Kompas.com - 24/12/2018, 14:39 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) menyatakan surat perintah penarikan pasukan dari Suriah telah ditandatangani.

Pengumuman pemulangan pasukan AS dari Suriah yang telah dilanda konflik selama tujuh tahun terakhir telah mengagetkan baik politisi AS maupun sekutunya.

Baca juga: Iran: Sejak Awal, Keberadaan Pasukan AS di Suriah Sudah Salah

"Perintah eksekusi terkait keberadaan personel di Suriah sudah diteken," kata seorang juru bicara Pentagon kepada AFP Senin (24/12/2018).

Presiden Donald Trump mengumumkan bakal memulangkan pasukan AS di Suriah setelah sebelumnya mendeklarasikan kemenangan atas Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Trump dalam Twitter-nya menyatakan dia sudah berdiskusi dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melalui sambungan telepon.

Dia dan Erdogan berkoordinasi secara hati-hati untuk menarik pasukan AS di kawasan tersebut. "Setelah bertahun-tahun akhirnya mereka bisa pulang," katanya.

Sementara kantor kepresidenan Turki mengeluarkan pernyataan kedua pemimpin sepakat menghindari kekosongan kekuatan yang bisa menyulut konflik baru di Suriah.

Sikap Trump memantik reaksi dari pakar Kurdi Mutlu Civiroglu. Dia berujar ketika pasukan AS mundur, maka Turki bakal melancarkan operasi militer menargetkan Kurdi.

"Jika itu terjadi, pertumpahan darah bakal kembali terjadi," Civiroglu memperingatkan. Keluhan juga datang dari Presiden Perancis Emmanuel Macron.

Dalam konferensi pers saat kunjungan ke Chad. Macron mengungkapkan kekecewaan dan penyesalan atas keputusan presiden 72 tahun tersebut.

"Menjadi sekutu adalah bertarung sambil melindungi temannya. Itu adalah hal terpenting. Sekutu haruslah bisa diandalkan," kata Macron dilansir Reuters via Newsweek.

Baca juga: Pertanyaan Erdogan Ini Buat Trump Tarik Pasukan dari Suriah

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Newsweek,AFP


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.