Kompas.com - 09/11/2018, 09:13 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pemerintah Amerika Serikat pada Kamis (8/11/2018) mengumumkan sanksi terhadap tiga orang dan 9 entitas atas intervensi Rusia di Ukraina.

AS memperingatkan akan ada konsekuensi kegiatan bisnis di Crimea yang dianeksasi.

Melansir AFP, sanksi akan membekukan semua aset berbasis AS dan melarang transaksi keuangan dengan target termasuk mantan panglima pasukan rudal Rusia Vladmimir Zaritsky, yang juga memimpin proyek hotel di Crimea.

Baca juga: Putin: Penembakan Massal di Crimea Efek dari Insiden Tragis di AS

"Kami tetap berkomitmen untuk menargetkan entitas yang didukung Rusia, yang mencari keuntungan dari aneksasi ilegal dan pendudukan Rusia atas Crimea," kata Sigal Mandelker, Wakil Menteri Keuangan bidang teorisme dan inteligensi keuangan.

AS menerapkan sanksi kepada perusahaan Zaritsky yang ingin membeli tiga hotel di Crimea. Hotel itu dimiliki oleh negara Ukrania dan diambil alih usai aneksasi.

Selain itu, Mriya Resort and Spa juga mendapat sanksi dari AS. Hotel mewah itu dibuka di resor Yalta, sesaat setelah pencaplokan sehingga menjadi platform utama Rusia untuk menampilkan peluang investasi di Crimea.

Dalam situs resminya, hotel tersebut memiliki fasilitas pusat kesehatan dan dirancang berdasarkan konsep arsitek Inggris Norman Foster, yang membangun Stadion Wembley.

Kementerian Keuangan AS juga memberlakukan sanksi terhadap dua orang terkait masalah hak asasi manusia di Ukraina.

Mereka adalah Andriy Volodymyrovych Sushko, yang diidentifikasi sebagai petugas dari badan intelijen FSB, yang diduga menculik dan menyiksa seorang aktivis dari Tatar, Crimea.

Selain Sushko, Alexander Basov, juga mendapat sanski. Dia merupakan wakil kementerian keamanan negara di Republik Rakyat Luhansk yang tidak diakui secara internasional di timur Ukraina.

Baca juga: Putin Berencana Ubah Crimea Jadi Ibu Kota Kebudayaan

Basov telah menggunakan posisinya untuk menganiaya umat Saksi Yehuwa, kelompok Kristen heterodoks.

Seperti diketahui, Moskwa mencaplok Krimea pada 2014. Terletak di semenanjung Laut Hitam, sebagian penduduknya merupakan etnis Rusia, namun tetap bagian dari Ukraina.

Kekuatan Barat tidak berdaya untuk menghentikan aneksasi, tapi tidak pernah mengakuinya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.