Antisemitisme di Amerika, Pelajaran untuk Indonesia - Kompas.com

Antisemitisme di Amerika, Pelajaran untuk Indonesia

Kompas.com - 23/11/2018, 05:58 WIB
IlustrasiKOMPAS/DIDIE SW Ilustrasi

NARASI kehidupan beragama di pelbagai belahan dunia sekarang ini sedang mengalami ancaman berupa serangan kebencian. Pola-pola kebencian terhadap pemeluk agama yang berbeda tidak lagi mewujud dalam perbedaan keyakinan, tetapi lebih mengerikan tampil dengan serangan pembunuhan.

Pada 28 Oktober 2018, misalnya, sebuah sinagog di Squirell Hill, Pittsburgh, Amerika Serikat, diserang dengan brutal. Tercatat 11 orang meninggal dan 6 orang lain mengalami luka-luka. Kasus penembakan di kawasan sinagog ini merupakan bagian dari narasi panjang kebencian terhadap etnis Yahudi, yang dilampiaskan dengan penyerangan yang mengakibatkan kematian.

Laporan the Anti Defamation League (ADL) menyatakan, antisemitisme tumbuh di Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir. Setidaknya, 57 persen insiden antisemit terjadi di beberapa kawasan di Amerika Serikat sepanjang 2017. Serangan antisemit itu termasuk ancaman bom, vandalisme, kampanye poster, bahkan literatur yang ditemukan di perpustakaan kampus.

Adapun data Federal Bureau of Investigation (FBI) pada 2016 mengungkap, sebanyak 54,4 persen kejahatan yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun itu terkait dengan unsur kebencian terhadap etnis Yahudi. Insiden dengan nuansa antisemit dan kebencian rasial juga sering terjadi. Pada 2014, serangan terjadi di kawasan dekat Jewish Community Center di sekitaran Kansas City, menyebabkan tiga orang meninggal.

Jika mendata secara detail kasus-kasus penyerangan dengan nuansa anti-semit, tentu akan muncul ratusan bahkan ribuan kasus. Namun, yang menjadi poin penting, betapa energi kebencian yang meluap ternyata dilampiaskan secara mengerikan di negeri demokratis yang memungkinkan setiap orang memiliki keyakinan masing-masing dengan dukungan hukum bahkan konstitusi.

Baca juga: Sejarah Kelam Penembakan Massal Berlatar Anti-semit di AS Sejak 1999

Meskipun komunitas Yahudi memiliki sejarah panjang di Amerika Serikat, kebencian terhadapnya juga terus bergelombang, apalagi di tengah turbulensi politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Manuver-manuver politik Doland Trump selalu menarik kontestasi, baik dalam ranah regional maupun pada lanskap politik internasional.

Amy Chua mengungkapkan, betapa narasi politik Amerika Serikat sekarang ini menuju pola tribalisme. Dalam risetnya berjudul Political Tribes: Group Instinct and the Fate of Nation (2018), Chua menulis, Amerika Serikat sedang menghadapi tantangan dari elite-elite politiknya untuk tetap menjaga diri sebagai negara demokratis.

Wujud tantangan itu, tegas Chua, adalah transformasi dari negara dengan sistem demokrasi menuju negara dengan "politik tribalisme". Gejala ini lahir dengan munculnya elite-elite politik yang untuk menaikkan sentimen politik justru menyerang kelompok minoritas.

Pada konteks inilah, penyerangan dengan nuansa antisemit merupakan wajah dari politik tribal, yang saat ini menggejala di Amerika Serikat.

Pelajaran bagi Indonesia

Penyerangan secara brutal terhadap sinagog di Pittsburgh, Amerika Serikat, menjadi alarm bagi kita semua. Kasus ini menjadi pelajaran penting, betapa kebencian bisa bergeser menjadi pembunuhan.

Kasus-kasus serupa dengan pola yang berbeda telah terjadi pula di Indonesia. Perusakan rumah ibadah, penyerangan komunitas agama, bahkan teror terhadap kelompok minoritas merupakan wajah gelap dari interaksi antaragama sekaligus kepada internal agama.

Kasus penyerangan terhadap rumah ibadah komunitas Yahudi juga pernah terjadi di Indonesia. Sinagog Beth Hashem menjadi saksi sejarah eksistensi komunitas Yahudi di Indonesia yang terhapus oleh energi kebencian dari pemeluk agama lain.

Catatan Wahid Institute menyebutkan, betapa Sinagog Beth Hashem di Surabaya menjadi sasaran kebencian dari kelompok Islam garis keras, yang melampiaskan kritik atas konflik Israel-Palestina. Kelompok massa ini merusak dan menyegel Sinagog Beth Hasem di Jalan Kayoon 04 Surabaya, pada 7 Januari 2009.

Pada saat yang sama, penyerangan antarormas dan kebencian antaragama juga semakin meluap, dengan tingginya kasus intoleransi. Laporan Tahunan Kebebasan Beragama dan Kehidupan Keagamaan di Indonesia (2009) dari Wahid Institute menyebut ada 93 kasus intoleransi, yang korbannya sebagian besar merupakan kelompok minoritas.

Baca juga: Provokasi Elite Politik Dinilai jadi Penyebab Intoleransi di Level Warga

Selain itu, kasus penyerangan terhadap rumah ibadah juga terjadi, yakni pembakaran gereja Katolik St Albertus di Jalan Boulevard Bekasi, pada 17 Desember 2009. Pada satu dekade terakhir, kebencian dalam ranah agama, yang mewujud berupa penghakiman atas kelompok minoritas serta perusakan rumah ibadah tidak pernah surut.

Kasus-kasus penyerangan dengan pola kebencian mengusik ketenangan beribadah dan kedamaian beragama di negeri ini. Namun, wajah kedamaian masih memancar di negeri ini. Para pejuang perdamaian masih terus bekerja untuk merajut silaturahmi, menebarkan kasih sayang, cinta kasih dan pesan-pesan rahmat.

Kiai-kiai, ustaz, rohaniawan, dan pemuka-pemuka agama yang cinta damai masih terus aktif mengabarkan agama cinta. Wajah damai antaragama dapat kita tengok di pelbagai kawasan di Indonesia.

Di Manado, misalnya, interaksi antaragama masih terpelihara dengan baik. Ini tentu kabar baik bagi kita semua, untuk menampilkan contoh nyata narasi antaragama di negeri ini. Di Manado, pemeluk Yahudi tetap bisa beribadah, meski secara komunitas dan ritual sangat terbatas.

Sejak berdiri pada 2004, sinagoga Shaar Hasyamayim menjadi ruang ibadah bagi penganut Yahudi di Manado dan kawasan sekitarnya. Juga, bagi para pemeluk Yahudi dari luar Manado yang ingin mengunjungi komunitas se-agamanya.

Beruntung, Rabi Yakoov Baruch menggunakan komunikasi antarkomunitas yang bagus, hingga pengikut Yahudi di kawasan Manado dapat diterima dengan baik, terutama oleh warga setempat yang mayoritas memeluk Kristen.

Pemerintah di Manado juga mendukung terciptanya iklim kondusif bagi masing-masing komunitas agama. Setiap pemeluk agama mendapat ruang yang sama untuk beribadah, mengekpresikan keimanan masing-masing dengan cara yang sesuai dengan perintah agamanya. Namun, dengan catatan, ekspresi itu tidak saling mengganggu ataupun menghakimi dengan kebencian maupun provokasi.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga mendukung pendirian Menoreh, setinggi 18 meter, yang didirikan beberapa kilometer dari Sinagog Shaar Hasyamayim, di atas Bukit Manado.

Indonesia yang mewarisi persilangan sejarah pelbagai agama, tradisi, dan peradaban besar, perlu membuktikan diri sebagai bangsa yang mampu melampaui kebencian. Kita perlu melampaui energi kebencian itu dengan menyalakan cinta, dari masing-masing hati kita.


Terkini Lainnya


Close Ads X