Turki: Sanksi AS kepada Iran Langkah yang Berbahaya

Kompas.com - 06/11/2018, 13:45 WIB
Jelang penerapan sanksi Amerika Serikat, pengunjuk rasa di Iran membakar uang kertas dollar selama demonstrasi di luar gedung bekas kedutaan besar AS di Teheran, Minggu (4/11/2018). (AFP/Atta Kenare) Jelang penerapan sanksi Amerika Serikat, pengunjuk rasa di Iran membakar uang kertas dollar selama demonstrasi di luar gedung bekas kedutaan besar AS di Teheran, Minggu (4/11/2018). (AFP/Atta Kenare)

ANKARA, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu memperingatkan kebijakan Amerika Serikat ( AS) yang memberikan sanksi kepada Iran.

Cavusoglu mengatakannya dalam konferensi pers saat berkunjung ke Jepang, sebagaimana diberitakan kantor berita AFP Selasa (6/11/2018).

Baca juga: China Tegaskan Bakal Tetap Menjalin Perdagangan Bilateral dengan Iran

Pekan ini, Washington menjatuhkan sanksi yang menargetkan sistem perbankan dan bertujuan menutup ekspor minyak Iran.

Sanksi tersebut merupakan yang kedua sepanjang tahun ini setelah Presiden Donald Trump mengumumkan AS keluar dari perjanjian nuklir.

Delapan negara, termasuk di antaranya Turki dan Jepang, telah mendapat izin AS untuk tetap mengimpor minyak dari Teheran.

Cavusoglu menjelaskan, Turki bersikap menentang sanksi AS kepada Iran karena menurutnya, kebijakan tersebut tidak bijaksana.

"Berupaya mengisolasi Iran merupakan langkah yang berbahaya. Menghukum rakyatnya merupakan langkah yang tidak adil," kritik Cavusoglu.

Menteri berusia 50 tahun itu melanjutkan, menjatuhkan sanksi kepada Iran bukan merupakan solusi dan tak bakal memberi hasil positif.

Menurut saya dibandingkan sanksi, seharusnya menggelar dialog yang bermanfaat serta perundingan merupakan cara yang sukses," imbuhnya.

Sanksi terbaru sekaligus diklaim terberat yang dijatuhkan AS menimbulkan kemarahan dari warga Iran. Mereka membakar bendera dan uang dollar AS sebagai bentuk protes.

Adapun Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan sanksi tersebut ilegal dan tak adil, serta menegaskan bakal tetap menjual minyak.

Washington telah berjanji bakal terus menekan Iran. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo ingin agar Iran bisa berbalik 180 derajat.

Meski begitu, Inspektur PBB menyebut Iran telah mematuhi janji dalam perjanjian nuklir yang dibuat pada era pendahulu Trump, Barack Obama, di 2015.

Perjanjian bernama Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) itu mendapat dukungan Inggris, Perancis, Rusia, China, dan dikukuhkan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB.

Baca juga: Protes Sanksi Terberat, Warga Iran Bakar Bendera AS dan Uang Dollar

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber AFP
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X