Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 31/10/2018, 20:34 WIB
|

Penyesuaian kebijakan yang lebih luas, terutama untuk menahan pengaruh Iran, kemungkinan bisa membuat perundingan-perundingan dengan Israel akhirnya dipublikasikan.

Apalagi, Israel bersumpah untuk mencegah Teheran menancapkan pengaruh militernya di Suriah, tempat Iran mendukung rezim Bashar al-Assad.

"Penyesuaian kebijakan membawa negara-negara ini mendekat, meski belum sampai tahap bersekutu," kata Elizabeth Dickinson, analis senior di International Crisis Group (ICG).

Baca juga: Menlu AS: Seluruh Timur Tengah Harusnya Mencontoh Israel

"Menekan Iran dan mengurangi aktivitas regionalnya merupakan prioritas utama bagi Israel dan beberapa negara Teluk," tambah dia.

"Riyadh, Abu Dhabi, dan Tel Aviv semua merasa sudah saatnya memanfaatkan kesempatan, di saat pemerintah AS juga menjadikan Iran sebagai prioritas," ujar Elizabeth.

Inisiatif untuk mendekati negara-negara Teluk juga muncul menjelang pemilihan umum Israel tahun depan.

Dan, memperbaiki hubungan dengan negara-negara Arab bisa memperkuat posisi Netanyahu di dalam negeri.

"Israel cenderung ingin membuat pertemuan semacam ini diketahui publik. Namun, negara-negara Arab menilai hal ini amat sensitif dan terkait dengan isu Palestina," kata Yoel Guzansky, dari Institut Studi Keamanan Nasional dan mantan anggota Dewan Keamanan Nasional Israel.

Publikasi pertemuan semacam ini ditujukan agar publik di negara-negara Teluk memahami secara rasional bahwa Israel bukan musuh.

"Musuhnya adalah bangsa lain. Dan bangsa lain itu adalah Iran," ujar Yoel.

Sejauh ini, Israel hanya memiliki hubungan diplomatik dengan  dua negara Arab yaitu Mesir dan Jordania.

Sedangkan Qatar memiliki hubungan informal dengan Israel dan Iran. Hingga 2000, Qatar menjadi rumah bagi kantor dagang Israel.

Di sisi lain, Doha juga menyediakan bantuan kemanusiaan dan bahan bakar untuk Jalur Gaza, dengan persetujuan dari Israel yang didukung AS.

Dalam sebuah konferensi pertahanan regional di Bahrain pekan lalu, Menlu Oman Youssef bin Alawi bin Abdullah mengatakan, mungkin sudah saatnya Israel diperlakukan dan memiliki kewajiban sama dengan negara-negara Timur Tengah lainnya.

Pernyataan Oman ini mendapatkan dukungan dari pemerintah Bahrain. Posisi Oman ini memicu kekhawatiran penasihat presiden Palestina Mohammad Shtayyeh.

Shtayyeh menyebut kondisi ini sebagai awal normalisasi publik dan akhir dari inisiatif perdamaian Arab.

Pada 2002, negara-negara Arab menawarkan hubungan diplomatik dengan Israel sebagai imbalan terbentuknya negara Palestina.

Baca juga: AS Kucurkan Bantuan Rp 572 Triliun ke Israel untuk Hadapi Iran

"Para diktator Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Bahrain mendekati rezim Israel untuk mendapat dukungan Trump demi melindungi kekuasaan mereka," kata Omar Barghouti, pendiri gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS).

"Rakyat Palestina amat bergantung pada rakyat negara-negara Arab dan bukan pada penguasa lalim yang tak dipilih rakyat untuk mendukung perjuangan kami mencari kebebasan, keadilan, dan kesetaraan," kata Barghouti.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.