Putin: Rudal Hipersonik Terbaru Bakal Hantam Target seperti Bola Api - Kompas.com

Putin: Rudal Hipersonik Terbaru Bakal Hantam Target seperti Bola Api

Kompas.com - 28/12/2018, 14:24 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin.AFP / ALEXEY NIKOLSKY / SPUTNIK Presiden Rusia Vladimir Putin.

MOSKWA, KOMPAS.com - Presiden Rusia Vladimir Putin memuji uji coba terakhir rudal hipersonik Avangard yang dilaksanakan pada Rabu (26/12/2018).

Dari ruang kontrol Kementerian Pertahanan, Putin melihat peluncuran Avangard dari Semenanjung Kamchatka yang berlokasi di kawasan barat Rusia.

Diwartakan SCMP Kamis (27/12/2018), rudal tersebut menghantam target yang berjarak sekitar 5.954 km dalam kecepatan hipersonik, dan diklaim 20 kali kecepatan suara.

Baca juga: Putin Sebut Uji Coba Terakhir Rudal Hipersonik Berlangsung Sukses

"Luar biasa. Hadiah Tahun Baru yang sempurna bagi negara ini," puji Putin yang menambahkan, Avangard bakal beroperasi pada 2019 mendatang.

Avangard merupakan salah satu dari enam senjata strategis yang diperkenalkan Putin dalam pidatonya di pertemuan Dewan Federal 1 Maret lalu.

Dalam pidatonya kala itu, Putin menjelaskan Avangard bisa melaju 20 kali kecepatan suara dan menghindari sistem pertahanan secanggih apapun.

"Avangard bakal menghantam targetnya seperti meteor atau bola api," lanjut mantan agen dinas rahasia Uni Soviet (KGB) tersebut.

Dalam pertemuan kabinet yang disiarkan televisi Risia, presiden 66 tahun itu menuturkan kini Rusia sudah mempunyai senjata strategis baru.

"Ini adalah momen penting dalam perjalanan angkatan bersenjata, dan mungkin, dalam perjalanan negara ini," jelas Putin.

SCMP melansir, tahun ini China sukses menguji coba pesawat hipersonik yang di masa depan bakal membawa rudal sehingga mereka membuat mereka tak terkalahkan.

Kremlin memulai Proyek Avangard pada 2002 setelah Amerika Serikat ( AS) mundur dari Perjanjian Anti- Rudal Balistik 1972.

Mantan Presiden George W Bush memerintahkan pembuatan sistem pertahanan yang bisa menangkal rudal balistik jarak jauh, dan dianggap sebagai pelanggaran perjanjian.

Saat itu, Bush mengatakan tensi Perang Dingin antara AS antara Uni Soviet sudah tidak ada lagi. Saat ini, mereka fokus berbenah pasca-tragedi 11 September 2001 atau 9/11.

"Saat ini, ancaman terbesar datang dari teroris yang bisa saja melakukan serangan tanpa memberikan peringatan," ujar Bush saat itu.

Moskwa khawatir jika sistem pertahanan AS bisa menghancurkan rudal nuklir mereka. Karena itu Presiden Vladimir Putin menginstruksikan proyek senjata hipersonik.

Baca juga: AS Disebut Tak Bisa Melawan Senjata Hipersonik Milik Rusia



Close Ads X