Presiden Perancis Ingin Bentuk Tentara Gabungan Eropa, Ini Jawab Trump - Kompas.com

Presiden Perancis Ingin Bentuk Tentara Gabungan Eropa, Ini Jawab Trump

Kompas.com - 10/11/2018, 13:24 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyentuh lembut bahu Presiden Perancis Emmanuel Macron di Gedung Putih, Washington DC, Selasa (24/4/2018). (AFP/Brendan Smialowski) Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyentuh lembut bahu Presiden Perancis Emmanuel Macron di Gedung Putih, Washington DC, Selasa (24/4/2018). (AFP/Brendan Smialowski)

PARIS, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menanggapi keinginan Presiden Perancis Emmanuel Macron untuk membentuk pasukan gabungan Eropa.

Dilansir AFP Sabtu (10/11/2018), Trump menuliskan kicauan tentang kegusarannya setelah dia mendarat di Paris untuk memperingati berakhirnya Perang Dunia I.

Baca juga: Presiden Perancis: Eropa Harus Bisa Bertahan dari Rusia Bahkan AS

"Presiden Macron dari Perancis menyerukan agar Eropa membentuk militernya agar bisa melindungi diri dari Rusia, China, maupun AS," tulis Trump.

"Sungguh keterlaluan. Namun mungkin Eropa bisa mulai membayar lebih banyak biaya NATO yang selama ini ditanggung AS," lanjut presiden berusia 72 tahun itu.

Sebelumnya dalam wawancara dengan radio Europe 1, Macron menyerukan agar dibentuk sebuah tentara Eropa "yang sejati" untuk menangkal ancaman dari Rusia, China, bahkan AS.

Macron menjelaskan Benua Biru harus mulai mengurangi ketergantungan kepada AS setelah Trump mengumumkan keluar dari perjanjian nuklir era Perang Dingin.

Kesepakatan bernama Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (INF) itu ditandatangani pada 8 Desember 1987 antara Presiden AS Ronald Reagan dan Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev.

Mantan Menteri Industri, Ekonomi, dan Bidang Digital itu mengungkapkan, Eropa bakal menjadi korban jika AS serius keluar dari INF.

"Kami tidak akan bisa melindungi masyarakat Eropa kecuali kami memutuskan untuk membentuk pasukan Eropa yang tangguh," tutur Macron.

"Kami membutuhkan Eropa yang bisa melindungi dirinya sendiri dengan baik, tanpa harus bergantung kepada AS," lanjut presiden 40 tahun tersebut.

Dia menyerukan dibentuknya sebuah pasukan khusus gerak cepat dari sembilan negara Eropa, dimana pembentukannya bersifat mandiri dari NATO.

Pasukan dengan jumlah lebih kecil itu bisa dikerahkan untuk misi gunung, mengevakuasi warga dari zona perang, maupun membantu penanganan bencana.

Proposal untuk membentuk komando gabungan itu terbilang sensitif di kalangan para pemimpin Eropa dalam mempertahankan kedaulatan wilayah mereka.

Baca juga: Begini Skenarionya Jika Rusia Benar-benar Menyerang NATO



Close Ads X