Trump Bela Putrinya yang Pakai "E-mail" Pribadi untuk Urusan Negara

Kompas.com - 21/11/2018, 11:39 WIB
Ivanka Trump hadir dalam pertemuan antara ayahnya, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Hadir pula istri Xi Jinping, Peng Liyuan, di Florida bulan April 2017. Xinhua / Barcroft Images Ivanka Trump hadir dalam pertemuan antara ayahnya, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Hadir pula istri Xi Jinping, Peng Liyuan, di Florida bulan April 2017.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membela putrinya Ivanka yang kedapatan memakai email pribadi untuk urusan negara.

Dilansir AFP Selasa (20/11/2018), Trump berujar dia sudah mengetahui kabar bahwa Ivanka menggunakan email pribadi pada 2017 lalu.

Namun, dia menolak jika Ivanka dikaitkan dengan momen ketika dia mengkritik mantan rival politiknya, Hillary Clinton, pada pemilihan presiden 2016.

Baca juga: Putri Trump Gunakan Email Pribadi untuk Urusan Negara

" Email yang dikirim Ivanka tidak bersifat rahasia seperti kasus Hillary Clinton. Surel itu tidak dihapus seperti Hillary Clinton," kata Trump.

"Ivanka tidak menyembunyikan apapun. Surelnya ada di catatan kepresidenan. Kalian membicarakan kisah yang berbeda," lanjutnya kepada awak media.

The New York Times melaporkan, Trump menginginkan adanya penyelidikan terhadap Clinton dan mantan Direktur Biro Penyelidik Federal (FBI) James Comey.

Mengutip seorang sumber, The Times mewartakan tidak diketahui apa tuduhan yang bakal diberikan Kementerian Kehakiman kepada keduanya.

Namun, langkah tersebut sempat ditentang eks pengacara Gedung Putih Donald McGahn. Dia memberi tahu Trump bisa dimakzulkan jika melakukannya.

Sebab, Trump bisa dijerat dengan tuduhan melakukan penyalahgunaan kekuasaan jika meminta investigasi kepada Clinton dan Comey digelar.

Meski Trump menyuarakan pembelaan kepada Ivanka, anggota Kongres baik dari Partai Demokrat maupun Republik menyuarakan rencana investigasi.

Elijah Cummings dari Komite Kelalaian House of Representatives mengisyaratkan bakal kembali membuka penyelidikan 2017 terkait dugaan surel pribadi di pemerintahan Trump.

Cummings menjelaskan Gedung Putih tak pernah memberikannya dokumen maupun informasi sesuai dengan yang Kongres butuhkan.

"Kami harus memastikan baik Ivanka maupun suaminya Jared Kushner mematuhi peraturan federal, dan ada catatan aktivitas mereka," tutur Cummings.

Sementara Senator Ron Johnson dari Republik juga menyatakan dia bakal menggelar investigasi jika ada undang-undang yang dilanggar Ivanka.

Baca juga: Staf Gedung Putih Tinggalkan Password Email Rahasia di Perhentian Bus

Kepada CNN, Johnson mengatakan catatan federal berada dalam yurisdiksinya, dan dia menegaskan bakal menyikapinya secara serius.

Skandal itu menyembul setelah kelompok American Oversight mengajukan permintaan kepada Kongres melalui Peraturan Kebebasan Informasi.

Kuasa hukum Ivanka kemudian mengonfirmasi bahwa perempuan 37 tahun itu memang menggunakan email pribadi untuk mengirim surel pemerintah.

Ivanka mengaku dia tidak memahami jika ada aturan yang mengharuskan pejabat negara menggunakan email yang dikelola negara.

Temuan itu mengingatkan pada momen pemilihan presiden 2016. Saat itu Trump menuduh pesaingnya, Hillary Clinton, menggunakan server pribadi untuk mengirim surel.

Clinton menggunakannya ketika masih menjabat sebagai menteri luar negeri di era Presiden Barack Obama pada 2009 hingga 2013 silam.

Baca juga: Baca Email Suami Tanpa Izin, Perempuan di Swiss Didenda Rp 21 Juta

Trump berulang kali mengatakan skandal itu lebih besar dari Watergate karena ilegal dan berpotensi mengancam keamanan AS.

Clinton mengakui memasang server itu di rumahnya di Chappaqua, New York, jauh sebelum dia menjabat sebagai Menlu AS.

Dia tidak mengaktifkan surel pemerintah AS dengan alasan kenyamanan. Namun setiap mengirim surel, dia mengirim tembusan ke staf yang memakai email pemerintah.

Investigasi dari Biro Penyelidik Federal (FBI) menyimpulkan Clinton dan stafnya ceroboh dalam menangani informasi, namun tak menjeratnya dengan dakwaan apapun.

Baca juga: Donald Trump Serang Jaksa Agung AS soal Kasus Email Hillary




Close Ads X