Kompas.com - 18/01/2019, 21:56 WIB

MANILA, KOMPAS.com - Angkatan Udara Filipina telah memutuskan bakal membeli 16 unit helikopter Black Hawk buatan pabrikan asal AS, Sikorsky Aircraft, meskipun Presiden Rodrigo Duterte pernah bersumpah untuk tidak membeli persenjataan dari AS.

Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana mengatakan, keputusan membeli helikopter Black Hawk telah melalui evaluasi dan pertimbangan yang matang.

Sebelumnya, Filipina bermaksud membeli helikopter Bell 412 buatan Kanada. Namun kesepakatan tersebut batal lantaran pemerintah Kanada khawatir helikopter buatan mereka bakal digunakan untuk menyerang rakyat Filipina.

Baca juga: Demi Hindari Sanksi AS, Filipina Tak Beli Helikopter Rusia

Angkatan Udara Filipina pun akhirnya kembali mempertimbangkan opsi penawaran lainnya, yakni S-70 Black Hawk yang diproduksi Sikorsky Aircraft, Mi-171 buatan Rusia, Surion buatan Korea Selatan, dan AW139 produksi AgustaWestland dari Inggris.

"Dari hasil evaluasi, diperoleh (Sikorsky) sebagai pilihan teratas. Mereka menginginkan Black Hawk," kata Lorenzana di sela-sela forum koresponden asing di Manila, Kamis (17/1/2019).

Kementerian Pertahanan lantas melaporkan hasil evaluasi Angkatan Udara kepada Presiden Duterte dengan mengingatkan bahwa pilihan ini dapat melanggar pernyataannya.

"Walau demikian presiden telah memberikan lampu hijau," kata Lorenzana, sebagaimana dilansir SCMP.

"Saat itu saya berkata, pesawat ini didatangkan dari Polandia, karena memang ada pabrik di Polandia yang memproduksi helikopter Black Hawk di bawah pengawasan Lockheed Martin dan Sikorsky."

"Mungkin ini bisa menjadi pengecualian. Dan presiden berkara, apa pun yang diinginkan angkatan udara sebagai pengguna, maka itu yang akan kita beli," tambah Lorenzana.

Presiden Duterte sebelumnya telah menyatakan tidak akan lagi membeli persenjataan dari AS setelah Washington meminta Filipina mempertimbangkan rencana pembelian senjata dari Rusia yang dapat merenggangkan hubungan kedua negara.

Baca juga: Duterte Berjanji Hanya Beli Senjata dari Israel, Ini Alasannya

Selain itu, AS mengancam pembelian persenjataan dari Rusia dapat memicu sanksi karena "Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi" atau CAATSA yang disahkan Presiden Donald Trump pada 2017.

Undang-undang tersebut memberi kewenangan pemerintah AS untuk menjatuhkan sanksi kepada negara-negara yang membeli peralatan militer dari rival AS, yakni Rusia, Iran, dan Korea Utara.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber SCMP
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.