Biografi Tokoh Dunia: Johannes Kepler, Pencetus Hukum Gerak Planet

Kompas.com - 15/11/2018, 18:58 WIB
Astronomi dan matematikawan asal Jerman, Johanner Kepler. (NASA via Britannica) Astronomi dan matematikawan asal Jerman, Johanner Kepler. (NASA via Britannica)

KOMPAS.com - "Setiap planet bergerak pada lintasan elips mengitari matahari, dengan matahari berada di salah satu fokusnya".

Demikian bunyi Hukum I Kepler, yang kemudian dikenal sebagai hukum lintasan elips. Dari situ, Kepler berusaha memecahkan persoalan kedudukan planet.

Johannes Kepler merupakan seorang matematikawan dan astronom asal Jerman, penemu konsep hukum pergerakan planet dengan orbitnya berbentuk elips.

Hukumnya bukan hanya dipakai untuk menggambarkan gerakan planet, tapi juga tonggak menentukan orbit satelit dan stasiun ruang angkasa.

Kehidupan awal

Johannes Kepler lahir pada 27 Desember 1571 di kota Well der Stadt, yang kala itu diduduki oleh Kekaisaran Romawi, dan sekarang merupakan Jerman.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Pangeran Charles, Pewaris Takhta Kerajaan Inggris

Ketika dia lahir di akhir abad ke-16, orang-orang masih berpikir planet di tata surya mengorbit melingkar di sekitar Bumi.

Orangtua Kepler bernama Heinrich Kepler dan Katharina Guldenmann. Keluarganya diyakini sangat kaya, namun sat dia lahir ke dunia, kekayaan itu menurun drastis.

Ayahnya mencari nafkah sebagai tentara bayaran dan meninggalkan keluarga ketika Kepler masih berusia lima tahun.

Sementara ibunya merupakan seorang herbalis dan tabib, yang kemudian bagkan mencoba menggunakan ilmu gaib untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepler tumbuh sebagai anak yang berminat pada bidang matematika dan kerap membuat orang terkesan dengan kecerdasannya.

Dia juga menyukai astronomi, dengan mengamati berbagai komet dan gerhana bersama keluarganya.

Namun, penglihatannya buruk dan tangannya juga tidak seimbang karena cacar air.

Almanak pertama

Kepler menerima pendidikan dalam bahasa Latin, yang merupakan bahasa akademisi, profesi legal, dan gereja di seluruh Eropa saat itu.

Selanjutnya, dia masuk ke Seminari Prostestan Maulbronn karena berkeinginan menjadi pendeta.

Mendapatkan beasiswa, dia pindah ke Universitas Tubingen pada 1591. Meski mengambil mata kuliah Teologi, Yunani, Ibrani, dan Filsafat, namun dia begitu menonjol di bidang matematika.

Kepler dianggap sebagai salah satu dari beberapa mahasiswa yang mampu secara intelektual dan matematis mempelajari karya Nicolaus Copernicus.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Stan Lee, Sang Kreator Pahlawan Super Marvel

Dia berpendapat, hipotesis heliosentris Copernicus bahwa matahari berada di pusat tata surya, adalah benar.

Pada usia 23 tahun, Kepler menjadi dosen bidang astronomi dan matematika di Sekolah Protestan di kota Graz, Austria.

Kepler juga memulai tugasnya menyusun almanak tentang perkiraan peristiwa besar di tahun mendatang.

Almanak pertamanya terbukti sukses. Dua peristiwa yang dia prediksi yaitu invasi Turki dan musim dingin parah, berhasil membangun reputasinya.

Ilustrasi Hukum Kepler I. (Britannica) Ilustrasi Hukum Kepler I. (Britannica)

Teori berisiko

Di waktu luangnya, dia terus belajar astronomi dan astrologi (kala itu kedua bidan tersebut pada dasarnya sama.

Pada 1596, Kepler menulis persetujuannya terhadap teori Copernicus soal tata surya.

Dia menerbitkan buku berjudul Mystery of the Cosmos atau Mysterium Cosmographicum ketika berusia 25 tahun. Buku itu menjabarkan tentang mengapa matahari berada di pusat tata surya.

Sikap tersebut sangatlah berbahaya, mengingat pada 1539, pendiri gereja Lutheran Martin Luther mengolok-olok teori tersebut saat pertama kali mendengarnya.

Kepler mencatat bahwa Merkurius dan Venus selalu tampak dekat dengan matahari, tidak seperti Mars, Jupiter, dan Saturnus.

Menurutnya, itu karena orbit Merkurius dan Venus lebih dekat ke matahari daripada Bumi.

Di era Kepler, ada enam planet yang dikenal, termasuk Bumi. Sementara, Uranus, Neptunus, dan Pluto belum ditemukan).

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Billie Jean King, Mantan Petenis Nomor Satu Dunia

Dia mengatakan, jika matahari dan semua planet mengorbit Bumi, tidak ada alasan mengapa Merkurius dan Venus selalu berada di dekat matahari.

Pada 1597, Kepler menikahi Barbara Muehleck dan memiliki lima anak. Namun, hanya satu anak laki-laki dan satu anak perempuan yang berhasil mencapai usia dewasa.

Reputasi meningkat

Buku tersebut membangun reputasi Kepler sebagai seorang ahli astronomi yang sangat terampil. Kepler membuat sedikit modifikasi pada karyanya.

Dia merilis versi kedua dari "Mysterium" pada 1621, memperbaiki dan mengoreksi detail dari edisi pertama.

Setelah publikasi "Mysterium", Kepler menjadi ambisius dan memutuskan untuk memperluas jangkauan karyanya.

Dia merencanakan empat buku tambahan, mencakup aspek stasioner dari alam semesta, pengaruh langit di bumi, gerakan planet, dan sifat fisik dari objek astral.

Sementara itu, ketegangan agama yang tumbuh di sekolah Protestan di Graz menimbulkan ancaman terhadap posisi Kepler dan dia meninggalkan lembaga itu untuk bergabung dengan rekannya, Tycho Brahe, dalam studi astronomi.

Pada 1 Januari 1600, Kepler resmi meninggalkan sekolah Graz untuk bekerja dengan Tycho.

Keduanya menerbitkan beberapa karya brilian seperti "Astronomiae Pars Optica", "Tabel Rudolphine", dan "Prutinic Tables".

Ilustrasi matahariNASA/SDO (AIA) Ilustrasi matahari
The Rudolphine dan Prutenic Tables disajikan kepada Kaisar Rudolf II. Namun, Tycho meninggal secara tak terduga pada 1601 dan Kepler diangkat sebagai matematikawan kekaisaran.

Kepler bahkan menjabat sebagai penasihat astrologi utama bagi kaisar.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: James Cook, Pelaut Inggris yang Petakan Samudera Pasifik

 

Dia juga membantu kaisar di masa-masa kesulitan politik, dan melanjutkan studinya dalam astronomi.

Pada 1610, Kepler mulai bekerja dengan Galileo Galilei.

Setahun kemudian, dia merancang teleskopnya sendiri untuk pengamatan astronomi dan memberinya nama "Keplerian telescope".

Pekerjaan baru

Pada 1611, Kaisar Rudolf II turun takhta, dan Kepler segera mencari pekerjaan baru.

Dia menempati posisi sebagai matematikawan provinsi Linz, Austria. Kemudian, dia pindah di sana pada 1612, dengan membawa dua anak dan istrinya.

Selama 14 tahun di Linz, dia menikah dengan Susanna Reuttinger pada 30 Oktober 1613.

Istri pertamanya meninggal dunia setahun sebelumnya karena sakit. Sementara ibunya, dipenjara selama 14 bulan atas perbuatan praktik sihir.

Kepler selalu menemani ibunya selama masa-masa sulit itu.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Elizabeth Magie, Pencipta Permainan Monopoli

Selama berada di Linz, dia mempublikasikan dua karya, seperti Hukum Kepler III pada 1618. Kepler meyakini alam mengikuti hubungan numerik sejak diciptakan oleh Tuhan menurut berat, jarak, dan jumlahnya.

Gagasan itu menggambarkan geometri, studi tentang titik, garis, sudut pandang, dan permukaan.

Karya kedua Kepler selama di Linz adalah Epitome astronomiae Copernicanae yang diterbitkan pada 1618-1621.

Kematian dan tuduhan pembunuhan

Kepler meninggal dunia sebelum mengamati Merkurius dan Venus yang begitu ditunggu-tunggu. Dia wafat pada 15 November 1930 di Regensburg, Jerman.

Selama bertahun-tahun, hukum Kepler dipandang dengan skeptis. Namun, beberapa astronom kemudian menguji teori Kepler dan perlahan mulai sepakat dengan temuannya.

Pada 1901, para ilmuwan membuka kuburan Brahe dan mengaku menemukan kandungan merkuri pada jenazahnya. Kepler dituduh meracuni rekannya.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Bram Stoker, Penulis Novel Horor Dracula

Tapi ketika jenazah Brahe digali lagi pada 2010, tes menunjukkan kandungan merkuri dalam tubuhnya tidak cukup tinggi untuk membunuhnya.

"Bahkan, analisis kimia pada tulang menunjukkan bahwa Tycho Brahe tidak terkena merkuri tinggi yang abnormal dalam lima sampai sepuluh tahun terakhir hidupnya," kata peneliti Kaare Lund Rasmussen, seorang profesor kimia di University of Southern Denmark.

Sekian lama dituding membunuh Brahe, akhirnya nama Kepler dibersihkan.


Terkini Lainnya


Close Ads X