali normalnya keadaan politik yang sangat dinantikan warga Thailand seperti Khun Sopa mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat, atau mungkin tidak akan datang sama sekali.

Jenderal Prayuth perlu melihat apa yang terjadi di negara tetangganya di selatan, Malaysia.
Di saat yang sama tahun lalu, mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak juga menghadapi masalah yang serupa: rakyat yang semakin bergejolak, melemahnya keadaan ekonomi, dan kerinduan akan pemilihan umum yang bersih dan transparan.

Kala itu, pemerintahan Barisan Nasional (BN) mengambil langkah-langkah administratif yang menghalangi partisipasi publik dalam pemilihan. Hal ini justru memicu kemarahan dan ketidakpercayaan publik. Dan sisanya telah tercatat dalam sejarah.

Desember lalu, usul Jenderal Prayuth untuk menghilangkan logo partai di surat suara mengundang protes dari masyarakat luas.

Komisi Pemilihan Umum Thailand kemudian merevisi desain surat suara yang mengikutsertakan logo, nama dan nomor partai. Setelah lima tahun menunggu, warga Thailand tidak sabar untuk menggunakan hak suara mereka, dan campur tangan Jenderal Prayuth tidak akan dapat menghentikkan mereka.

Jenderal Prayuth perlu menyadari bahwa mandat murni dari rakyat tidak dapat “dibuat”. Terlalu bergantung terhadap ketakutan dan sikap apatis warga Thailand dapat menimbulkan respons buruk yang masif. 

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER INTERNASIONAL] Baku Tembak 'Panas' di New Jersey | 2 Pasal Pemakzulan Trump Dirilis

[POPULER INTERNASIONAL] Baku Tembak "Panas" di New Jersey | 2 Pasal Pemakzulan Trump Dirilis

Internasional
Pelaku Baku Tembak New Jersey Sengaja Targetkan Supermarket Yahudi

Pelaku Baku Tembak New Jersey Sengaja Targetkan Supermarket Yahudi

Internasional
Melawan Saat Diperkosa, Gadis 23 Tahun di India Dibakar Hidup-hidup

Melawan Saat Diperkosa, Gadis 23 Tahun di India Dibakar Hidup-hidup

Internasional
Tanggapi Isu Pemakzulan, Trump Digambarkan Tim Kampanye sebagai Thanos

Tanggapi Isu Pemakzulan, Trump Digambarkan Tim Kampanye sebagai Thanos

Internasional
Di Pengadilan PBB, Aung San Suu Kyi Bantah Myanmar Lakukan Genosida atas Rohingya

Di Pengadilan PBB, Aung San Suu Kyi Bantah Myanmar Lakukan Genosida atas Rohingya

Internasional
Mahathir Siratkan Serahkan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim Setelah KTT APEC 2020

Mahathir Siratkan Serahkan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim Setelah KTT APEC 2020

Internasional
Dua Pasal Pemakzulan Trump Resmi Dirilis, Apa Isinya?

Dua Pasal Pemakzulan Trump Resmi Dirilis, Apa Isinya?

Internasional
Kisah Azura Luna, WNI asal Kediri yang Disebut Lakukan Penipuan di Hong Kong

Kisah Azura Luna, WNI asal Kediri yang Disebut Lakukan Penipuan di Hong Kong

Internasional
Hadir di Sidang PBB, Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar soal Tuduhan Genosida Rohingya

Hadir di Sidang PBB, Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar soal Tuduhan Genosida Rohingya

Internasional
Buntut Penembakan Pangkalan AL Pensacola, AS Tangguhkan Pelatihan bagi Militer Arab Saudi

Buntut Penembakan Pangkalan AL Pensacola, AS Tangguhkan Pelatihan bagi Militer Arab Saudi

Internasional
Baku Tembak 'Panas' Terjadi di New Jersey, 6 Orang Tewas

Baku Tembak "Panas" Terjadi di New Jersey, 6 Orang Tewas

Internasional
Gara-gara Tanggal Wisuda, Calon Sarjana Usia 9 Tahun Ini Keluar dari Universitas

Gara-gara Tanggal Wisuda, Calon Sarjana Usia 9 Tahun Ini Keluar dari Universitas

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] China Larang Kantor Pemerintah Pakai Komputer Asing | Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko

[POPULER INTERNASIONAL] China Larang Kantor Pemerintah Pakai Komputer Asing | Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko

Internasional
Menlu Retno Ajak Guatemala Gabung CPOPC

Menlu Retno Ajak Guatemala Gabung CPOPC

Internasional
Erdogan: Jika Diundang, Turki Bakal Kerahkan Pasukan ke Libya

Erdogan: Jika Diundang, Turki Bakal Kerahkan Pasukan ke Libya

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X