Trump Salahkan Partai Demokrat atas Kematian Dua Bocah Migran

Kompas.com - 30/12/2018, 19:24 WIB
Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan di Gedung Putih, Washington DC, mengenai agresi militer terhadap Suriah, Jumat (13/4/2018). AFP PHOTO/MANDEL NGANPresiden AS Donald Trump memberikan pernyataan di Gedung Putih, Washington DC, mengenai agresi militer terhadap Suriah, Jumat (13/4/2018).

 WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut kematian dua bocah migran dalam tahanan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) akibat kesalahan Partai Demokrat.

"Setiap kematian anak-anak atau orang lain di perbatasan sepenuhnya kesalahan Demokrat dan kebijakan imigrasi mereka," kicaunya di Twitter, Sabtu (29/12/2019).

Trump menilai, kebijakan imigrasi memungkinkan migran melakukan perjalanan panjang dengan harapan dapat memasuki AS secara ilegal.

Baca juga: AS Sedang Shutdown, Trump Pilih Tak Rayakan Tahun Baru

"Mereka tidak bisa. Jika kita tidak memilih tembok, mereka bahkan tidak akan mencoba," imbuhnya.

 

CNN melaporkan, seorang bocah laki-laki usia 8 tahun asal Guatemala meninggal dunia pada malam Natal di Gerald Champion Regional Medical Center di Alamogordo, New Mexico.

Bocah itu diidentifikasi sebagai Felipe Gomez Alonzo. Dia sempat dibawa ke rumah sakit setelah petugas perbatasan melihat tanda-tanda penyakit dalam dirinya.

"Anak itu ditahan selama 90 menit tambahan untuk pemeriksaan dan kemudian dikeluarkan dari rumah sakit pada 24 Desember sore dengan resep amoxicilin dan Ibuprofen," demikian pernyataan CBP.

Diwartakan Fox News, petugas perbatasan mendapati Alonzo menderita batuk-batuk .Dia didiagnosis menderita demam dan suhu tubuhnya mencapai 103 derajat Fahrenheit.

Setelah mendapat dengan resep obat, dia masih sakit dan selanjutnya meninggal di rumah sakit.

Alonzo meninggal dunia usai kematian bocah perempuan usia 7 tahun bernama Jakelin Caal Maquin pada bulan ini.

Gadis cilik yang juga berasal dari  Guatemala itu mengalami dehidrasi karena tidak makan atau minum selama beberapa hari sebelum dia ditahan.

Baca juga: Trump Ancam Tutup Perbatasan Meksiko jika Tak Bisa Bangun Tembok

Seperti diketahui, keinginan Trump untuk menekan pembangunan tembok perbatasan menyebabkan terjadinya "shutdown" di pemerintahan.

Hal tersebut terjadi setelah buntunya soal pendanaan tembok perbatasan antara Partai Republik dan Partai Demokrat, sesuai dengan janji kampanye Trump pada 2016 lalu.

Trump meminta pendanaan senilai 5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 72,8 triliun, namun Demokrat tidak akan sepakat jika biaya keamanan perbatasan melebihi 1,3 miliar dollar AS atau Rp 18,9 triliun.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Sumber CNN,Fox News
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kerusuhan India: Kisah Pria yang Dipukuli karena Berjenggot dan Pakai Gamis

Kerusuhan India: Kisah Pria yang Dipukuli karena Berjenggot dan Pakai Gamis

Internasional
Dampak Virus Corona, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Liburkan Pegawainya Tanpa Dibayar

Dampak Virus Corona, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Liburkan Pegawainya Tanpa Dibayar

Internasional
Arab Saudi Tangguhkan Visa Umrah, Ini Negara Tetangganya yang Positif Virus Corona

Arab Saudi Tangguhkan Visa Umrah, Ini Negara Tetangganya yang Positif Virus Corona

Internasional
Kerusuhan India, 23 Orang Tewas dalam Demo Menentang UU Kewarganegaraan

Kerusuhan India, 23 Orang Tewas dalam Demo Menentang UU Kewarganegaraan

Internasional
23 Orang Tewas di Kerusuhan India, tapi Ada Juga Demo yang Berlangsung Sunyi

23 Orang Tewas di Kerusuhan India, tapi Ada Juga Demo yang Berlangsung Sunyi

Internasional
Keturunan WNI Tanpa Identitas di Malaysia Bertemu Ibu Kandung Setelah 15 Tahun

Keturunan WNI Tanpa Identitas di Malaysia Bertemu Ibu Kandung Setelah 15 Tahun

Internasional
Mahathir Mohamad Merasa Belum Waktunya Mundur

Mahathir Mohamad Merasa Belum Waktunya Mundur

Internasional
Korban Meninggal karena Virus Corona di Iran Bertambah Empat, Total Ada 19

Korban Meninggal karena Virus Corona di Iran Bertambah Empat, Total Ada 19

Internasional
Mahathir Mohamad Ingin Bentuk Pemerintahan yang Pro pada Kepentingan Nasional

Mahathir Mohamad Ingin Bentuk Pemerintahan yang Pro pada Kepentingan Nasional

Internasional
Virus Corona, Perancis Umumkan Kematian Pertama dari Warga Negaranya

Virus Corona, Perancis Umumkan Kematian Pertama dari Warga Negaranya

Internasional
Pertama Kalinya, Liga Sepak Bola Putri Arab Saudi Diluncurkan

Pertama Kalinya, Liga Sepak Bola Putri Arab Saudi Diluncurkan

Internasional
Cerita Warga Codogno, Kota Berjuluk 'Wuhannya Italia', di Tengah Wabah Virus Corona

Cerita Warga Codogno, Kota Berjuluk "Wuhannya Italia", di Tengah Wabah Virus Corona

Internasional
Kerusuhan New Delhi Kian Mencekam, Total 20 Orang Tewas

Kerusuhan New Delhi Kian Mencekam, Total 20 Orang Tewas

Internasional
Wabah Virus Corona, Ritual Rabu Abu di Filipina Berubah

Wabah Virus Corona, Ritual Rabu Abu di Filipina Berubah

Internasional
Tentara AS yang Bertugas di Korea Selatan Terinfeksi Virus Corona

Tentara AS yang Bertugas di Korea Selatan Terinfeksi Virus Corona

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X