Rencana Pemulangan Pengungsi Rohingya Tertunda Usai Pemilu Bangladesh

Kompas.com - 19/11/2018, 16:37 WIB
Warga pengungsi Rohingya menggelar aksi demonstrasi di dekat perbatasan Bangladesh, menolak rencana repatriasi ke Myanmar, Kamis (15/11/2018). AFP / DIBYANGSHU SARKARWarga pengungsi Rohingya menggelar aksi demonstrasi di dekat perbatasan Bangladesh, menolak rencana repatriasi ke Myanmar, Kamis (15/11/2018).

DHAKA, KOMPAS.com - Rencana pemerintah Bangladesh untuk dapat mengatasi krisis pengungsi Rohingya terpaksa ditunda hingga tahun depan, setelah digelarnya pemilihan umum.

Pejabat Bangladesh mengatakan, rencana repatriasi tampaknya baru akan ditinjau kembali setelah pemilihan umum yang akan dilangsungkan pada 30 Desember 2018 mendatang.

Proses repatriasi warga Rohingya dari Bangladesh sedianya telah dimulai pada Kamis (15/11/2018) pekan lalu, dengan sebanyak 2.200 pengungsi yang dipulangkan ke Myanmar untuk gelombang pertama.

Namun dalam pelaksanaannya, tidak satu pun dari 2.200 pengungsi yang ada dalam daftar pemulangan gelombang pertama muncul di titik pemberangkatan.

Baca juga: Warga Rohingya Menolak Dipulangkan, Proses Repatriasi Kembali Batal

Ribuan warga Rohingya justru menggelar aksi demonstrasi memprotes pemulangan tanpa adanya kepastian pemberian status kewarganegaraan Myanmar kepada para pengungsi.

Selain jaminan kewarganegaraan, para pengungsi Rohingya juga menuntut untuk dapat kembali ke kampung halaman mereka yang sebelumnya di Rakhine.

"Saya pikir tidak ada orang yang setuju untuk kembali tanpa jaminan dipenuhi tuntutan mereka," kata Abul Kalam, komisioner bantuan dan pemulangan pengungsi di Bangladesh, dilansir AFP.

Kalam mengatakan, sebuah tindakan baru harus diambil dengan memperhitungkan tuntutan para pengungsi.

Dia juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk menekan Myanmar agar menerima beberapa tuntutan pengungsi yang masuk akal agar proses repatriasi dapat dilakukan.

Sementara, pemerintah Myanmar setuju menerima Rohingya kembali jika mereka mau menerima Kartu Verifikasi Nasional, yang memungkinkan para pengungsi Rohingya mengajukan permohonan kewarganegaraan.

Namun usulan tersebut ditolak karena pemberian kartu sama dengan menandai mereka sebagai orang asing dan bukan warga negara Myanmar.

Kalam menambahkan, dengan adanya agenda pemilihan yang akan digelar akhir tahun mendatang, keputusan apa pun untuk masalah pemulangan atau relokasi pengungsi dari kamp pengungsian ke Pulau Bhasan Char, Bangladesh, tidak akan berlanjut sampai 2019.

Baca juga: Wapres AS: Persekusi terhadap Rohingya Tak Termaafkan

"Pemilihan umum akan digelar, sehingga pemerintah hanya akan mengambil langkah finalisasi untuk menyelesaikan masalah ini setelah pemilihan," kata Kalam.

Namun dia menegaskan, pemerintah Bangladesh akan tetap siap untuk memulangkan pengungsi jika ada yag secara sukarela kembali. Bangladesh berjanji tidak akan memaksa siapa pun untuk kembali secara paksa.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X