Jika Rusia Berperang Melawan Ukraina, Siapa Bakal Unggul?

Kompas.com - 26/11/2018, 16:22 WIB
Personel militer Ukraina ambil bagian dalam latihan perang di wilayah Zhytomyr pada 21 November 2018. AFP/SERGEI SUPINSKYPersonel militer Ukraina ambil bagian dalam latihan perang di wilayah Zhytomyr pada 21 November 2018.
|

KOMPAS.com - Setelah Rusia menganeksasi Semenanjung Crimea pada 2014, hubungan negeri itu dengan Ukraina terus memburuk.

Relasi kedua negara yang pernah sama-sama hidup dalam satu payung bernama Uni Soviet ini bahkan semakin rumit setelah wilayah timur Ukraina memberontak terhadap Kiev.

Di wilayah dengan penduduk berbahasa Rusia itu ingin mendirikan negeri tersendiri yang terpisah dari Ukraina.

Baca juga: Tiga Kapalnya Disita Rusia, Militer Ukraina Diperintah Siap Perang

Meski selalu membantah, tetapi dugaan Rusia membantu para separatis di wilayah timur Ukraina terus menguat.

Kini ketegangan kedua negara semakin dalam setelah pada Minggu (25/11/2018), AL Rusia menangkap tiga kapal militer Ukraina yang melintas di Selat Kerch.

Selat Kerch ini adalah sebuah celah sempit yang menghubungkan Laut Hitam dan Laut Azov, di mana beberapa kota pelabuhan Ukraina berada.

Insiden ini membuat Presiden Petro Poroshenko berniat memberlakukan undang-undang darurat dan bahkan militer Ukraina sudah menyiagakan pasukannya.

Meski demikian, Poroshenko mengatakan, pemberlakukan undang-undang darurat bukan berarti Ukraina dalam situasi perang menghadapi Rusia.

Namun, pertanyaannya, jika kedua negara benar-benar berperang apa yang akan terjadi? Siapa yang akan menang?

Untuk menjawab pertanyaan itu terlebih dahulu harus dibandingkan kekuatan militer kedua negeri bertetangga itu.

Rusia memiliki jumlah personel militer empat kali lipat dibanding Ukraina, memiliki tank dua kali lebih banyak, dan enam kali lipat jumlah pesawat tempur.

Ketidakseimbangan jumlah personel dan peralatan perang ini juga terlihat dari anggaran pertahanan kedua negara.

Baca juga: Kapal Perangnya Ditembak Rusia, Ukraina Berniat Umumkan UU Darurat

Pada 2014, Rusia mengucurkan anggaran hingga 78 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 1.100 triliun.

Sedangkan di tahun yang sama, Ukraina hanya menyediakan anggaran sebesar 1,6 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 23 triliun.

Sekelompok pasukan Rusia berpatroli di sekitar pangkalan militer Ukraina di Perevalnoye yang berhasil direbut. Pasukan Ukraina kini sedang mempersiapkan diri untuk meninggalkan semenanjung Crimea.FILIPPO MONTEFORTE / AFP Sekelompok pasukan Rusia berpatroli di sekitar pangkalan militer Ukraina di Perevalnoye yang berhasil direbut. Pasukan Ukraina kini sedang mempersiapkan diri untuk meninggalkan semenanjung Crimea.
Namun, Rusia tak bisa memobilisasi semua pasukannya untuk melawan Ukraina. Apalagi pasukan Rusia "berserakan" di Kaukasus Utara, perbatasan China, dan dari Pasifik.

Mark Galeotti, seorang pakar dari Center for Global Affairs di Universitas New York, memberikan perkiraannya.

Seperti dikutip situs rfefl.org, Galeotti menyebut dengan kondisi pasukan yang berserakan di banyak tempat, Rusia paling maksimal bisa membolisiasi pasukan dengan kekuatan dua kali militer Ukraina.

Baca juga: Rusia Sita Kapal Perang Ukraina, DK PBB Gelar Rapat Darurat

Dengan kondisi tersebut, maka kondisi di lapangan bisa menjadi amat berimbang dan tak dijamin Rusia bisa mendapatkan kemenangan dengan cepat.

Sejak perang melawan Georgia pada 2008, Moskwa meningkatkan anggaran militernya sebanyak 30 persen untuk memodernisasi dan menggunakan militer sebagai perpanjangan tangan kebijakan luar negerinya.

Di sisi lain, Kiev memiliki sejarah mengucurkan dana amat minim untuk militernya dari yang sudah dianggarkan.

Unit militer terbaik Ukraina dikerahkan bersama NATO dalam berbagai operasi penjaga perdamaian.

Namun, berbagai unit militer lainnya berada dalam kondisi kekurangan dana dan peralatan.

Sebagian alat militer Ukraina masih merupakan warisan lama sejak negeri itu memisahkan dari dari Uni Soviet lebih dari dua dekade lalu.

Christopher Langton, peneliti dari Independent Conflict Research and Analysis di Inggris mengatakan, militer Ukraina juga diguncang proses reformasi.

Proses ini sebenarnya ditujukan untuk membuat militer negeri itu lebih profesional tetapi masih jauh dari sempurna.

Baca juga: Dianggap Langgar Batas, 3 Kapal AL Ukraina Ditembak dan Ditahan Rusia

"Dalam beberapa tahun terakhir sudah terjadi reformasi besar namun dengan anggaran minim dalam program peralatan dan reformasi personel," ujar Langton.

"Ukraina mencoba mengakhiri wajib militer tetapi tidak tercapai. Jadi masih ada unsur wajib militer dan ini menghambat kecepatan pengerahan pasukan Ukraina," tambah Langton.

Sepasukan separatis Ukraina Timur dengan mengibarkan bendera Rusia merebut kendaraan lapis baja milik militer Ukraina di kota Kramatorsk dan kemudian mengendarainya berkeliling kota.Reuters/Al Arabiya Sepasukan separatis Ukraina Timur dengan mengibarkan bendera Rusia merebut kendaraan lapis baja milik militer Ukraina di kota Kramatorsk dan kemudian mengendarainya berkeliling kota.
Selain itu, selama beberapa tahun terakhir jumlah personel militer Ukraina menyusut dari 245.000 orang menjadi hanya 184.000 orang yang 60 persennya adalah wajib militer.

Kesulitan bertambah bagi Ukraina, karena penduduk di wilayah timur negeri itu adalah populasi yang berbahasa Rusia.

Sehingga ini menjadi hambatan tersendiri dan seperti telah disinggung di atas, wilayah timur ini sekarang justru memberontak melawan Kiev.

Baca juga: Sanksi Negara Barat Berefek ke Anggaran Militer Rusia

Meski demikian, ada dua faktor yang membuat militer Ukraina solid.

Pertama adalah meningkatnya rasa nasionalisme yang diciptakan kemungkinan invasi pasukan asing ke negeri itu.

Kedua, semakin meningkatnya kebanggan terhadap identitas diri sebagai militer Ukraina.

" Militer Ukraina sudah mulai bergeser dari akar Uni Soviet-nya. Mereka kini memiliki jiwa korsa yang kuat dan budaya kuat untuk melayani negara," ujar Galeotti.

Lalu, jika perang benar-benar pecah strategi apa yang akan digunakan RAusia? Moskwa bisa saja melakukan invasi besar-besaran seperti yang dilakukan ke Cekoslovakia pada 1968.

Atau, Rusia bisa mengulang taktik gemilangnya di Rusia yaitu mendorong apa yang disebut "pasukan bela diri" merebut wilayah sambil memasukkan pasukan yang tak teridentifikasi di antara mereka.

Langton mengatakan, invasi skala besar akan memicu perang antar-negara yang berbiaya terlalu mahal bagi Moskwa.

"Meski di atas kertas kedua pasukan tak seimbang dalam hal kemampuan, jika Rusia memilih invasi besar maka pertempuran terjadi di wilayah Ukraina," papar Langton.

"Kemungkinan bakal terjadi perang yang amat berdarah yang tak bisa diterima sebagian warga Rusia," lanjut dia.

Tak hanya itu, tambah Langton, Rusia juga kemungkinan bakal menghadapi perang gerilya yang amat merepotkan.

"Tentu saya pihak yang bertahan lebih mampu mengendalikan wilayah mereka sendiri," kata Langton.

Selain itu biaya perang yang besar dengan model invasi langsung membuat Moskwa akan memilih langkah yang lebih senyap.

Rusia akan fokus mengendalikan beberapa wilayah, khususnya daerah dengan penduduk berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina.

Strategi kedua ini agaknya cocok dengan situasi saat ini di wilayah timur Ukraina yang masih dikoyak pemberontakan.

Sehingga menghadapi kondisi semacam ini, Ukraina akan berada dalam posisi amat lemah untuk mempertahankan wilayahnya.

Baca juga: Bulan Depan, Rusia Gelar Latihan Perang Bersama China dan Mongolia

Kesimpulannya, dalam skenario apapun Ukraina akan kesulitan menghadapi serangan Rusia.

Kecuali jika Ukraina bisa memainkan kartu terakhirnya yaitu menyeret NATO dalam konflik terbuka dengan Rusia.

Jika NATO terlibat maka bisa jadi arah perang bisa berbalik dan justru menghantam Rusia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wabah Virus Corona: Jerman Umumkan Penularan Antar-manusia Pertama

Wabah Virus Corona: Jerman Umumkan Penularan Antar-manusia Pertama

Internasional
Quraish Shihab Terima Penghargaan Bintang Tanda Kehormatan dari Mesir

Quraish Shihab Terima Penghargaan Bintang Tanda Kehormatan dari Mesir

Internasional
'Teman Saya Batuk, Orang-orang Melirik dan Menghindar Mas'

"Teman Saya Batuk, Orang-orang Melirik dan Menghindar Mas"

Internasional
Pria Jepang yang Tak Pernah ke China Terkena Virus Corona

Pria Jepang yang Tak Pernah ke China Terkena Virus Corona

Internasional
Asal Wabah Virus Corona yang Mematikan Terungkap

Asal Wabah Virus Corona yang Mematikan Terungkap

Internasional
China Akui Kekurangan Alat-alat Medis untuk Perangi Virus Corona

China Akui Kekurangan Alat-alat Medis untuk Perangi Virus Corona

Internasional
Arab Saudi Larang Warga Israel untuk Berkunjung

Arab Saudi Larang Warga Israel untuk Berkunjung

Internasional
Korban Meninggal karena Virus Corona di China Melonjak Jadi 106 Orang

Korban Meninggal karena Virus Corona di China Melonjak Jadi 106 Orang

Internasional
Virus Corona Merebak, 16 Negara di Dunia Umumkan Kasus Positif

Virus Corona Merebak, 16 Negara di Dunia Umumkan Kasus Positif

Internasional
Jerman Umumkan Kasus Pertama Virus Corona di Negaranya

Jerman Umumkan Kasus Pertama Virus Corona di Negaranya

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Perkembangan Korban Meninggal Virus Corona | 3 Roket Hantam Kedubes AS di Irak

[POPULER INTERNASIONAL] Perkembangan Korban Meninggal Virus Corona | 3 Roket Hantam Kedubes AS di Irak

Internasional
Berkendara Sambil Mandi, 2 Pria di Vietnam Didenda Rp 1 Juta

Berkendara Sambil Mandi, 2 Pria di Vietnam Didenda Rp 1 Juta

Internasional
Hubungan Mulai Mesra, Israel Izinkan Warganya Pergi ke Arab Saudi secara Resmi

Hubungan Mulai Mesra, Israel Izinkan Warganya Pergi ke Arab Saudi secara Resmi

Internasional
Sibuk Merawat Pasien Virus Corona, Tim Medis Pakai Popok Dewasa

Sibuk Merawat Pasien Virus Corona, Tim Medis Pakai Popok Dewasa

Internasional
Ibu Ini Dituduh Bunuh Bayinya yang Baru Lahir dengan Dimasukkan ke Mesin Cuci

Ibu Ini Dituduh Bunuh Bayinya yang Baru Lahir dengan Dimasukkan ke Mesin Cuci

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X