Tentara China Jalani Lebih dari 18.000 Latihan Militer Selama 2018

Kompas.com - 10/01/2019, 22:48 WIB
Pasukan militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China saat menjalani latihan militer gabungan dengan angkatan bersenjata Kamboja, Maret 2018.SCMP / WEIBO Pasukan militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China saat menjalani latihan militer gabungan dengan angkatan bersenjata Kamboja, Maret 2018.

BEIJING, KOMPAS.com - China diperkirakan bakal terus meningkatkan agenda latihan militernya pada 2019, tahun dengan tantangan geopolitik yang semakin meningkat dan adanya peringatan penting bagi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Tantangan geopolitik meningkat seiring dengan ketegangan dan perang ekonominya dengan Amerika Serikat. Selain itu, pada 1 Oktober 2019, bertepatan dengan 70 tahun proklamasi Republik Rakyat China.

Tak hanya pada tahun ini, sepanjang 2018 lalu, sekitar 2 juta personil tentara China juga telah terlibat dalam lebih dari 18.000 latihan berskala kecil maupun besar. Demikian dilaporkan Xinhua.

Laporan tersebut tidak menyertakan data dari 2017 untuk perbandingan. Namun media pemerintah tersebut menuliskan bahwa PLA telah menggelar sekitar 100 latihan berskala besar pada 2016.

Baca juga: Perintah Pertama Presiden Xi kepada Militer China di 2019: Bersiaplah untuk Perang

Media militer China, PLA Daily, pada Selasa (8/1/2019), melaporkan bahwa seluruh resimen di seluruh negeri telah mulai melancarkan latihan tempur setelah Presiden Xi Jinping menyampaikan perintah militer pertamanya di tahun ini, pekan lalu.

Surat kabar itu juga memuat kritikan terhadap personil militer China yang telah mulai mengabaikan kesiapan perang dan mendesak agar dilakukannya latihan lebih keras.

"Beberapa perwira dan juga prajurit.. berpikir mereka dapat menikmati tahun-tahun pelayanan mereka dalam damai, dan beberapa unit telah melupakan misi mereka untuk berperang."

"Mereka telah mengabaikan tanggung jawab mereka untuk mempersiapkan perang, yang akan mengakibatkan inkompetensi," tulis media tersebut, seperti dikutip SCMP.

Pensiunan PLA, Kolonel Yue Gang mengatakan, latihan perang kemungkinan bakal lebih intens seiring dengan berjalannya reformasi militer Xi.

Presiden sekaligus kepala militer China itu telah meluncurkan perombakan besar-besaran terhadap PLA pada 2015 untuk menjadikannya kekuatan tempur yang lebih modern.

"Dengan restrukturisasi total dan pelatihan dasar secara terus menerus di tingkat bawah, latihan perang yang lebih besar dan kompleks, maka ini adalah saatnya untuk menguji kekuatan tersebut,' kata Yue.

Ditambahkan Yue, militer China terakhir kali menghadapi pertempuran yang sesungguhnya pada 1990 dalam konflik perbatasan dengan Vietnam.

" Militer yang belum mengalami peperangan yang nyata pasti akan menjadi malas dan mengalami kemunduran," kata dia.

Baca juga: Militer China Gelar Latihan di Tiga Wilayah Perairan yang Berbeda

Pengamat juga menilai, ajang latihan militer gabungan yang dijalani PLA beberapa waktu belakangan sebagai diplomasi militer dan tidak benar-benar membangun kapasitas tempur.

Tahun lalu, sebanyak 3.200 tentara China ikut terlibat dalam latihan militer terbesar Rusia dalam 35 tahun terakhir, Vostok-18. Namun sebelumnya, AS telah membatalkan undangan kepada Beijing untuk ambil bagian dalam latihan perang Rimpac di Hawaii.

"Sebagian besar agenda latihan bersama adalah bentuk diplomasi militer. Hanya beberapa yang benar-benar bertujuan untuk membangun kapasitas tempur militer," kata Zhou Chenming, seorang pengamat militer China.




Close Ads X