Rusia: Pelaut Ukraina yang Ditangkap Harus Menjalani Sidang - Kompas.com

Rusia: Pelaut Ukraina yang Ditangkap Harus Menjalani Sidang

Kompas.com - 07/12/2018, 20:55 WIB
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.AFP/FABRICE COFFRINI Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

MILAN, KOMPAS.com - Rusia menyatakan, ke-24 pelaut Ukraina yang ditangkap pada 25 November lalu harus menjalani persidangan.

Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menyampaikannya saat pertemuan Organisasi Kerja Sama dan Keamanan Eropa (OSCE) di Milan, Italia.

Baca juga: Ukraina Siagakan Pasukan Cadangan untuk Bersiap Hadapi Invasi Rusia

Lavrov mengatakan, saat ini para pelaut itu telah menjalani praperadilan dan saat ini tengah diselidiki atas dugaan pelanggaran perairan Rusia.


"Setelah penyelidikan berakhir, tentunya bakal ada persidangan," kata Lavrov dalam pidatonya seperti dilansir AFP Jumat (7/12/2018).

Dia melanjutkan, setelah pengadilan menjatuhkan putusan, maka bakal diambil tindakan terkait masa depan para pelaut Ukraina itu.

Lavrov tidak menyebutkan apakah pelaut itu bakal diampuni atau dilepaskan sebagai bagian dari pertukaran tahanan dengan Kiev.

"Segera setelah sidang berakhir, maka bakal terdapat beberapa kemungkinan sesuai dengan konstitusi yang ada di Rusia," kata Lavrov.

"Tentu bakal lebih mudah mengambil tindakan yang bisa mempermudah hidup mereka. Namun, semua itu bisa dicapai setelah sidang usai," tegasnya.

Rusia menembaki dan menahan dua kapal artileri ringan dan satu kapal tongkang Ukraina pada 25 November di Selat Kerch.

Dari 24 pelaut yang ditangkap, tiga di antaranya terluka. Saat ini, mereka berada di Moskwa setelah hukuman praperadilan dijatuhkan.

Dunia internasional bereaksi dengan meminta Kremlin untuk melepaskan pelaut itu. Sementara Presiden Ukraina Petro Poroshenko menyebut para pelaut sebagai tahanan perang.

Jika terbukti melakukan pelanggaran dengan menerobos perairan Rusia, maka para pelaut Ukraina tersebut terancam mendekam selama enam tahun di penjara.

Insiden yang melibatkan tiga kapal perang Ukraina itu merupakan yang paling berbahaya sejak pendudukan Semenanjung Crimea pada 2014.

Baca juga: Presiden Ukraina: Rusia Tempatkan 80.000 Pasukan hingga 500 Jet Tempur


Terkini Lainnya


Close Ads X