Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Trump Disebut Putuskan Sepihak Tarik Pasukan AS di Suriah

Kompas.com - 20/12/2018, 12:14 WIB
Ardi Priyatno Utomo

Penulis

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa mereka telah menang melawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) diikuti penarikan pasukan dari sana.

Seorang pejabat anonim AS dikutip AFP Kamis (20/12/2018) mengatakan Trump berencana menarik seluruh pasukan AS dari Suriah.

"Penarikan penuh. Semua berarti seluruh pasukan," kata pejabat itu. Dia tak bisa mengestimasikan kapan tentara AS bakal dipulangkan.

Baca juga: Trump Deklarasikan Kemenangan atas ISIS di Suriah

Namun dilansir Al Jazeera, dia menuturkan Kementerian Pertahanan berharap sekitar 2.000 personel militer AS bakal pulang pertengahan Januari mendatang.

Para pasukan itu berada di Suriah untuk melatih dan menjadi penasihat para milisi lokal dalam upaya mereka memerangi ISIS.

Pejabat tersebut melanjutkan, Trump membuat keputusan sepihak karena dia meyakini militer AS sudah tidak mempunyai peran lagi selain menghancurkan ISIS.

"Karena itu, keputusannya memantik reaksi dari Kongres yang meminta pertemuan supaya pemerintah bisa menjelaskannya," tutur pejabat itu.

Senator Lindsey Graham dari Partai Republik yang selama ini dikenal sebagai pendukung Trump berbalik menjadi penentang presiden 72 tahun itu.

Dia menyebut keputusan itu merupakan sebuah bencana dan yang bersorak gembira karena pernyataan Trump adalah ISIS dan Iran.

"Saya harus katakan jika mereka (ISIS) kembali setelah pasukan AS keluar dari Suriah, maka Trump yang harus disalahkan," terang Graham dikutip CNBC.

Senada dengan Graham, Senator Republik lain Marco Rubio menuturkan para pejuang Kurdi yang selama ini menjadi sekutu AS bakal berhenti menyerang ISIS.

Sebabnya, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) itu bakal disibukkan dengan rencana gempuran Turki yang disebut bakal melintasi perbatasan menuju Suriah.

Rubio menyebut secara tidak langsung keputusan Trump bakal membantu ISIS dan berpotensi menciptakan konflik lebih luas di Timur Tengah.

Adapun Senator Bob Corker mengatakan dia belum pernah melihat keputusan itu selama 12 tahun karir politiknya di Senat AS.

Baca juga: Menhan Inggris Tolak Klaim Trump soal Kekalahan ISIS di Suriah

"Sangat sulit membayangkan bagaimana seorang presiden bisa bangun dan membuat keputusan ini dengan persiapan dan komunikasi yang minim," keluh Corker.

Adapun Kementerian Luar Negeri Rusia seperti dikutip TASS menyatakan penarikan pasukan AS di Suriah bisa menciptakan kestabilan politik.

Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berujar dia bakal mempelajari keputusan Trump dan mengambil sikap untuk memastikan keamanan mereka sendiri.

Sebelumnya dalam video yang diunggah di Twitter-nya, Trump mengumumkan bahwa AS telah memperoleh kemenangan melawan ISIS.

"Kami telah mengalahkan mereka dan kami memukul mereka dengan sangat keras. Kami merebut kembali wilayah, dan sekarang saatnya bagi pasukan kami untuk pulang," tuturnya.

Washington memulai serangan udara ke Suriah pada 2014, satu tahun sebelum pasukan darat dikerahkan untuk memukul ISIS dan melatih para pemberontak Suriah.

Setelah mengumumkan kekhalifahan pada 2014, Utusan AS Anti-ISIS Brett McGurk menyatakan kini ISIS hanya menguasai satu persen wilayah di Suriah.

Antara lain Hajin yang merupakan benteng terakhir ISIS. Saat ini, Hajin tengah dikepung oleh pasukan SDF. Jika dikuasai, ISIS bakal mundur di tepi timur Eufrat.

Baca juga: ISIS Klaim Pelaku Penembakan Pasar Natal Strasbourg adalah Tentaranya

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com