Kompas.com - 09/01/2019, 06:01 WIB

Mereka biasanya melayani kaum bangsawan atau kalangan istana, sehingga dilindungi oleh hukum negara. Tidak ada pelanggan yang dapat memukul atau memberi sanksi jika Ganika menolak melayani tamunya.

Selain itu, kecantikan para Ganika membuat banyak puisi atau lagu yang tercipta untuk mereka.

7. Zonah

Zonah merujuk pada pelaku prostitusi dalam kitab Ibrani. Tak seperti perempuan dalam budaya Ibrani, mereka tidak "dimiliki" oleh seorang pria dan tidak bertanggung jawab untuk menghasilkan anak-anak untuk membawa garis keluarga.

Memang tak banyak ayat dalam kitab Ibrani yang menyebut mengenai Zonah.

Dalam kitab itu hanya disebut mengenai larangan seorang ayah untuk menjual anaknya ke lingkar prostitusi. Ada juga yang menyebut bahwa jika anak pendeta terjerat sebagai Zonah, maka dihukum dengan cara dibakar.

Para pemuka agama juga dilarang untuk menikahi Zonah. Hanya orang biasa yang bisa menikahi mereka.

8. Hetaira

Hetaira adalah pelaku prostitusi kelas tinggi di Athena. Saat itu, prostitusi dilegalkan, namun pelakunya tak boleh menjadi warga Athena.

Ini menyebabkan Hetaira kebanyakan dianggap sebagai budak atau berasal dari orangtua yang bukan warga Athena.

Hetaira tak bekerja secara "diam-diam", melainkan juga hadir dalam keramaian di sebuah simposium.

Mereka dilarang menikahi warga negara, tetapi bisa dibeli dan dibebaskan oleh satu orang meskipun praktik itu tidak disukai.Status mereka sebagai Hetaira tidak akan pernah dihapus. Jika mereka tertangkap berpura-pura menjadi warga negara, maka akan diseret ke pengadilan.

Mereka yang terbukti bersalah biasanya akan kembali diperlakukan sebagai budak.

Hetaira sering dijadikan "simpanan" orang-orang kuat di Athena saat itu.

Karena memiliki bentuk tubuh yang elegan dan kecantikan yang luar biasa, banyak para Hetaira yang dijadikan model dalam pembuatan patung Aphrodite.

9. Tawaif

Para tawaif dikenal sebagai seniman pertunjukan di India Utara selama abad ke-18 hingga awal ke-20. Sama seperti geisha, mereka adalah penari dan musisi.

Stigma sebagai pelaku prostitusi tak serta merta ditujukan kepadanya. Pengguna "jasa" mereka pun biasanya tak dianggap sebagai "klien", melainkan patron. 

Jika mereka memiliki anak perempuan dapat meneruskan kekayaannya, juga seringkali profesinya.

Para Tawaif dilarang menikah, tetapi bisa masuk ke dalam jenis hubungan formal dengan patronnya, namun bukan sebagai istri sah.

Uniknya, sang istri dan Tawaif kerap dianggap sebagai dua sisi mata uang. Istri patron menjadi pendamping tradisional sebagai penerus garis keluarga, sedangkan Tawaif hanya memenuhi kebutuhan sensual.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.