Taliban: AS Harus Pergi atau Bernasib Sama seperti Uni Soviet

Kompas.com - 27/12/2018, 18:20 WIB
Milisi Taliban mendengarkan pidato pemimpin mereka Mullah Abdul Manan Niazi di Provinsi Herat, Afganistan. Associated PressMilisi Taliban mendengarkan pidato pemimpin mereka Mullah Abdul Manan Niazi di Provinsi Herat, Afganistan.

KABUL, KOMPAS.com - Kelompok Taliban mendesak Amerika Serikat ( AS) agar segera angkat kaki dari Afghanistan atau terancam menderita kekalahan.

Pernyataan itu disampaikan juru bicara Taliban Zabiullah Mujahid dalam peringatan 39 tahun peringatan invasi Uni Soviet ke Afghanistan.

Baca juga: Iran Gelar Pembicaraan dengan Taliban

Soviet dan Mujahideen Sunni yang disokong AS serta Arab Saudi terlibat perang antara 24 Desember 1979 hingga 15 Februari 1989.

Penarikan prajurti Soviet mengakhiri upaya pendudukan selama 10 tahun dengan perang sipil masih terus berlanjut serta munculnya Taliban.

Dalam keterangan resmi dalam bahasa Inggris, Dari, dan Pashto, Mujahid menuturkan AS bisa bernasib sama seperti mantan rival era Perang Dingin itu.

"AS jangan pernah menguji keberaniaan orang-orang Afghanistan. Ambil pelajaran kekalahan Soviet dari Afghanistan," koar Mujahid dilansir AFP Kamis (27/12/2018).

Dia berkata hubungan yang bakal terjalin antara AS dan Taliban di masa depan haruslah didasarkan pada diplomasi dan ekonomi, bukan konflik.

Pernyataan itu terjadi setelah muncul laporan Presiden Donald Trump mempertimbangkan untuk menarik setengah pasukan AS di Afghanistan.

Taliban tidak memberikan pernyataan secara formal. Namun komandan senior mereka mengaku gembira dengan laporan tersebut.

Sebab, mereka sejak awal menginginkan pasukan negara asing bisa angkat kaki dari Afghanistan sebagai syarat untuk melangsungkan perundingan damai.

Pertimbangan Trump muncul setelah Utusan Khusus AS Zalmay Khalilzad bertemu delegasi Taliban di Abu Dhabi pada pekan lalu.

Gedung Putih tidak memberi keterangan resmi terkait laporan yang mengejutkan sekaligus mengecewakan para diplomat asing serta pemerintah Afghanistan itu.

Sebab terdapat kekhawatiran keputusan Trump itu merendahkan posisi negosiasi Khalilzad, memenangkan Taliban, dan menghancurkan moral pasukan Afghanistan.

Baca juga: Taliban Rayakan Rencana AS Tarik Pasukan dari Afghanistan



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X