Diancam oleh Trump, Begini Balasan Turki

Kompas.com - 14/01/2019, 15:38 WIB
Foto yang dirilis Pasukan Bersenjata Turki memperlihatkan tentara Turki didampingi kendaraan lapis baja berpatroli di kota Manbij di Suriah utara, Senin (18/6/2018).AFP / TURKISH ARMED FORCES Foto yang dirilis Pasukan Bersenjata Turki memperlihatkan tentara Turki didampingi kendaraan lapis baja berpatroli di kota Manbij di Suriah utara, Senin (18/6/2018).

ANKARA, KOMPAS.com - Pemerintah Turki menanggapi ancaman yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait rencana mereka menyerang Kurdi di Suriah.

Juru bicara kepresidenan Ibrahim Kalin berujar, tidak ada bedanya antara Unit Perlindungan Rakyat Kurdi YPG) dengan Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS).

"Kami bakal melanjutkan kampanye untuk melawan mereka," kata Kalin dalam kicauan di Twitter dikutip kantor berita AFP Senin (14/1/2019).

Baca juga: Trump Ancam Bakal Hancurkan Ekonomi Turki jika Turki Serang Kurdi

Kalin menyatakan, seharusnya teroris tidak bisa menjadi rekan maupun sekutu AS. Dia mendesak AS menghormati aliansi strategis dua negara.

"Kami tidak ingin aliansi ini dibayangi oleh propaganda yang dilakukan oleh teroris," tutur juru bicara berusia 47 tahun itu.

Dia menyanggah jika Ankara berencana untuk menyerang Kurdi. Dia menegaskan yang mereka serang adalah YPG, bukan Kurdi secara keseluruhan.

"Kami bakal melindungi Kurdi maupun rakyat Suriah lainnya dari bahaya yang diberikan oleh para teroris," tegas Kalin.

Sebelumnya dalam twit-nya, Trump mengancam bakal menghancurkan ekonomi Turki jika pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan menyerang Kurdi.

Turki memandang YPG sebagai kepanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dianggap penyebab konflik sejak 1984.

PKK ditetapkan sebagai organisasi teroris baik oleh Turki, AS, maupun PBB. Namun, beberapa tahun terakhir AS bekerja bersama dengan YPG.

Dengan memberikan sokongan pelatihan hingga peralatan militer, YPG yang masuk ke dalam aliansi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) menjadi andalan dalam melawan ISIS.

Dukungan Washington kepada YPG menjadi sumber ketegangan hubungan dua negara. Namun, terdapat perbaikan ketika Trump mengumumkan bakal menarik pasukan dari Suriah.

Ankara menyambut baik keputusan yang dibuat pada 19 Desember 2018 setelah Trump dilaporkan berbicara dengan Erdogan melalui telepon.

Baca juga: AS Telah Memulai Proses Penarikan Pasukannya dari Suriah


Terkini Lainnya


Close Ads X