Houthi Siap Lakukan Gencatan Senjata dengan Koalisi Saudi asal...

Kompas.com - 19/11/2018, 15:03 WIB
Pasukan milisi Houthi di atas kendaraan militer saat berkumpul di Sanaa sebelum memulai gerakan menuju medan perang di Yaman, Januari lalu.Mohammed Huwais / AFP Pasukan milisi Houthi di atas kendaraan militer saat berkumpul di Sanaa sebelum memulai gerakan menuju medan perang di Yaman, Januari lalu.

SANA'A, KOMPAS.com - Kelompok pemberontak Yaman Houthi menyatakan mereka siap untuk melakukan gencatan senjata dengan koalisi pimpinan Arab Saudi.

Diwartakan Al Jazeera Senin (19/11/2018), pernyataan itu disampaikan setelah koalisi Saudi menghentikan serangan ke Hodeidah.

Baca juga: Koalisi Arab: Kelompok Houthi Sudah Tembakkan 200 Rudal ke Saudi

Pemimpin Komite Revolusi Tertinggi Houthi, Mohammed Ali al-Houthi berujar, pihaknya bertemu Utusan Khusus PBB Martin Griffiths.


"Setelah pertemuan itu, kami berinisiatif menghentikan serangan drone dan rudal ke negara yang mengagresi kami," kata Houthi.

Serangan rudal dan drone adalah balasan setelah koalisi Saudi yang disokong negara Barat melakukan serangan udara ke berbagai tempat di Yaman.

Gencatan senjata tersebut, imbuh Houthi, bakal mereka laksanakan jika koalisi Saudi juga menginginkan perdamaian.

"Keputusan ini merupakan bentuk dukungan kepada Utusan PBB yang iktikad baik dan mendukung upaya perdamaian," jelas Houthi.

Saudi dan anggota koalisinya, Uni Emirat Arab (UEA) juga menegaskan bahwa mereka merupakan pendukung usaha perdamaian yang digagas PBB.

Kepada Dewan Keamanan PBB, Griffiths menuturkan dia berusaha untuk menggelar dialog antara Houthi dan Saudi di Swedia sebelum akhir 2018.

Dia berkata, pihak Houthi telah memberikan jaminan mereka bakal menghadiri pembicaraan damai yang bakal digelar secepatnya.

"Saya siap mengawal perwakilan mereka dari ibu kota Sana'a jika diperlukan," beber Griffiths di hadapan DK PBB pekan lalu.

Komunitas internasional menekan kedua belah pihak agar menghentikan perang yang sudah terjadi sejak 2015 dan menewaskan 10.000 orang itu.

Tekanan itu semakin meningkat setelah jurnalis Saudi Jamal Khashoggi dibunuh di gedung Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober.

Amerika Serikat (AS) misalnya. Mereka mengumumkan penghentian pasokan bahan bakar bagi jet tempur koalisi Saudi yang dikerahkan ke Yaman.

Baca juga: Pemberontak Houthi Siap Bertemu PBB asal Syarat yang Diajukan Terpenuhi



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya


Close Ads X