Kompas.com - 10/01/2019, 07:55 WIB

BANGKOK, KOMPAS.com — Rahaf Mohammed Al-Qunun, gadis 18 tahun asal Arab Saudi, menghebohkan jagat dunia maya karena ditahan di Bandara Bangkok, Thailand, saat mencoba menuju Australia.

Rahaf kabur dari keluarganya untuk mencari suaka di Australia. Jika dideportasi, dia takut akan mendapat perlakuan buruk dan bahkan dibunuh.

Badan Pengungsi PBB, UNHCR, bahkat turun tangan untuk membantu situasi yang dihadapi perempuan itu.

Otoritas Australia mengonfirmasi, Rahaf sebagai pengungsi yang sah dan UNHCR telah meminta Australia untuk bisa menerimanya.

Baca juga: Ditolak Masuk Thailand, Perempuan Saudi Takut Dibunuh jika Dipulangkan

Lalu siapakah Rahaf? BBC melaporkan, tidak banyak yang diketahui tentang siapa sebenarnya gadis tersebut.

Namun, dia diketahui sebagai putri dari gubernur al-Sulaimi di Arab Saudi bagian utara.

Rahaf mengaku mendapat perlakuan kekerasan fisik dan psikologis dari keluarganya.

Kepala Polisi Imigrasi Thailand Surachate Hakparn menyatakan, ayah gadis itu membantah telah menyiksa putrinya atau memaksanya menikah.

Time mewartakan, sang ayah disebut tetap ingin putrinya kembali. Namun, dia tetap menghormati keputusannya.

"Dia punya 10 anak. Dia bilang, anak perempuannya itu terkadang merasa diabaikan. Tapi dia tidak merinci lebih lanjut," ucap Surachate.

Rahaf menolak untuk bertemu dengan ayahnya, yang tiba di Bangkok pada Selasa lalu. Dia mengaku takut dengan pertemuan semacam itu.

Seperti diketahui, Rahaf tiba di Bangkok dari Kuwait pada Sabtu (5/1/2019) malam. Tapi dia tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Australia sesuai rencana.

AFP mewartakan, Rahaf kemudian membagikan informasi terkini tentang upaya pelarian diri dari keluarganya menit demi menit di media sosial.

Nasibnya menjadi perhatian publik yang mengurung diri di kamar hotel bandara Bangkok untuk menghindari deportasi. Dia menegaskan haknya untuk mendapatkan suaka.

Baca juga: Australia akan Pertimbangkan Permohonan Suaka Gadis Saudi yang Kabur

Cuplikan video yang diunggah oleh aktivis hak asasi manusia menunjukkan seorang pejabat Saudi mengeluhkan tentang Pemerintah Thailand yang seharusnya menyita ponsel Rahaf.

"Ketika dia tiba, dia buat akun baru dan pengikutnya bertambah menjadi 45.000 dalam sehari," katanya, seperti yang terdengar dalam video tersebut.

"Akan lebih baik jika mereka menyita ponselnya ketimbang paspornya," ucapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber BBC,Time,AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.