Kado Tahun Baru Uni Soviet, Tu-144 Jadi Pesawat Supersonik Sipil Pertama - Kompas.com

Kado Tahun Baru Uni Soviet, Tu-144 Jadi Pesawat Supersonik Sipil Pertama

Kompas.com - 31/12/2018, 16:07 WIB
Tupolev Tu-144NASA.gov/public domain Tupolev Tu-144

KOMPAS.com - Selama ini banyak orang tahu bahwa pesawat supersonik yang digunakan untuk penerbangan sipil hanya Concorde. Pesawat itu terkenal mampu terbang melebihi kecepatan suara, sehingga membawa orang lebih cepat dari pesawat biasa.

Namun, sebenarnya, pesawat supersonik untuk penerbangan sipil pertama dunia sebenarnya adalah Tupolev Tu-144 milik Uni Soviet (kini Rusia). Tu-144 dibangun bersamaan dengan Concorde, tapi Uni Soviet lebih unggul dalam hal waktu.

Tu-144 akhirnya mampu terbang lebih dulu. Memiliki bentuk yang hampir sama dengan Concorde, Tu-144 juga melayani penumpang lintas benua dan bahkan dunia.

Berikut perjalanan seputar Tupolev Tu-144 yang perlu Anda ketahui:


1. Dikembangkan oleh Uni Soviet

Andrey N. Tupolev (Desainer Tupolev)Britannica Andrey N. Tupolev (Desainer Tupolev)
Pengembangan Concorde merupakan hasil kerja sama yang epik antara beberapa negara, salah satunya adalah Inggris dan Perancis. Kedua negara itu saling berbagi tugas untuk membuat pesawat supersoniknya.

Namun, Tupolev Tu-144 merupakan mahakarya Uni Soviet. Ketika itu, negara ini terkenal dengan penemuan-penemuan yang serba besar dan serba luar biasanya.

Pesawat itu didesain dan dibuat oleh Andrey N Tupolev dan Alexey yang memiliki keinginan untuk menghadirkan kecepatan dan efisiensi waktu terhadap seseorang untuk hadir ke tempat tertentu.

Desain badan pesawat sangat mirip dengan Concorde, dan ada anggapan kalau proyek Tu-144 meniru Concorde. Namun, pada sesi akhirnya bentuknya berbeda dan Uni Soviet membantah anggapan tersebut.

Tupolev Tu-144 menggunakan sayap delta ganda yang sangat khas. Dalam produksinya, Tu-144 memiliki panjang 65,7 meter dan lebar sayap 28,8 meter. Kecepatannya hampir sama dengan Concorde buatan Inggris dan Perancis.

Baca juga: Pesawat Supersonik hingga Kapal Nuklir, Ini 5 Proyek Luar Biasa Uni Soviet

2. Mengudara pada 31 Desember 1968

Pesawat pertama Tu-144 terbang pada tanggal 31 Desember 1968. Tercatat dua bulan lebih awal dari Concorde. Keberhasilan penerbangan ini menjadi kado tahun baru bagi Uni Soviet ketika itu.

Selain itu, Tu-144 pertama kali mencapai kecepatan supersonik empat bulan lebih awal dari Concorde pada Juni 1969.

Penerbangan penumpang terjadwal dimulai pada 1977. Pesawat ini mengangkut surat antara Moskwa dan ibukota Kazakhtan, Alma-Ata (sekarang Almaty).

Perakitan Tupolev Tu-144tupolev.ru Perakitan Tupolev Tu-144
Dua tahun kemudian ia mengangkut penumpang pertamanya di rute yang sama. Penerbangan 3.200 kilometer memakan waktu sekitar dua jam, dua kali lebih cepat dari yang biasa.

Pembuat Tu-144 punya rencana besar untuk dalam pengembangan teknologi supersoniknya. Namun, pesawat ini kalah pamornya ketimbang Concorde.

Jalur udara pesawat ini terhubung dari Moskwa ke seluruh dunia termasuk Eropa, Jepang dan Kuba. Dalam perjalanannya, pesawat ini mengeluarkan sonic boom yang dapat memecahkan kaca pada benda yang berada di bawah pesawat.

Baca juga: 18 Desember 1981, Penerbangan Pesawat Supersonik Tempur Terbesar Dunia

3. Meminta Bantuan Inggris

Pesawat Concorde ketika terbangDok. Kompas Pesawat Concorde ketika terbang

Pada 1977, beberapa sumber menyatakan bahwa Uni Soviet meminta bantuan negara Barat untuk membantu mereka dengan sistem manajemen mesin dan BAC-Aerospatiale untuk bantuan dalam mendesain pipa udara udara pada Tu-144.

Kemudian, pada 1978, mereka meminta lebih banyak lagi informasi mengenai teknologi Concorde seperti peralatan pemadam kebakaran hingga berbagai peralatan canggih.

Pemerintah Inggris memveto permintaan ini, karena teknologi itu dapat digunakan dalam pesawat militer dan dianggap berbahaya.

4. Masalah mulai timbul

Tupolev Tu-144 nampak dari depanReddit Tupolev Tu-144 nampak dari depan

Awal mulanya, pesawat ini sangat menjanjikan. Namun, dalam perjalannya pesawat sering mengecewakan.

Pada pameran udara Paris Air Show, Tu-144, jatuh dan menewaskan 6 orang di pesawat dan 8 orang penonton. Peristiwa itu memberikan nilai minus akan teknologi pesawat ini.

Dalam perkembangannya, Tu-144 terkendala sejumlah masalah. Badan pesawat itu dibuat dari bahan yang besar dan berat, berbeda dengan iklan yang beredar.

Selain itu, muncul juga masalah mengenai badan Tu-144 yang sering menunjukan retakan setelah uji coba terbang. Semakin lama retakan semakin melebar. Para insinyur tidak dapat memperbaiki masalah ini dengan cepat mereka harus mendesain ulang sepenuhnya.

Masalah lainnya adalah para penumpang mengaku kurang nyaman. Tingkat kebisingan di dalamnya sangat tinggi, sehingga para penumpang bahkan tidak dapat mengobrol di kabin pesawat.

5. Akhir kejayaan

Karena beberapa kali mengalami kecelakaan, Tu-144 mengakhiri karier mengangkut penumpang setelah hanya beberapa tahun mengudara.

Dari 102 penerbangan dan 181 jam di udara, Tupolev Tu-144 mengalami beberapa kecelakaan. Bahkan 80 dari 226 masalah terjadi saat berada di udara.

Uni Soviet membangun 16 Tupolev Tu-144. Empat belas di antaranya layak terbang, sementara dua lainnya dibangun sebagai prototipe.

Pesawat ini pensiun pada 1990 setelah membawa kargo. Kariernya lebih cepat empat tahun untuk pensiun ketimbang Concorde.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya

Dapat Adipura Kategori Pasar, Ini Tanggapan Wali Kota Jakarta Selatan

Dapat Adipura Kategori Pasar, Ini Tanggapan Wali Kota Jakarta Selatan

Megapolitan
Datangi KPK, Menteri Kesehatan Bahas Kajian Tata Kelola Alat Kesehatan

Datangi KPK, Menteri Kesehatan Bahas Kajian Tata Kelola Alat Kesehatan

Nasional
Saat Uni Soviet Mengorbankan Anjing untuk Mengalahkan Tank Jerman

Saat Uni Soviet Mengorbankan Anjing untuk Mengalahkan Tank Jerman

Internasional
Komnas HAM: Presiden Terpilih Bertanggung Jawab Selesaikan Kasus Pelanggaran HAM Berat

Komnas HAM: Presiden Terpilih Bertanggung Jawab Selesaikan Kasus Pelanggaran HAM Berat

Nasional
Muhibah Pinisi Bakti Nusa, Menautkan Kepulauan Nusantara

Muhibah Pinisi Bakti Nusa, Menautkan Kepulauan Nusantara

Regional
Kasus Bupati Cianjur, KPK Panggil Empat Kepala Sekolah

Kasus Bupati Cianjur, KPK Panggil Empat Kepala Sekolah

Nasional
Parlemen Venezuela Ajak Militer dan Pejabat Sipil Melawan Maduro

Parlemen Venezuela Ajak Militer dan Pejabat Sipil Melawan Maduro

Internasional
Jokowi Bertemu Ketum Parpol, PSI Makin Yakin Jokowi Unggul di Debat

Jokowi Bertemu Ketum Parpol, PSI Makin Yakin Jokowi Unggul di Debat

Nasional
Komnas HAM Duga Pelaku Pembunuhan Dukun Santet Tahun 1998-1999 Orang Terlatih

Komnas HAM Duga Pelaku Pembunuhan Dukun Santet Tahun 1998-1999 Orang Terlatih

Nasional
Pengalaman Mencoba Akses WiFi Gratis di Stasiun Jabodetabek...

Pengalaman Mencoba Akses WiFi Gratis di Stasiun Jabodetabek...

Megapolitan
Berpose dengan Senapan, Perempuan Ini Mengaku Tak Sengaja Tembak Pacarnya

Berpose dengan Senapan, Perempuan Ini Mengaku Tak Sengaja Tembak Pacarnya

Internasional
Sarana dan Prasarana Canggih yang Akan Dibangun di TPST Bantargebang

Sarana dan Prasarana Canggih yang Akan Dibangun di TPST Bantargebang

Megapolitan
Konsulat Malaysia Tak Kirim Bantuan Hukum untuk Warganya yang Terjerat Kasus Pijat Ilegal

Konsulat Malaysia Tak Kirim Bantuan Hukum untuk Warganya yang Terjerat Kasus Pijat Ilegal

Regional
4 Fakta Pengedar yang Simpan dan Konsumsi Narkoba di Sekolah Jakarta Barat

4 Fakta Pengedar yang Simpan dan Konsumsi Narkoba di Sekolah Jakarta Barat

Megapolitan
Status Siaga, Gunung Soputan Keluarkan Asap hingga 100 Meter dari Puncak

Status Siaga, Gunung Soputan Keluarkan Asap hingga 100 Meter dari Puncak

Regional

Close Ads X