Republik Afrika Tengah Kirim 1.300 Tentara ke Rusia untuk Latihan Militer

Kompas.com - 10/01/2019, 18:54 WIB
Personil tentara Republik Afrika Tengah saat upacara di kamp militer di Bangui, yang dihadiri Presiden Faustin-Archange Touadera, pada Februari 2018.AFP / CHARLES BOUESSEL Personil tentara Republik Afrika Tengah saat upacara di kamp militer di Bangui, yang dihadiri Presiden Faustin-Archange Touadera, pada Februari 2018.

BANGUI, KOMPAS.com - Republik Afrika Tengah telah mengirimkan lebih dari 1.000 personil tentaranya ke Rusia untuk menjalani pelatihan militer.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Republik Afrika Tengah, Marie Noelle Koyara dalam sebuah wawancara yang dirilis kantor berita Rusia, RIA Novosti, Kamis (10/1/2019).

Menurut Koyara, hingga akhir tahun lalu, militer Republik Afrika Tengah telah mengirimkan hingga 1.300 personil tentaranya untuk berlatih di fasilitas milik Rusia.

Pengaruh Rusia di Republik Afrika Tengah telah semakin meningkat sejak 2017, ketika pemerintahan negara itu yang didukung PBB, menyerukan permintaan bantuan asing untuk memerangi milisi yang mengamuk di seluruh negeri.

Baca juga: PBB: 6 Petugas Bantuan di Afrika Tengah Tewas Diserang Pemberontak

Moskwa telah memasok persenjataan, perwira militer, instruktur militer, dan penasihat keamanan untuk bekerja dengan Presiden Afrika Tengah, Faustin-Archange Touadera.

Rusia telah mengutus setidaknya 170 personil untuk memberikan pelatihan militer terhadap tentara Afrika Selatan.

"Sampai bulan ini, 1.300 tentara, termasuk kepala staf umum kami telah mengikuti pelatihan di Rusia," ujar Koyara, tanpa memberi rincian lebih lanjut.

"Sejak tentara yang dilatih Rusia dikerahkan ke lapangan, situasinya tidak hanya stabil, tetapi juga semakin membaik," tambahnya, seperti dilansir AFP.

Disampaikan Koyara, Rusia juga telah membangun pusat pelatihan di bekas istana kepresidenan di Berengo, sebelah barat ibu kota Bangui, yang dibuka tahun lalu.

Di fasilitas tersebut, tentara Afrika Selatan dilatih untuk menjadi pasukan militer yang sebenarnya.

"Jika diperlukan, pusat di Berengo ini dapat diperluas karena telah terbukti efektif sebagai pusat pelatihan," ujar Koyara dalam sambutannya.

Republik Afrika Tengah memiliki hubungan dengan Perancis dan Rusia yang disebut Koyara sebagai mitra negara.

Sementara pasukan milisi telah mulai saling bertikai sejak tergulingnya pemerintahan Francois Bozize pada 2013.

Embargo persenjataan yang diberlakukan PBB sejak saat itu bahkan telah dicabut secara eksklusif demi Rusia.

Meski Presiden Touadera telah terpilih pada 2016, sebagian besar wilayah Afrika Tengah tetap dikuasai kelompok-kelompok bersenjata.

Sementara dikabarkan media Rusia maupun Barat, pelatih militer yang dikirim oleh Moskwa adalah tentara bayaran yang memiliki hubungan dekat dengan perusahaan pertambangan Rusia.

Baca juga: Truk Sarat Muatan Kecelakaan, 78 Orang Tewas di Afrika Tengah




Close Ads X