Erdogan Sepakat Bikin "Zona Aman" di Suriah Setelah Menelepon Trump

Kompas.com - 15/01/2019, 21:52 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.AFP/ADEM ALTAN, SAUL LOEB Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

ANKARA, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan dia bakal membentuk zona aman di kawasan utara Suriah.

Pembentukan zona aman di Suriah itu terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman di Twitter.

Diwartakan Al Jazeera Selasa (15/1/2019), Erdogan berkata dia melakukan perbincangan positif dengan Trump melalui telepon.

Baca juga: Terima Undangan Erdogan, Trump Berpeluang Kunjungi Turki Tahun Depan


Dia berkata awalnya dia sedih dengan twit Trump. Namun pembicaraan di telepon antara dirinya dengan Trump berlangsung cair.

"Kami bakal segera membentuk zona aman di kawasan perbatasan dengan Suriah sejauh 32 km," terang mantan Perdana Menteri Turki itu.

Dia menjelaskan, Turki merupakan rumah bagi sekitar tiga juta pengungsi Suriah. Dia mengaku sempat mengusulkan adanya zona aman yang ditunjang larang terbang.

Dia mengaku telah mengusulkannya kepada pendahulu Trump, Presiden Barack Obama, dengan struktur bangunan bakal dibuat untuk menampung pengungsi.

Namun, kondisi itu tercipta apabila Washington memberi dukungan logistik serta udara, sementara Turki menyediakan keamanan di darat.

"Sayangnya, Obama gagal mengambil kebijakan yang diperlukan," kata presiden dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) tersebut.

Namun setelah berdiskusi dengan Trump, Erdogan menuturkan rencana yang dia tawarkan bisa diselamatkan, dan zona aman Suriah 32 km itu bisa saja diperpanjang.

"Kami bisa membentuk zona aman itu jika pasukan koalisi, terutama Amerika, menyediakan dukungan finansial maupun logistik," terang Erdogan dilansir AFP.

Meski begitu, presiden 64 tahun itu menolak keberadaan milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di kawasan tersebut.

Sebelumnya, Trump melontarkan ancaman bakal menghancurkan ekonomi Turki jika negara itu menyerang Kurdi yang selama ini menjadi sekutu AS.

Baca juga: Trump: Erdogan Janji Sisa Anggota ISIS Bakal Dibersihkan dari Suriah

Militer Turki melaksanakan dua kali operasi militer ke Suriah. Pertama adalah "Euphrates Shield" pada 2016, dan "Olive Branch" pada 2018.

Dua serangan itu dilaksanakan untuk menghantam milisi Kurdi maupun kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Pengerahan pasukan Turki maupun milisi yang bersekutu dengan mereka di kawasan timur laut Suriah dipandang sebagai bentuk upaya pendudukan.

Erdogan menepis isu tersebut dengan menyatakan membandingkan Turki dengan kekuatan lain di Suriah merupakan bentuk penghinaan terhadap sejarah dan peradaban mereka.

"Jika kami tidak menempatkan pasukan di sana, jika kami memalingkan muka kami, maka kami bakal mengkhianati diri kami sendiri," ujar Erdogan.

Baca juga: Pertanyaan Erdogan Ini Buat Trump Tarik Pasukan dari Suriah



Terkini Lainnya


Close Ads X