China Impor Kedelai dari AS untuk Kali Pertama sejak Perang Dagang

Kompas.com - 14/12/2018, 15:19 WIB
Ilustrasi kedelaiKOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI Ilustrasi kedelai

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - China akhirnya membeli kedelai dari Amerika Serikat untuk kali pertama sejak perang dagang kedua negara dimulai pada Juli lalu.

Diwartakan BBC, Jumat (14/12/2018), "Negeri Tirai Bambu" sejauh ini menjadi importir kedelai terbesar di dunia.

Sementara, tingginya tarif yang dikenakan China terhadap kedelai membuat petani AS kelimpungan.

Baca juga: Perang Dagang, Perusahaan di AS Harus Rogoh Kocek Lebih Dalam

Kebijakan China mengimpor 1,13 juta ton kedelai AS pada Kamis lalu memang disambut baik oleh beberapa pihak, namun yang lain justru melontarkan kritik.

Mereka menganggap nilai impor tersebut masih terlalu kecil dan bukanlah sebuah tanda bahwa perang dagang telah mereda.

"Ada (impor) 1 juta atau 1,5 juta ton memang bagus, itu luar biasa, sebuah langkah yang baik," kata Wakil Menteri Pertanian AS Steve Censky.

"Tapi ada kebutuhan yang lebih dari itu, terutama jika Anda mempertimbangkannya dalam hal normal, biasanya setahun kami menjual 30-35 juta metrik ton ke China," imbuhnya.

Penjualan kedelai tersebut dianggap gagal untuk menggairahkan produsen, yang menyebut jumlah itu kurang dari perkiraan.

"Ini adalah permulaan, tapi tidak cukup memperbaiki masalah terkait kedelai dan kelebihan pasokan kedelai di negara ini," tutur Joe Vaclavik, presiden Standard Grain, perusahaan perantara komoditas AS.

Sebagai informasi, kedelai merupakan ekspor komoditas pertanian terbesar AS ke China.

Baca juga: Perang Dagang, AS Ingin China Lakukan Hal Konkret dalam 90 Hari

Kedelai juga sangat penting di China karena dipakai untuk membuat produk pakan ternak.

CNBC melaporkan, China memberlakukan tarif impor kedelai AS sebesar 25 persen setelah pemerintahan Donald Trump mengenakan tarif 10 persen pada barang-barang asal China.

Trump pada Selasa lalu mengatakan, bakal menunggu untuk mengimplementasikan peningkatan tarif pada barang-barang asal China menjadi 25 persen dari 10 peren, sampai kedua negara mencapai kesepakatan dagang.



Close Ads X