Duterte Kembali Lontarkan Kecaman kepada Gereja Katolik - Kompas.com

Duterte Kembali Lontarkan Kecaman kepada Gereja Katolik

Kompas.com - 06/12/2018, 15:38 WIB
Presiden Filipina Rodrigo Duterte.AFP/JUNG YEON-JE Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

MANILA, KOMPAS.com - Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali melontarkan kecaman kepada Gereja Katolik dengan mengatakan uskup di sana "orang bodoh tak berguna".

Dalam pidatonya Rabu (5/12/2018) seperti dikutip Al Jazeera, Duterte menyebut Gereja Katolik sebagai institusi yang paling munafik.

Baca juga: Duterte Minta Warganya untuk Tidak Pergi ke Gereja

" Uskup-uskup yang kalian punya, bunuh saja. Mereka adalah orang-orang yang bodoh dan tak berguna. Yang bisa mereka lakukan hanya mengkritik," kata Duterte.

Mantan Wali Kota Davao itu menuturkan Tuhan yang dia percayai berbeda dengan keyakinan Gereja Katolik, dan menegaskan dia bukan ateis.

"Saya tidak pernah berkata saya tak punya Tuhan. Yang saya katakan adalah Tuhan yang saya percayai itu masuk akal. Itu yang saya katakan kepada uskup," tutur Duterte.

Sebelumnya, Duterte menyerukan kepada warganya untuk tidak pergi beribadah ke gereja dan membangun kapel di rumah mereka sendiri.

"Jadi, Anda semua tidak perlu untuk pergi ke gereja dan membayar bagi si bodoh ini," ujar presiden yang berkuasa sejak 2016 itu.

Duterte melanjutkan, dia memandang keyakinan Gereja Katolik sudah "kuno", dan menjelaskan cara Gereja memberikan pengajaran sudah tak relevan dengan kondisi modern.

Presiden yang mempunyai julukan The Punisher itu memaparkan pada awal perkembangan Gereja 3.000 tahun silam, orang-orang hidup nomaden.

"Apa yang mereka ketahui tentang dunia sekarang sehingga kami harus mengikuti ajaran tersebut?" tanya presiden berusia 73 tahun tersebut.

Berbagai ucapannya yang menyerang Gereja Katolik membuat Uskup Agung Socrates Villegas angkat bicara dan mendesak Duterte menghentikan "persekusi verbal".

Sebab, ucapan itu bisa menimbulkan aksi kriminal terhadap imam Katolik. Apalagi pada Desember 2017, dilaporkan ada tiga imam dibunuh.

Richard Javad Heydarian, akademisi dan komentator politik di Manila berujar, serangan Duterte menunjukkan adanya eskalasi dua institusi besar di Filipina.

"Yakni Gereja Katolik dan lembaga presiden. Bisa dikatakan ini adalah perjuangan abad ke-21 antara gereja dengan negara," kata Heydarian.

Baca juga: Duterte Minta Maaf kepada Tuhan


Terkini Lainnya


Close Ads X