Kompas.com - 28/12/2018, 18:08 WIB

DAMASKUS, KOMPAS.com - Milisi Kurdi Suriah dilaporkan meminta bantuan kepada pemerintahan Presiden Bashar al-Assad dan juga Rusia.

Permintaan itu disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana penarikan pasukan dari Suriah.

Baca juga: Uni Emirat Arab Buka Kembali Kedutaan Besar di Suriah setelah 7 Tahun

Dilansir Newsweek Kamis (27/12/2018), Pasukan Demokratik Suriah (SDF) menjadi tulang punggung AS dalam memerangi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Namun penarikan pasukan AS dari Suriah membuat SDF, terutama Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), rentan terhadap serangan Turki.

Karena itu, sayap politik SDF mengirim delegasi ke Damaskus dan Moskwa untuk menegosiasikan perlindungan melawan Turki.

Politisi Kurdi Aldar Xelil dikutup Reuters berujar pihakya bakal mengagendakan pertemuan lain untuk meyakinkan rezim Assad untuk membantu mereka.

"Kontak kami dengan Rusia dan juga rezim Suriah dengan jelas bertujuan melindungi perbatasan utara. Kami ingin Rusia juga berperan penting menciptakan stabilitas," ucap Xelil.

Pada 2000, pemerintahan Baathis yang dipimpin ayah Assad, Hafez al-Assad, mempunyai sejarah bekerja sama dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Ankara menganggap PKK sebagai teroris karena konflik yang terjadi dalam 30 tahun terakhir. Adapun YPG dianggap sebagai kepanjangan PKK.

SDF menyebut keputusan Trump untuk memulangkan sekitar 2.000 prajurit AS yang bertugas di Suriah sebagai "tikaman dari belakang".

Sihanouk Dibo, penasihat Partai Persatuan Demokratik Kurdi (PYD) berkata pola hubungan antara pihaknya dengan Suriah adalah peredaan, konfrontasi, dan negosiasi.

Dibo menyebut langkah terakhir merupakan kebijakan yang paling aman, paling disukai, dan tentunya terbaik bagi kedua belah pihak.

"Kami harus berpikir bahwa ini adalah agenda yang membawa semua orang di Suriah menuju kemenangan. Baik rakyat, agama, maupun kebudayaan," tuturnya.

Baca juga: Dalam Pesan Natal, Paus Fransiskus Serukan Damai di Yaman dan Suriah

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Newsweek


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.