Putri Trump Gunakan Email Pribadi untuk Urusan Negara

Kompas.com - 20/11/2018, 15:06 WIB
Penasihat Presiden AS sekaligus putri Donald Trump, Ivanka Trump, dijadwalkan menghadiri konferensi kewirausahaan sedunia di Hyderabad, India.FREDERIC J,. BROWN / AFP Penasihat Presiden AS sekaligus putri Donald Trump, Ivanka Trump, dijadwalkan menghadiri konferensi kewirausahaan sedunia di Hyderabad, India.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Putri sekaligus penasihat Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Ivanka, dilaporkan menggunakan email pribadi untuk urusan pemerintahan.

Kabar tersebut dihembuskan The Washington Post dari seorang sumber, sebagaimana diwartakan kantor berita AFP Selasa (20/11/2018).

Sumber itu mengungkapkan, penemuan itu terjadi setelah staf Gedung Putih melakukan pengecekan merespon gugatan keterbukaan publik yang diajukan 2017 lalu.

Baca juga: Putri Trump Hadiri Pembukaan Kedubes AS di Yerusalem

Ketika ditanyakan, Ivanka mengaku dia tidak terlalu paham dengan larangan menggunakan surel terkait urusan pemerintahan.

Juru bicara kuasa hukum Trump juga mengonfirmasi kabar itu, dan memberi tahu Ivanka telah menyerahkan segala surel terkait pekerjaan dalam beberapa bulan terakhir.

BBC melaporkan, surel itu tidak mengandung informasi yang rahasia. Kebanyakan berisi informasi masalah logistik maupun pribadi.

Austin Evers dari American Oversight yang mengajukan gugatan, mengatakan keluarga presiden sekalipun tidak kebal hukum.

"Kabar itu merupakan isu serius. Kongres harus segera melaksanakan investigasi secepatnya," ujar Evers dalam keterangan tertulisnya.

"Apakah Ivanka Trump menyerahkan seluruh surel yang ada di akun pribadinya? Apakah dia pernah mengirim email yang sifatnya rahasia?" lanjut Evers.

Berdasarkan Aturan Catatan Presidensial dan Federal, seorang pejabat negara harus memberitahukan surel yang dikirim menggunakan akun pribadi selambatnya 20 hari sejak terkirim.

Jika tidak, maka akun surel pribadi si pejabat bisa menjadi sumber resmi dari jurnalis maupun masyarakat yang menginginkan adanya transparansi informasi.

Temuan itu mengingatkan pada momen pemilihan presiden 2016. Saat itu Trump menuduh pesaingnya, Hillary Clinton, menggunakan server pribadi untuk mengirim surel.

Clinton menggunakannya ketika masih menjabat sebagai menteri luar negeri di era Presiden Barack Obama pada 2009 hingga 2013 silam.

Baca juga: Bareskrim Tangkap 3 Penipu Bermodus Retas Email

Trump berulang kali mengatakan skandal itu lebih besar dari Watergate karena ilegal dan berpotensi mengancam keamanan AS.

Clinton mengakui memasang server itu di rumahnya di Chappaqua, New York, jauh sebelum dia menjabat sebagai Menlu AS.

Dia tidak mengaktifkan surel pemerintah AS dengan alasan kenyamanan. Namun setiap mengirim surel, dia mengirim tembusan ke staf yang memakai email pemerintah.

Investigasi dari Biro Penyelidik Federal (FBI) menyimpulkan Clinton dan stafnya ceroboh dalam menangani informasi, namun tak menjeratnya dengan dakwaan apapun.

Baca juga: Staf Gedung Putih Tinggalkan Password Email Rahasia di Perhentian Bus




Close Ads X