Kompas.com - 18/12/2018, 22:31 WIB

3. Karakter dan Pandangan Politik
Sejarawan menyebut karakter Ferdinand sebagai sosok yang tidak punya energi, berlidah tajam, dan memiliki temperamen tinggi.

Sebagai pewaris takhta, dia mengetahui Austria-Hongaria berasal dari berbagai etnis dengan politik dan agama yang berbeda.

Dia sempat mengusulkan mengubah pemerintahan ke dalam tiga monarki besar: Slavia, Jerman, dan Magyars yang masing-masing punya suara sama di pemerintahan.

Baca juga: Sarajevo Kenang 100 Tahun Tewasnya Franz Ferdinand

Namun ide itu tidak populer di kalangan elite kerajaan, dan sempat menghembuskan kabar bahwa Ferdinand adalah orang gila.

Dia juga mempertimbangkan untuk membentuk pemerintahan federal berisi 16 negara bagian yang nantinya bernama Persatuan Besar Austria.

Ide itu bertentangan langsung dengan kaum nasionalis Serbia yang hendak melepaskan diri dari Bosnia dan Herzegovina demi membentuk pemerintahan sendiri.

Meski dia terkesan tak peduli dengan ambisi nasionalis, Ferdinand secara hati-hati mendekati para pemimpin nasionalis Serbia tentang rencana mereka.

Dia memperingatkan para petinggi militer nasionalis bahwa segala pendekatan gegabah bisa membuat mereka berhadapan langsung dengan Rusia.

Baca juga: 5 Teknologi Militer yang Diciptakan di Masa Perang Dunia I

4. Pembunuhan Ferdinand
Ferdinand dan istrinya dibunuh oleh Princip menggunakan pistol jenis FN Model 1910 pada 28 Juni 1914 pukul 10.45 saat berkunjung ke Sarajevo, ibu kota Provinsi Bosnia-Herzegovina.

Awalnya, pasangan itu diserang oleh anggota organisasi Black Hand lain Nedeljko Cabrinovic yang melemparkan granat ke arah mobil.

Untungnya, granat itu jatuh di dekat mobil pengiring di belakang Ferdinand sehingga meledak dan melukai para pengiringnya.

"Jadi begini cara kalian menyambut tamu. Dengan bom!" teriak Ferdinand marah setelah dia berhasil sampai ke kediaman gubernur.

Setelah istirahat sebentar, Ferdinand dan istrinya bersikeras untuk mengunjungi korban Cabrinovic yang dirawat di rumah sakit lokal.

Baca juga: Kisah Gadis Australia Menyamar Jadi Prajurit Pria Saat Perang Dunia I

Celakanya, tidak ada yang memberi tahu sopir bahwa rencana perjalanan berubah. Ketika kesalahan disadari, si sopir harus memutar balik.

Ketika mobil berusaha putar balik, kondisi itu dimanfaatkan dengan baik oleh Princip yang saat itu di kafe seberang jalan.

Segera dia menuju mobil tempat pasangan kerajaan itu berada dan menembak mereka. Pertama dia menembak perut Sophie sebelum menembak leher Ferdinand.

Ferdinand masih hidup ketika melihat istrinya menangis. "Jangan mati sayang. Teruslah hidup untuk anak kita!" Begitulah kalimat terakhir yang diucapkannya kepada Sophie.

Ferdinand dan Sophie meninggal sebelum mencapai rumah sakit, dan jenazah mereka dimakamkan di Kastil Artstetten, Austria.

Baca juga: 100 Tahun Perang Dunia I Diperingati di Berbagai Negara

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.