Kompas.com - 28/12/2018, 09:59 WIB

BERLIN, KOMPAS.com - Militer Jerman tengah mempertimbangkan untuk membuka perekrutan anggota spesialis dari negara-negara Uni Eropa lainnya.

Rencana tersebut disampaikan Jenderal Eberhard Zorn, kepala Bundeswehr, militer Jerman, sebagai salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga profesional terlatih.

Tenaga-tenaga spesialis tersebut termasuk pakar teknologi informasi dan dokter. Demikian dikatakan Zorn kepada surat kabar Funke, Kamis (27/12/2018).

Namun rencana tersebut menuai kontroversi karena dianggap hanya akan membangkitkan keberadaan tentara bayaran, daripada pasukan tentara negara yang loyal.

"Ketika angkatan bersenjata Jerman menghadapi kekurangan tenaga profesional terlatih, maka militer perlu melihat semua kemungkinan yang ada," kata Zorn dalam komentar yang dikonfirmasi Bundeswehr, kepada AFP.

Baca juga: Jelang Natal, Jerman Kekurangan Tenaga Ahli untuk Perankan Sinterklas

Jerman telah menyuarakan gagasan tersebut kepada Uni Eropa dan mendapat tanggapan yang beragam. Khususnya negara-negara Eropa Timur yang khawatir rencana tersebut akan merebut spesialis militer mereka sendiri karena tawaran bayaran yang lebih tinggi.

"Tentu saja kita harus berhati-hati jangan sampai Jerman dipandang sebagai pesaing oleh mitra Eropa kita," kata Zorn.

Menurut laporan, salah satu opsi yang bisa dilakukan adalah perekrutan hanya dilakukan dari negara-negara Uni Eropa yang juga sedang mencari rekrutan baru di luar negeri. Sehingga nantinya, perekrutan dilakukan berdasarkan perjanjian bilateral.

Komisioner parlemen pertahanan Jerman, Hans-Peter Bartels, mengatakan, perekrutan warga negara dengan latar belakang migran atau berkewarganegaraan ganda telah menjadi hal yang normal, dengan jumlah mencapai 13 persen dari anggota militer Jerman.

Jerman telah menghapus wajib militer untuk laki-laki dewasa sejak tahun 2011 dan dalam beberapa tahun terakhir kerap mengalami kendala dalam menemukan rekrutmen yang cocok.

Kondisi itu mendorong militer Jerman melakukan kampanye perekrutan baik secara tradisional maupun melalui media sosial.

Menteri Pertahanan Jerman, Ursula von der Leyen mengatakan kepada surat kabar Rheinische Post, saat ini negara menargetkan untuk memiliki 203.000 tentara pada 2025.

Saat ini, kekuatan pasukan militer Jerman telah mencapai 182.000 personil. Jumlah itu meningkat sekitar 6.500 personil dibandingkan 2016, saat kekuatan pasukan militer Jerman jatuh pada titik terendah.

Baca juga: Jerman Desak Uni Eropa Turut Tangguhkan Ekspor Senjata ke Arab Saudi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.