Sebelum Dieksekusi, Begini Ucapan Tim Pembunuh kepada Khashoggi

Kompas.com - 18/01/2019, 18:54 WIB
Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi. AFP/MOHAMMED AL-SHAIKHJurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi.

ANKARA, KOMPAS.com - Buku yang ditulis oleh tiga jurnalis Turki ungkap percakapan awal tim pembunuh dari Arab Saudi kepada Jamal Khashoggi.

Buku Diplomatic Atrocity: The Dark Secrets of the Jamal Khashoggi Murder itu ditulis jurnalis Daily Sabah Abdurrahman Simsek, Nazif Karaman, dan Ferhat Unlu.

Buku yang dijual pada Desember itu memberikan deskripsi komprehensif tentang rekaman yang diperoleh oleh otoritas Turki.

Baca juga: Menlu AS: Saudi Tegaskan Komitmen Usut Kasus Pembunuhan Khashoggi


Dalam buku itu, salah satu anggota tim pembunuh sempat menuturkan bahwa mereka datang ke Istanbul untuk membawa Khashoggi kembali ke Saudi.

"Pertama, kita bakal berkata 'kami akan membawa Anda ke Riyadh'. Jika dia tidak mau, kita akan membunuhnya dan menyingkirkan jenazahnya," ujar salah satu anggota tim.

Buku itu memaparkan momen ketika pemimpin tim bernama Maher Abdulaziz Mutreb menghentikan Khashoggi ketika dia memasuki kantor Konsulat Saudi di Istanbul.

"Mari, silakan duduk. Kedatangan kami di sini adalah untuk membawa Anda kembali ke Riyadh," ujar Mutreb yang dibalas penolakan oleh Khashoggi.

Tim itu meminta jurnalis 59 tahun itu untuk mengirim pesan kepada putranya, Salah, untuk meyakinkan dia baik-baik saja jika tak memberikan kabar.

Namun karena Khashoggi menolak permintaan tersebut, Murder lalu memerintahkan anggotanya untuk menyiapkan peralatan untuk memutilasinya.

Rekaman memperdengarkan suara ketika peralatan untuk mutilasi diletakkan di meja. Mutreb memerintahkan lima anggota untuk menduduki Khashoggi.

"Apa kalian ingin membunuhku? Apakah kalian berniat untuk mencekik saya?" tanya Khashoggi. Mutreb memberi tahu si jurnalis dia bakal diampuni jika bekerja sama.

Setelah itu, salah seorang anggota yang dilaporkan bernama Thaar Ghaleb al-Harbi mencoba menutup mulut Khashoggi, yang berujung si jurnalis meronta-ronta.

Harbi merupakan anggota penjaga raja, di mana tahun lalu dia dipromosikan sebagai Letnan karena keberaniannya mempertahankan Istana Pangeran Mohammed di Jeddah.

Baca juga: Tiba di Saudi, Menlu AS Desak MBS Selesaikan Kasus Khashoggi

Tim itu kemudian melakukan eksekusi dengan menaruh kantong plastik di kepala Khashoggi. "Tolong jangan tutup mulut saya. Saya punya asma," ujarnya dalam kalimat terakhirnya.

Dibutuhkan lima menit bagi tim itu untuk membunuh Khashoggi. Dia tewas pada pukul 13.24, 10 menit setelah memasuki gedung konsulat pada 2 Oktober.

"Detik-detik terakhir di konsulat berakhir dengan suara serak yang merupakan perpisahannya (Khashoggi) di dunia ini," ulas buku tersebut.

Setelah Khashoggi tewas, Mustafa al-Madani yang ditugaskan sebagai "kembaran" mulai melucuti pakaian Khashoggi bersama Saif Saad al-Qahtani.

Diwartakan The New York Times Kamis (17/1/2019), buku tersebut memaparkan suara gergaji listrik hingga pisau pemotong tulang terdengar dalam rekaman itu.

Kasus Khashoggi menjadi perhatian dunia di mana kecurigaan mengarah kepada Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) sebagai pihak yang memerintahkan pembunuhan.

Riyadh membantah dugaan tersebut dan mengklaim telah menangkap 21 orang, di mana lima di antaranya bakal dituntut dengan hukuman mati.

Baca juga: Diprotes Saudi, Netflix Cabut Episode Komedi yang Sindir Kasus Khashoggi

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gelapkan Uang Restoran demi Putrinya yang Sakit, Pria Singapura Dihukum Penjara

Gelapkan Uang Restoran demi Putrinya yang Sakit, Pria Singapura Dihukum Penjara

Internasional
Tantang Petarung MMA, Ahli Wing Chun Ini KO dalam 72 Detik

Tantang Petarung MMA, Ahli Wing Chun Ini KO dalam 72 Detik

Internasional
Terungkap, Selir Raja Thailand Dicopot karena Ingin Seperti Permaisuri

Terungkap, Selir Raja Thailand Dicopot karena Ingin Seperti Permaisuri

Internasional
Dianggap Tak Setia, Selir Raja Thailand Dicopot

Dianggap Tak Setia, Selir Raja Thailand Dicopot

Internasional
Cegah Mencontek, Sekolah di India Pakaikan Muridnya Kardus di Kepala Saat Ujian

Cegah Mencontek, Sekolah di India Pakaikan Muridnya Kardus di Kepala Saat Ujian

Internasional
Erdogan Tuduh Negara Barat Mendukung 'Teroris' di Suriah

Erdogan Tuduh Negara Barat Mendukung "Teroris" di Suriah

Internasional
Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Internasional
Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Internasional
Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Internasional
Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak 'Rahasiakan' Halaman Depan

Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak "Rahasiakan" Halaman Depan

Internasional
Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Internasional
Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Internasional
Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Internasional
Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Internasional
Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X