Kompas.com - 02/12/2018, 11:24 WIB

KATHMANDU, KOMPAS.com - Pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi berkesempatan menyampaikan pidato tentang perdamaian dalam pertemuan internasional di Nepal, Sabtu (1/12/2018).

Dalam pidatonya, peraih hadiah Nobel Perdamaian itu menyerukan kepada negara-negara agar bekerja sama dalam mencapai kedamaian dan kemakmuran bersama.

Namun Suu Kyi, yang tengah menghadapi kritikan internasional, justru tidak membahas tentang krisis Rohingya yang terjadi di negaranya.

"Dasar dari sebuah konflik adalah niat buruk yang berusaha menyakiti dan menghancurkan. Hal itu membuka jalan menuju konflik, yang pada gilirannya akan memunculkan siklus kebencian dan ketakutan, yang selalu berputar dan akhirnya memadamkan cahaya perdamaian," kata Suu Kyi.

Baca juga: Saat Aung San Suu Kyi Tak Disambut Hangat di KTT Asean

"Hanya dengan mendorong budaya perdamaian di dunia yang saling ketergantungan ini, dapat tercipta harmoni antara berbagai negara dan masyarakat," imbuhnya, dilansir AFP.

Namun tidak hanya Suu Kyi, para pejabat negara lain, yang hadir dalam pertemuan yang digelar oleh Universal Peace Foundation di Kathmandu itu, juga tidak menyebut sedikit pun tentang konflik kekerasan yang dialami etnis Rohingya di Rakhine.

Pidato perdamaian Suu Kyi itu datang sehari setelah Kota Paris mengumumkan akan mencabut gelar kehormatan kebebasan yang sempat diberikan kepada pemimpin de facto Myanmar itu.

Pencabutan gelar kehormatan serupa juga telah dilakukan oleh kota-kota Inggris lainnya, seperti Glasgow, Edinburgh, dan Oxford, yang memandang Suu Kyi gagal menentang penindasan Rohingya oleh militer Myanmar.

Krisis Rohingya terjadi usai militer Myanmar melancarkan operasi kekerasan terhadap etnis Muslim di Rakhine pada Agustus tahun lalu.

Operasi militer tersebut mendorong ratusan ribu warga Rohingya melarikan diri ke negara-negara tetangga, dengan paling banyak menyeberang ke Bangladesh.

Baca juga: Paris akan Cabut Gelar Kehormatan Kebebasan dari Aung San Suu Kyi

Tim hak asasi PBB mengklaim telah menemukan bukti adanya kekerasan pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan, hingga pembakaran dan menyerukan agar para jenderal militer Myanmar dituntus atas tindakan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Namun militer Myanmar bersikeras bahwa tindakan keras mereka hanya ditujukan kepada kelompok militan Rohingya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.