Ironi Satelit TV Relay 1, Siarkan Pidato Kennedy dan Berita Kematiannya

Kompas.com - 13/12/2018, 17:07 WIB
Satelit Komunikasi Relay 1nasa.gov Satelit Komunikasi Relay 1

KOMPAS.com - Perkembangan dunia antariksa pesat pada era 1960-an berkat persaingan dua negara adikuasa. Saat itu, Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba-lomba melakukan eksplorasi luar angkasa yang kerap disebut "Space Race".

Ketika pengetahuan dan teknologi semakin berkembang, perusahaan antariksa juga membutuhkan sarana komunikasi yang baik. Tujuannya adalah untuk bisa memperluas jangkauan komunikasi dengan menempatkan alat khusus di luar angkasa.

Pada periode 1960-an, Badan Antariksa AS atau NASA meluncurkan satelit penyiaran pertama lintas benua ke luar angkasa. Penempatannya adalah pada sekitar orbit bumi.

Dilansir nasa.gov, awalnya NASA membuat satelit komunikasi untuk mengirim ulang siaran televisi, telepon, dan sinyal digital. Di dalamnya terdapat semacam alat yang dirancang untuk memetakan radiasi bumi. Satelit ini diberi nama "Relay 1"

Pada 13 Desember 1962, satelit komunikasi Relay 1 meluncur dengan menumpang roket Delta Delta B dari LC-17A di Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat.

Namun, kendala muncul beberapa saat setelah meluncur, yakni satelit yang mengalami kurang responsif ketika mencoba disalurkan dan kebocoran pada salah satu dayanya. Akibatnya, kebocoran itu menyebabkan dua minggu pertama operasi satelit menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Setelah perbaikan dalam hal teknis, akhirnya satelit ini mampu memberikan hasilnya kepada operatornya di bumi dan melakukan perintah sesuai program awalnya.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: 10 Juli 1962, Peluncuran Satelit Komunikasi Pertama Dunia

Satelit Pertama

Relay 1 tercatat sebagai satelit pertama yang menyiarkan siaran televisi dari Amerika Serikat ke Jepang.

Pada 22 November 1963 pidato Presiden Amerika Serikat John F Kennedy disiarkan kepada orang-orang Jepang. Pidato ini telah direkam sebelumnya dan disiarkan tepat pada tanggal itu.

Setelah penayangan berita pidato Kennedy, siaran langsung dilanjutkan mengenai berita pembunuhan Kennedy. Ironis, sebab siaran televisi itu menanyangkan pidato Kennedy, yang berlanjut ke berita kematiannya.

Tiga hari setelah pembunuhan Kennedy, Relay 1 menangani total 11 siaran spot (delapan ke Eropa dan tiga ke Jepang) karena semua lintasan yang berguna dari satelit disediakan untuk memungkinkan liputan segera atas pembunuhan tersebut.

Saat itu, memang kematian Kennedy menjadi berita internasional yang pembunuhnya masih menjadi misteri.

Pada bulan Agustus 1964, satelit ini digunakan sebagai tautan Amerika Serikat-Eropa untuk siaran Olimpiade Musim Panas 1964 dari Tokyo, setelah sinyal itu diteruskan ke Amerika Serikat melalui satelit Syncom 3. Ini menandai pertama kalinya dua satelit digunakan bersama-sama untuk siaran televisi.

Masalah kebocoran menyebabkan satelit untuk kembali ke keadaan tegangan rendah pada awal 1965. Transmisi sporadis terjadi hingga 10 Februari 1965, setelah itu tidak bisa digunakan secara maksimal.

Setelah bekerja maksimal, akhirnya NASA meluncurkan generasi keduanya "Relay 2" yang dilengkapi dengan sel surya canggih yang dirancang untuk memperpanjang daya satelit.

Tabung gelombang perjalanan satelit, sistem pengaturan daya dan perisai radiasi juga merupakan desain yang ditingkatkan dalam generasi keduanya.

Relay 2 memberikan siaran publik awal pada 29 Januari 1964, ketika Olimpiade musim dingin di Innsbruck, Austria. Setelah karier demonstrasi yang sukses, Relay 2 berhenti beroperasi pada musim gugur 1965.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya

KPU Gunungkidul Ajukan Tambahan Kotak Suara

KPU Gunungkidul Ajukan Tambahan Kotak Suara

Regional
Pria yang Aniaya Mantan Istri Rekam Dirinya Ancam Anak dengan Senjata

Pria yang Aniaya Mantan Istri Rekam Dirinya Ancam Anak dengan Senjata

Megapolitan
Setelah Diperiksa 22 Jam, Joko Driyono Akan Beraktivitas Seperti Biasa

Setelah Diperiksa 22 Jam, Joko Driyono Akan Beraktivitas Seperti Biasa

Megapolitan
Pelaku Pembunuh Ibu Hamil dengan Luka di Perut adalah Suaminya Sendiri

Pelaku Pembunuh Ibu Hamil dengan Luka di Perut adalah Suaminya Sendiri

Regional
Dedi Mulyadi: Elektabilitas 11,3 Persen Menunjukan Golkar Keluar dari Zona Menyedihkan

Dedi Mulyadi: Elektabilitas 11,3 Persen Menunjukan Golkar Keluar dari Zona Menyedihkan

Regional
Pemerintahan Trump Akan Sisakan 200 Tentara AS di Suriah

Pemerintahan Trump Akan Sisakan 200 Tentara AS di Suriah

Internasional
Joko Driyono: Saya Menunggu Detik-detik Terakhir..

Joko Driyono: Saya Menunggu Detik-detik Terakhir..

Megapolitan
Kebakaran di Rumah Bertingkat Daerah Teluk Gong, Dua Orang Tewas

Kebakaran di Rumah Bertingkat Daerah Teluk Gong, Dua Orang Tewas

Megapolitan
Seputar Pemeriksaan Bawaslu terhadap Caleg yang Senam di Atas Sajadah

Seputar Pemeriksaan Bawaslu terhadap Caleg yang Senam di Atas Sajadah

Megapolitan
Aksi Sekelompok Pria Mesum di Karawang Bikin Banyak Siswi Trauma

Aksi Sekelompok Pria Mesum di Karawang Bikin Banyak Siswi Trauma

Regional
Dirjen Dukcapil Sebut Sudah Merekam E-KTP ke Semua Penghuni Lapas dan Rutan

Dirjen Dukcapil Sebut Sudah Merekam E-KTP ke Semua Penghuni Lapas dan Rutan

Nasional
Diperiksa 22 Jam, Joko Driyono: Cukup Melelahkan, Cukup Panjang..

Diperiksa 22 Jam, Joko Driyono: Cukup Melelahkan, Cukup Panjang..

Megapolitan
Mahfud MD: Hindari Golput karena Pesta Demokrasi Itu Menyenangkan...

Mahfud MD: Hindari Golput karena Pesta Demokrasi Itu Menyenangkan...

Regional
Duel Maut, Mojo Si Singa Jantan Mati Diserang Singa Betina

Duel Maut, Mojo Si Singa Jantan Mati Diserang Singa Betina

Internasional
5 Fakta Al Ghazali Jenguk Ahmad Dhani, 'Semoga Ayah Kuat' hingga Menyanyi di Depan Rutan

5 Fakta Al Ghazali Jenguk Ahmad Dhani, "Semoga Ayah Kuat" hingga Menyanyi di Depan Rutan

Regional

Close Ads X