Militer Tolak Keinginan Trump untuk Bangun Pusat Penahanan Migran

Kompas.com - 06/11/2018, 10:59 WIB
Rombongan migran asal Honduras yang berjalan menuju perbatasan AS dan akan bergabung dengan iring-iringan migran dari Guatemala dan El Salvador. AFP / ORLANDO ESTRADARombongan migran asal Honduras yang berjalan menuju perbatasan AS dan akan bergabung dengan iring-iringan migran dari Guatemala dan El Salvador.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk membangun pusat penahanan migran.

Dilaporkan Reuters via Sky News Senin (5/11/2018), kabar yang diungkapkan sumber militer AS itu terjadi setelah ribuan migran bergerak ke perbatasan Meksiko.

Baca juga: Trump Sebut Karavan Migran Akan Ditembak Jika Lempar Batu ke Militer

Dalam kampanyenya jelang Pemilihan Umum Sela Selasa (6/11/2018), Trump berkata kepada para pendukung Partai Republik bahwa para migran tengah melakukan invasi.


Pekan lalu, militer mengumumkan telah mengerahkan 7.000 tentara ke perbatasan Meksiko di mana diperkiran ada 5.000 migran menuju ke sana.

Kementerian Dalam Negeri Meksiko menyatakan, para migran itu berasal dari Honduras, El Salvador, dan Guatemala. Mereka bergerak dengan karavan atau kelompok kecil.

Pasukan itu dikerahkan dalam misi bernama Operation Faithful Patriot untuk memberikan dukungan bagi 2.000 orang Garda Nasional yang lebih dulu ditempatkan.

Ketika berkampanye di Cleveland, Trump menyalahkan Partai Demokrat selaku oposisi karena telah memberikan jalan bagi migran ilegal.

Karena imigrasi merupakan isu utama dalam pemilu sela tahun ini, Trump mengklaim Demokrat ingin memanfaatkannya dengan menciptakan kekacauan di perbatasan.

Presiden berusia 72 tahun itu menuturkan bakal migran yang datang bakal semakin banyak. "Saat ini kami telah memulai proses pembangunan tembok. Kami tak bakal membiarkan mereka lewat," tegasnya.

Pekan lalu, Trump mengancam bakal menembak jika migran melakukan aksi seperti melemparkan batu ke arah pasukan perbatasan.

"Pertimbangkan (batu) itu sebagai senapan. Ketika mereka melempar batu seperti yang dilakukan ke polisi perbatasan Meksiko, pertimbangkan itu sebagai senapan," ujarnya.

Presiden ke-45 dalam sejarah Negara "Uncle Sam" itu lalu mengklarifikasi ucapannya dengan berujar migran yang melakukan provokasi bakal ditahan.

Ribuan migran itu bergerak menuju Mexico City. Ada yang berjalan kaki atau menumpang kendaraan selama tiga pekan terakhir.

Beberapa di antara migran itu ada yang merupakan anggota sebuah geng kriminal maupun mempunyai kesulitan finansial di negara asal.

Baca juga: Tak Diizinkan Naik Bus di Meksiko, Karavan Migran Jalan Kaki Menuju AS

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria di Harlem Tembak Tetangga Apartemen karena Terlalu Berisik

Pria di Harlem Tembak Tetangga Apartemen karena Terlalu Berisik

Internasional
Erdogan Ancam Bakal 'Hancurkan Kepala' Pasukan Kurdi Jika Tak Keluar dari Zona Aman

Erdogan Ancam Bakal "Hancurkan Kepala" Pasukan Kurdi Jika Tak Keluar dari Zona Aman

Internasional
ISIS Pakai Jenazah Anak-anak untuk Jebakan Granat, Nyaris Lukai Pasukan Khusus Inggris SAS

ISIS Pakai Jenazah Anak-anak untuk Jebakan Granat, Nyaris Lukai Pasukan Khusus Inggris SAS

Internasional
Warga Protes Kenaikan Harga Tiket Kereta, Presiden Chile Umumkan Keadaan Darurat

Warga Protes Kenaikan Harga Tiket Kereta, Presiden Chile Umumkan Keadaan Darurat

Internasional
Dari 80 Detik hingga 19 Jam, Inilah Penerbangan Tersingkat dan Terlama di Dunia

Dari 80 Detik hingga 19 Jam, Inilah Penerbangan Tersingkat dan Terlama di Dunia

Internasional
Pemilu Kanada 2019, Bagaimana Peluang PM Justin Trudeau untuk Kembali Terpilih?

Pemilu Kanada 2019, Bagaimana Peluang PM Justin Trudeau untuk Kembali Terpilih?

Internasional
Presiden Meksiko Dukung Keputusan Pihak Keamanan Bebaskan Putra El Chapo

Presiden Meksiko Dukung Keputusan Pihak Keamanan Bebaskan Putra El Chapo

Internasional
Korban Tewas Ledakan di Masjid Afghanistan Jadi 62 Orang, Taliban Bantah Terlibat

Korban Tewas Ledakan di Masjid Afghanistan Jadi 62 Orang, Taliban Bantah Terlibat

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Keluarga Belanda Tinggal 9 Tahun di Bawah Tanah | Indonesia Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Keluarga Belanda Tinggal 9 Tahun di Bawah Tanah | Indonesia Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB

Internasional
Izinkan Artis Masuk Kokpit dan Pegang Kendali Pesawat, Pilot Dilarang Terbang Seumur Hidup

Izinkan Artis Masuk Kokpit dan Pegang Kendali Pesawat, Pilot Dilarang Terbang Seumur Hidup

Internasional
Pemerintah Berencana Berlakukan Pajak WhatsApp, Warga Lebanon Gelar Unjuk Rasa

Pemerintah Berencana Berlakukan Pajak WhatsApp, Warga Lebanon Gelar Unjuk Rasa

Internasional
Ledakan Bom di Masjid Afghanistan saat Shalat Jumat, 28 Jemaah Tewas

Ledakan Bom di Masjid Afghanistan saat Shalat Jumat, 28 Jemaah Tewas

Internasional
Gara-gara Postingan Facebook, Pria Pakistan Ini Dijatuhi Hukuman Penjara 5 Tahun

Gara-gara Postingan Facebook, Pria Pakistan Ini Dijatuhi Hukuman Penjara 5 Tahun

Internasional
Kucingnya Dibunuh, Wanita di Rusia Mutilasi Teman Serumah

Kucingnya Dibunuh, Wanita di Rusia Mutilasi Teman Serumah

Internasional
Qantas Uji Coba Penerbangan Langsung Terlama dari New York ke Sydney selama 19 Jam

Qantas Uji Coba Penerbangan Langsung Terlama dari New York ke Sydney selama 19 Jam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X