Pidato Soal Perdamaian, Suu Kyi Tak Sebut Krisis Rohingya

Kompas.com - 02/12/2018, 11:24 WIB
Pemimpin Negara Myanmar Aung San Suu Kyi menyampaikan pidato nasional di Naypyidaw pada tanggal 19 September 2017. AFP/YE AUNG THUPemimpin Negara Myanmar Aung San Suu Kyi menyampaikan pidato nasional di Naypyidaw pada tanggal 19 September 2017.

KATHMANDU, KOMPAS.com - Pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi berkesempatan menyampaikan pidato tentang perdamaian dalam pertemuan internasional di Nepal, Sabtu (1/12/2018).

Dalam pidatonya, peraih hadiah Nobel Perdamaian itu menyerukan kepada negara-negara agar bekerja sama dalam mencapai kedamaian dan kemakmuran bersama.

Namun Suu Kyi, yang tengah menghadapi kritikan internasional, justru tidak membahas tentang krisis Rohingya yang terjadi di negaranya.

"Dasar dari sebuah konflik adalah niat buruk yang berusaha menyakiti dan menghancurkan. Hal itu membuka jalan menuju konflik, yang pada gilirannya akan memunculkan siklus kebencian dan ketakutan, yang selalu berputar dan akhirnya memadamkan cahaya perdamaian," kata Suu Kyi.

Baca juga: Saat Aung San Suu Kyi Tak Disambut Hangat di KTT Asean

"Hanya dengan mendorong budaya perdamaian di dunia yang saling ketergantungan ini, dapat tercipta harmoni antara berbagai negara dan masyarakat," imbuhnya, dilansir AFP.

Namun tidak hanya Suu Kyi, para pejabat negara lain, yang hadir dalam pertemuan yang digelar oleh Universal Peace Foundation di Kathmandu itu, juga tidak menyebut sedikit pun tentang konflik kekerasan yang dialami etnis Rohingya di Rakhine.

Pidato perdamaian Suu Kyi itu datang sehari setelah Kota Paris mengumumkan akan mencabut gelar kehormatan kebebasan yang sempat diberikan kepada pemimpin de facto Myanmar itu.

Pencabutan gelar kehormatan serupa juga telah dilakukan oleh kota-kota Inggris lainnya, seperti Glasgow, Edinburgh, dan Oxford, yang memandang Suu Kyi gagal menentang penindasan Rohingya oleh militer Myanmar.

Krisis Rohingya terjadi usai militer Myanmar melancarkan operasi kekerasan terhadap etnis Muslim di Rakhine pada Agustus tahun lalu.

Operasi militer tersebut mendorong ratusan ribu warga Rohingya melarikan diri ke negara-negara tetangga, dengan paling banyak menyeberang ke Bangladesh.

Baca juga: Paris akan Cabut Gelar Kehormatan Kebebasan dari Aung San Suu Kyi

Tim hak asasi PBB mengklaim telah menemukan bukti adanya kekerasan pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan, hingga pembakaran dan menyerukan agar para jenderal militer Myanmar dituntus atas tindakan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Namun militer Myanmar bersikeras bahwa tindakan keras mereka hanya ditujukan kepada kelompok militan Rohingya.



Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X