Korut Ancam Lanjutkan Program Senjata Nuklirnya jika Sanksi Ekonomi Tak Dicabut

Kompas.com - 04/11/2018, 14:17 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo (kanan) bertemu di Paekhwawon State Guesthouse di Pyongyang, Korea Utara. Foto ini diambil pada Minggu (7/10/2018) oleh Kantor Berita Korea Utara (KCNA). (AFP) Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo (kanan) bertemu di Paekhwawon State Guesthouse di Pyongyang, Korea Utara. Foto ini diambil pada Minggu (7/10/2018) oleh Kantor Berita Korea Utara (KCNA). (AFP)

PYONGYANG, KOMPAS.com — Korea Utara memperingatkan bakal mempertimbangkan secara serius untuk menghidupkan kembali program persenjataan nuklir mereka jika AS tidak segera mencabut sanksi ekonomi terhadap negara itu.

Kementerian Luar Negeri Korut menyatakan, kemungkinan Pemerintah Korea Utara menjalankan kembali kebijakan "byungjin" mereka yang mengembangkan kemampuan ekonomi dan nuklir secara serentak.

Kebijakan tersebut sempat diubah oleh Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un pada April lalu setelah melihat adanya perkembangan dalam iklim perdamaian di Semenanjung Korea.

Kim, kala itu mengumumkan bahwa misi pengembangan nuklir Pyongyang telah terlaksana dan akan melanjutkan fokus pada pembangunan sosial ekonomi.

Baca juga: Korea Utara Bersiap Kedatangan Inspektur Internasional ke Situs Nuklir

Namun, pada Jumat (2/11/2018) malam, Kementerian Luar Negeri Korut menyatakan dapat membalikkan kebijakan tersebut jika AS tidak mengubah pendiriannya tentang sanksi terhadap Korea Utara.

"Kata byungjin mungkin akan kembali muncul dan sedang dipertimbangkan secara serius," kata pernyataan yang disiarkan kantor berita KCNA.

Dalam pertemuan bersejarah antara Presiden AS Donald Trump dengan Kim Jong Un di Singapura bulan Juni lalu telah ditandatangani kesepakatan untuk denuklirisasi meski tanpa rinci kapan dan bagaimana hal tersebut dilakukan.

Sejak saat itu, Korea Utara secara sepihak mengatakan telah menghancurkan situs uji coba nuklirnya. Namun, Washington mendorong agar sanksi terhadap Pyongyang dipertahankan hingga denuklirisasi penuh yang dapat diverifikasi telah dilakukan.

"AS berpikir bahwa tekanan dan sanksinya yang berulang kali itu akan mengarah pada denuklirisasi. Kami tidak bisa menahan tawa atas gagasan bodoh semacam itu."

"Peningkatan hubungan dengan sanksi tidak sesuai," lanjut pernyataan yang dirilis direktur Institut Studi Amerika di Kementerian Luar Negeri Korut.

"Apa yang seharusnya dilakukan adalah tanggapan balasan yang sesuai dari AS," tambah pernyataan tersebut yang menjadi penanda terbaru akan meningkatnya kekecewaan Pyongyang terhadap Washington.

Baca juga: Menlu AS Protes Korsel dan Korut Gelar Perundingan Damai Tanpa Dirinya

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam wawancara dengan Fox News, Jumat (2/11/2018), menegaskan kembali bahwa sanksi Korea Utara akan tetap sama sampai Pyongyang melakukan komitmen denuklirisasi yang dibuat di Singapura.

Dia menambahkan akan bertemu kembali dengan pihak Korea Utara pada pekan depan.



Sumber AFP,SCMP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X