Penasihat Turki: AS adalah Rekan yang Tidak Bisa Diandalkan

Kompas.com - 14/01/2019, 20:29 WIB
Milisi Suriah yang didukung Turki berkumpul bersama kendaraannya di dekat Manbij pada 28 Desember 2018.AFP?BAKR ALKASEM Milisi Suriah yang didukung Turki berkumpul bersama kendaraannya di dekat Manbij pada 28 Desember 2018.

ANKARA, KOMPAS.com - Seorang penasihat Turki mengkritik pendekatan inkonsistensi yang dilakukan Amerika Serikat( AS) terhadap Suriah.

Yasin Aktay, penasihat Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan, masalah antara AS dan Turki terjadi akibat kebingungan dan hiruk pikuk antar pemangku kepentingan di AS.

"AS adalah rekan yang tidak bisa diandalkan bagi Ankara," terang Aktay dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, dilansir Senin (14/1/2019).

Baca juga: Trump Ancam Bakal Hancurkan Ekonomi Turki jika Turki Serang Kurdi

Menurut Aktay, Presiden AS Donald Trump terjebak ketika mengumumkan keputusan untuk menarik pasukan dari Suriah pada Desember lalu.

Trump berada di antara opini publik yang mempertanyakan keberadaan pasukan AS di Suriah, dan poltisi maupun sekutu seperti Israel yang menentang penarikan tersebut.

Keputusan Trump untuk memulangkan tentara awalnya diharapkan berlangsung mulus. Namun tenggat waktunya menjadi kabur dengan sejumlah syarat harus dibuat.

Salah satunya adalah terkait masa depan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG).

Aliansi tersebut dengan pelatihan dan sokongan militer dari AS menjadi garda terdepan kampanye mengalahkan Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS).

"Washington memerangi kelompok teroris Daesh (akronim ISIS). Sementara di sisi lain, mereka melindungi teroris lain," sindir Aktay.

"Inkonsistensi dalam kebijakan seperti itulah yang menurunkan reputasi AS sebagai negara adidaya dunia," lanjut Aktay.

Dia menjelaskan, AS tak mengindahkan ancaman yang dibuat YPG kepada Turki, dan kerap menyamakan kelompok itu sebagai Kurdi Suriah.

Aktay menyatakan YPG terdiri dari berbagai etnis yang bekerja dalam sebuah organisasi teroris. Namun AS kerap menyebutnya sebagai Kurdi.

"Sebagai sekutu NATO, kebijakan AS yang mendukung dan bekerja sama dengan ancaman yang kami terima menunjukkan mereka adalah rekan yang tak bisa diandalkan," kecamnya.

Ankara memandang YPG dan Partai Persatuan Demokratik Kurdi (PYD) berhubungan dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

PKK merupakan organisasi yang dianggap teroris karena mereka menyebabkan kekacauan di Turki sejak 1980-an silam.

Pekan lalu, Erdogan berujar pemerintah AS sudah salah kaprah dengan bekerja bersama YPG. Sementara Trump mengancam bakal menghancurkan ekonomi Turki jika menyerang Kurdi.

Baca juga: Diancam oleh Trump, Begini Balasan Turki


Terkini Lainnya


Close Ads X