Duterte Geram Disebut Bertanggung Jawab atas Kasus Pembunuhan Pengacara

Kompas.com - 09/11/2018, 20:05 WIB
Presiden Filipina Rodrigo Duterte. AFP/JUNG YEON-JEPresiden Filipina Rodrigo Duterte.

MANILA, KOMPAS.com - Presiden Filipina Rodrigo Duterte kesal saat mendengar kritik yang menyebut pemerintah sebagai pihak yang harus disalahkan dalam kasus kematian pengacara hak asasi manusia, Benjamin Ramos.

"Mengapa saya harus membunuh seorang pengacara? Mengapa saya membunuhnya? Untuk apa?" kata Duterte dalam pidatonya yang disampaikan di Boracay, Kamis (8/11/2018).

Ramos merupakan sosok yang dikenal menentang keras kampanye anti-narkoba yang dijalankan pemerintahan Duterte.

Pengacara itu dilaporkan ditembak oleh orang tak dikenal saat meninggalkan kantornya di pusat kota Kabankalan, Pulau Negros, pada Selasa (6/11/2018) malam.

Mendapat tiga luka tembak, Ramos sempat dibawa ke rumah sakit, namun dinyatakan telah meninggal dalam perjalanan.

Baca juga: Sejak Duterte Berkuasa, 34 Pengacara Tewas Ditembak

Politisi dari Partai Anakpawis, Ariel Casilao sebelumnya menyatakan, pemerintahan Duterte bertanggung jawab atas meningkatnya kekebalan hukum di negara itu.

Pendapat senada juga diungkapkan France Castro dari partai ACT Teachers yang mewakili para guru. Dia menyebut ada peran dari pemerintahan Duterte dalam kasus pembunuhan Ramos.

Hal tersebut langsung dibantah kantor kepresidenan Filipina. Juru bicara presiden Salvador Panelo menegaskan, pernyataan yang menyalahkan pemerintah atas kematian Ramos adalah hal ceroboh, tidak bertanggung jawab dan tidak berdasar.

"Pihak berwenang kini tengah melakukan penyelidikan dengan cepat dan tidak memihak terhadap kasus tersebut. Pihak terkait akan melakukan semua yang mereka bisa untuk memastikan bahwa para pelaku kejahatan akan dibawa ke pengadilan," kata Panelo.

"Presiden tidak akan membiarkan siapa pun dalam usaha yang tanpa henti melawan kriminalitas sesuai dengan arahan konstitusi untuk melindungi dan melayani warga," tambahnya seperti dilansir ABS-CBN News.

Ramos yang merupakan pendiri organisasi Persatuan Nasional Pengacara Rakyat (NUPL) menjadi pengacara ke-34 yang tewas dibunuh sejak Duterte berkuasa di 2016.

Organisasi NUPL memperjuangkan klien yang keluarganya menjadi target polisi, militer, maupun death squads dalam operasi pemberantasan narkoba yang dicanangkan Duterte.

NUPL menyatakan, berbagai upaya yang dilakukan Ramos membuat otoritas penegak hukum menjadi gusar.

Dilaporkan, dia dimasukkan dalam daftar orang yang diduga berhubungan dengan gerakan komunis.

Baca juga: Duterte Tawarkan Uang untuk Tembak Polisi yang Tepergok Jual Narkoba

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Sumber ABS-CBN
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Israel Klaim 1 Lagi Komandan Jihad Islam dan Keluarganya Tewas dalam Serangan

Israel Klaim 1 Lagi Komandan Jihad Islam dan Keluarganya Tewas dalam Serangan

Internasional
Berdebat dengan Demonstran Hong Kong, Kepala Pria 70 Tahun Dilempar Batu Bata

Berdebat dengan Demonstran Hong Kong, Kepala Pria 70 Tahun Dilempar Batu Bata

Internasional
Dianggap Terlalu Awal, Keluarga di Texas Ini Diminta Copot Hiasan Natal

Dianggap Terlalu Awal, Keluarga di Texas Ini Diminta Copot Hiasan Natal

Internasional
Ekor Anak Anjing Ini Tumbuh di Kepala

Ekor Anak Anjing Ini Tumbuh di Kepala

Internasional
Komandannya Tewas Diserang, Jihad Islam Tembakkan Roket Tiap 7 Menit ke Israel

Komandannya Tewas Diserang, Jihad Islam Tembakkan Roket Tiap 7 Menit ke Israel

Internasional
Hadapi Polisi, Pelajar Hong Kong Mempersenjatai Diri dengan Panah dan Tombak

Hadapi Polisi, Pelajar Hong Kong Mempersenjatai Diri dengan Panah dan Tombak

Internasional
Menlu Retno: Saatnya Wanita Bekerja Bersama Membawa Panji Toleransi

Menlu Retno: Saatnya Wanita Bekerja Bersama Membawa Panji Toleransi

Internasional
Datang ke AS, Erdogan Mengaku Kembalikan Surat yang Ditulis Trump

Datang ke AS, Erdogan Mengaku Kembalikan Surat yang Ditulis Trump

Internasional
Mantan Pemimpin ISIS Baghdadi Pasang Koneksi Internet di Persembunyiannya

Mantan Pemimpin ISIS Baghdadi Pasang Koneksi Internet di Persembunyiannya

Internasional
Ribuan Burung Mati Misterius di Danau Pedalaman India

Ribuan Burung Mati Misterius di Danau Pedalaman India

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Sungai di Korsel Berubah Merah karena Darah Babi | Pria Diborgol karena Sandwich

[POPULER INTERNASIONAL] Sungai di Korsel Berubah Merah karena Darah Babi | Pria Diborgol karena Sandwich

Internasional
Pemimpin Oposisi Inggris Sebut Eks Pemimpin ISIS Baghdadi Harus Ditangkap Hidup-hidup

Pemimpin Oposisi Inggris Sebut Eks Pemimpin ISIS Baghdadi Harus Ditangkap Hidup-hidup

Internasional
Istrinya Habis Rp 600 Juta di Harbolnas China, Pria Ini Ingin Bunuh Diri

Istrinya Habis Rp 600 Juta di Harbolnas China, Pria Ini Ingin Bunuh Diri

Internasional
Kasus 2 Remaja Tewas Ditabrak Mobil di Jakarta, Bagaimana Hukum Penggunaan Skuter Listrik di Negara Lain?

Kasus 2 Remaja Tewas Ditabrak Mobil di Jakarta, Bagaimana Hukum Penggunaan Skuter Listrik di Negara Lain?

Internasional
Lakukan Pelecehan Seksual, Pelaku Malah Salahkan Korban

Lakukan Pelecehan Seksual, Pelaku Malah Salahkan Korban

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X