Biografi Tokoh Dunia: Sacagawea, Wanita Indian di Ekspedisi AS Halaman 1 - Kompas.com

Biografi Tokoh Dunia: Sacagawea, Wanita Indian di Ekspedisi AS

Kompas.com - 20/12/2018, 22:13 WIB
Sacagawea (paling kanan) ketika bersama Mertwether Lewsi (kiri) dan Wiliam Clark (tengah).via Wikipedia Sacagawea (paling kanan) ketika bersama Mertwether Lewsi (kiri) dan Wiliam Clark (tengah).

KOMPAS.com - Sacagawea adalah perempuan Indian yang berasal dari Suku Lemhi Shonshone, dan merupakan anggota dari Ekspedisi Lewis dan Clark.

Dia merupakan sati-satunya perempuan dalam rombongan ekspedisi itu, dan bertindak sebagai penerjemah serta penunjuk jalan dari Dakota Utara menuju Samudra Pasifik.

Berkat jasanya, ekspedisi itu berhasil mengeksplorasi Teritori Louisiana, dan membangun kontak kebudayaan dengan penduduk asli Amerika lainnya.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Pocahontas, Pendamai Suku Indian dengan Inggris

Dia diabadikan baik dalam literatur maupun film. Antara lain Night at the Museum yang dibintangi Robin Williams serta Ben Stiller.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut merupakan biografi dari Sacagawea.

1. Masa Kecil
Informasi valid soal Sacagawea sangat sedikit. Dia lahir di Lemhi County, Idaho, pada 1788 dan merupakan putri dari Kepala Suku Lemhi Shonshone.

Pada 1800 ketika dia berusia 12 tahun, dia dan perempuan Lemhi Shonshone lainnya oleh kelompok Hidatsa dalam konflik yang membunuh banyak anggota suku.

Setahun kemudian, dia dijual kepada Toussaint Charbonneau, seorang penangkap binatang keturunan Kanada-Perancis yang tinggal di desa Washburn, Dakota Utara.

Sacagawea dan Charbonneau hidup di antara kawasan Hidatsa dan Indian Mandan yang berlokasi di atas area Sungai Missouri.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Indian Pertama Dilantik Jadi Presiden Bolivia

2. Bertemu Ekspedisi Lewis dan Clark
Sacagawea sedang hamil anak pertama ketika rombongan Korps Penemu Amerika Serikat ( AS) sampai di dekat Hidatsa untuk melewatkan musim dingin pada 1804.

Rombongan yang dipimpin Kapten Merwether Lewis dan William Clark segera membangun Fort Mandan, dan menanyai beberapa penangkap binatang.

Saat itu, mereka mencari penerjemah dan pemandu yang bisa membawa mereka melewati Sungai Missouri saat musim semi nanti.

Saat mereka bertemu Charbonneau, mereka setuju untuk mempekerjakannya karena korps mengetahui Sacagawea bisa berbicara bahasa Shonshone.

Rombongan ekspedisi mengetahui mereka sangat membutuhkan bantuan Suku Shonshone jika ingin mencapai mata air Missouri.

Sepekan kemudian, keduanya bergabung ke dalam markas ekspedisi di mana Clark memberikan julukan kepada Sacagawea "Janey".

Pada 11 Februari 1805, Sacagawea melahirkan seorang bayi laki-laki yang dia beri nama Jean Baptiste Charbonneau.

Meski bepergian sambil membawa bayinya, Sacagawea membuktikan dirinya tak menjadi beban. Bahkan merupakan pemandu yang bisa diandalkan.

Antara lain dia bisa menemukan tanaman mana saja yang bisa dimakan. Dia juga berjasa ketika kapal yang ditumpanginya terbalik pada 14 Mei 1805.

Baca juga: Trump Ucapkan Kalimat Rasis di Hadapan Veteran Perang Indian

Dia meloncat dan berusaha menyelamatkan sejumlah barang penting seperti catatan serta dokumen perjalanan Lewis-Clark.

Komandan korps yang terkesan dengan aksinya menamai sungai itu Sungai Sacagawea. Agustus 1805, mereka berhasil menemukan Suku Shonshone.

Mereka mencoba membeli kuda Shonshone untuk dipakai melintasi Pegunungan Rocky, dan mengetahui bahwa kepala sukunya, Cameahwait, merupakan saudara Sacagawea.

Shonshone sepakat untuk menyediakan kuda beserta pemandu bagi korps untuk membantu mereka melewati Pegunungan Rocky yang dingin dan tandus.

Selama ekspedisi, Sacagawea dianggap sebagai simbol perdamaian karena perempuan yang bepergian membawa anak dalam sebuah kelompok tidak akan terlalu dicurigai.

Ketika korps mencapai Samudra Pasifik pada 24 November 1805, mereka mengadakan pemungutan suara untuk menentukan lokasi pembangunan markas selama musim dingin.

Semua orang, termasuk Sacagawea dan budak kulit hitam bernama York, ikut dalam pemungutan suara hingga markas bernama Fort Clatsop.

Perjalanan pulang Korps Penemu pada 1806 melewati celah di Pegunungan Rocky yang kini bernama Lintasan Gibbons, cekungan di Sungai Yellowstone (kini Lintasan Bozeman).

Baca juga: Artefak Indian Amerika yang Dilelang Akan Dikembalikan ke Pemiliknya


Page:
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X