GoFundMe Bakal Kembalikan Donasi Rp 281 Miliar untuk Tembok Perbatasan

Kompas.com - 12/01/2019, 19:53 WIB
Pekerja AS mengganti pagar dengan dinding baja baru yang lebih tinggi di sepanjang perbatasan antara Ciudad Juarez dan Sunland Park, New Mexico, di wilayah Juarez, negara bagian Chihuahua, Meksiko pada 12 September 2016.AFP Pekerja AS mengganti pagar dengan dinding baja baru yang lebih tinggi di sepanjang perbatasan antara Ciudad Juarez dan Sunland Park, New Mexico, di wilayah Juarez, negara bagian Chihuahua, Meksiko pada 12 September 2016.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Platform donasi GoFundMe mengumumkan bakal mengembalikan sumbangan yang diberikan bagi pembangunan tembok perbatasan Amerika Serikat (AS).

Sebabnya seperti dilansir CNN Sabtu (12/1/2019), kampanye donasi yang diluncurkan ternyata tidak mencapai target yang ditetapkan.

Kampanye penggalangan dana itu awalnya diluncurkan oleh Brian Kolfage, seorang veteran Angkatan Udara sekaligus motivator pada Desember lalu.

Baca juga: Trump ke Perbatasan AS-Meksiko untuk Yakinkan Pembangunan Tembok

Dia menargetkan donasi itu bisa mengumpulkan dana sebesar 1 miliar dollar AS, sekitar Rp 14 triliun, yang kemudian bakal diserahkan ke Gedung Putih.

Dengan estimasi 64 juta warga AS memilih Donald Trump, mereka seharusnya cukup membayar 80 dollar AS, atau Rp 1,1 juta, sehingga targetnya tercapai.

Namun hingga Jumat (11/1/2019), dana yang terkumpul baru 20 juta dollar, sekitar Rp 281,9 miliar. Bahkan kurang dari 10 persen target yang ditetapkan.

Dalam keterangan resminya, GoFundMe menjelaskan bahwa kampanye itu memang didesain mereka bakal mendapat sesuai target, atau tidak sama sekali.

"Si pembuka donasi dengan jelas menuliskan jika mereka tidak mencapai target, bahkan sekadar mendekati 1 miliar dollar, maka uang pendonor bakal dikembalikan," ulas GoFundMe.

Karena tidak menyentuh donasi, GoFundMe menyatakan uang dari netizen yang menjadi pendonor bakal segera dikembalikan.

Meski begitu, CNN melaporkan laman donasi itu masih bisa diakses pada Sabtu ini dengan pendonor masih bisa melakukan sumbangan.

Terkait fakta itu, GoFundMe menuturkan adalah hak Kolfage untuk menentukan kapan dia bakal segera menutup laman donasinya itu.

Dalam wawancara dengan New York Times, Kolfage berkata melakukan donasi kepada pemerintah harus membutuhkan persetujuan Kongres.

Dia sangsi donasi itu bakal mulus diberikan karena oposisi dari Partai Demokrat yang kini menguasai House of Representatives tidak akan membiarkannya.

Karena itu, dia membuat organisasi non-profit We Build the Wall yang nantinya bakal mendanai sektor swasta untuk membangun tembok di perbatasan Meksiko.

Keamanan perbatasan menjadi salah satu isu utama yang dibawa Trump ketika berkampanye dalam pemilihan presiden tiga tahun silam.

Namun, upayanya untuk mendapatkan dana 5,7 miliar dollar AS, sekitar Rp 803, triliun, mendapatkan penolakan dari Demokrat.

Trump membalasnya dengan menolak menandatangani sebagian pengeluaran negara yang berujung kepada penutupan layanan pemerintahan ( shutdown) secara parsial.

Shutdown yang terjadi sejak 22 Desember itu telah memasuki hari ke-22 Sabtu ini, dan menjadikannya shutdown terpanjang dalam sejarah AS.

Baca juga: Shutdown Era Trump Jadi yang Terpanjang dalam Sejarah AS


Terkini Lainnya

Prabowo Singgung Tuduhan Kepadanya, Mulai dari Radikal hingga Zionis

Prabowo Singgung Tuduhan Kepadanya, Mulai dari Radikal hingga Zionis

Nasional
Hilang sejak Januari, Seorang Blogger Vietnam Ternyata Dipenjara di Hanoi

Hilang sejak Januari, Seorang Blogger Vietnam Ternyata Dipenjara di Hanoi

Internasional
KPU Batalkan Keikutsertaan Partai Berkarya di 2 Kabupaten, Ini Kata Priyo Budi

KPU Batalkan Keikutsertaan Partai Berkarya di 2 Kabupaten, Ini Kata Priyo Budi

Nasional
Tanya Alamat, Seorang Pria Ditodong Golok dan HP Dirampok Pedagang Asongan di Tanjung Duren

Tanya Alamat, Seorang Pria Ditodong Golok dan HP Dirampok Pedagang Asongan di Tanjung Duren

Megapolitan
Kisah Taufik, Bocah Disabilitas dari Lombok yang Jadi Pahlawan Warga Malaysia

Kisah Taufik, Bocah Disabilitas dari Lombok yang Jadi Pahlawan Warga Malaysia

Regional
7 Fakta Hasil Survei Litbang 'Kompas', Unggul di Wilayah Basis hingga Soal Militansi Pendukung

7 Fakta Hasil Survei Litbang "Kompas", Unggul di Wilayah Basis hingga Soal Militansi Pendukung

Regional
Tawon Vespa Affinis yang Tewaskan Warga Klaten Muncul di Jakarta, Ini Penjelasannya...

Tawon Vespa Affinis yang Tewaskan Warga Klaten Muncul di Jakarta, Ini Penjelasannya...

Megapolitan
Upaya RSJ dan KPU agar Pemilu bagi Pasien Gangguan Jiwa Bebas Intervensi

Upaya RSJ dan KPU agar Pemilu bagi Pasien Gangguan Jiwa Bebas Intervensi

Regional
Antisipasi Banjir di Bantul, Sri Sultan HB X Wacanakan Bangun Embung

Antisipasi Banjir di Bantul, Sri Sultan HB X Wacanakan Bangun Embung

Regional
MK Segera Gelar Uji Materi soal Surat Suara untuk Pemilih Pindah TPS

MK Segera Gelar Uji Materi soal Surat Suara untuk Pemilih Pindah TPS

Nasional
Mengaku Punya Penyakit, Romahurmuziy Minta Berobat di Luar KPK

Mengaku Punya Penyakit, Romahurmuziy Minta Berobat di Luar KPK

Nasional
Bakal Jadi 'Park and Ride' untuk Stasiun MRT, Begini Kondisi Lahan Jakarta Tourisindo

Bakal Jadi "Park and Ride" untuk Stasiun MRT, Begini Kondisi Lahan Jakarta Tourisindo

Megapolitan
Wiranto: Pemilu 2019 Ajang Memilih Pemimpin, Bukan Mengadu Pemimpin

Wiranto: Pemilu 2019 Ajang Memilih Pemimpin, Bukan Mengadu Pemimpin

Nasional
Polisi Korsel Tahan 2 Pria dalam Kasus Kamera Tersembunyi di Hotel

Polisi Korsel Tahan 2 Pria dalam Kasus Kamera Tersembunyi di Hotel

Internasional
Romahurmuziy Minta Kasus yang Menjeratnya Tak Dikaitkan dengan PPP

Romahurmuziy Minta Kasus yang Menjeratnya Tak Dikaitkan dengan PPP

Nasional

Close Ads X