Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 20/10/2018, 12:27 WIB
Ervan Hardoko

Penulis

RIYADH, KOMPAS.com - Skandal Jamal Khashoggi teryata berbuntut panjang meski pemerintah Arab Saudi sudah mengakui bahwa sang jurnalis memang tewas di kantor konsulat negara itu di Istanbul, Turki.

Sejumlah sumber intelijen menyebut sejumlah kalangan di lingkungan istana kerajaan Arab Saudi mendiskusikan kemungkinan perubahan garis suksesi kepemimpinan.

Sementara itu, pemerintah AS dikabarkan ingin terlibat langsung dalam proses perubahan garis suksesi tersebut. Demikian dilaporkan situs berita Middle East Eye.

Baca juga: INFOGRAFIK: Yang Terjadi Sebelum Jamal Khashoggi Dipastikan Tewas

Sumber yang tak mau disebutkan namanya itu mengatakan, kasus ini mengakibatkan Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) diawasi ketat.

Apalagi tujuh personel pengawal pribadinya disebut pemerintah Turki sebagai tersangka pelaku pembunuhan Jamal Khashoggi.

Sumber itu menambahkan, Gedung Putih mengirimkan Menlu Mike Pompeo ke Riyadh sebagai bagian dari upaya pemerintahan Trump terlibat dalam setiap kemungkinan perubahan garis suksesi di Arab Saudi.

Sumber anonim ini melanjutkan, Presiden AS Donald Trump mengingnkan Raja Salman tetap berkuasa tetapi Pompeo menganggap posisi sang raja amat "rapuh" dan harus diganti.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh Middle East Eye, Kementerian Luar Negeri Inggris juga sudah menggelar diskusi internal untuk mempersiapkan diri menghadapi skenario apapun di Saudi termasuk perubahan garis suksesi.

Sumber di Kemenlu Inggris mengatakan, Dubes Inggris di Riyadh Simon Collins belum pernah bertemu lagi dengan Raja Salman sejak Jamal Khashoggi menghilang 2 Oktober lalu.

Hal ini terjadi karena para pejabat Saudi masih kebingungan untuk memberikan jawaban terkait situasi tersebut.

Baca juga: Saudi Akui Jamal Khashoggi Tewas di Gedung Konsulat akibat Bertikai

Krisis ini membuat Raja Salman harus mengirim penasihatnya yang paling dipercaya Khalid al-Faisal, gubernur Mekkah, untuk berangkat ke Istanbul.

Kantor berita Reuters mengabarkan, penugasan Al-Faisal ini dilakukan saat tekanan dari para pemimpin dunia terhadap Arab Saudi terkait nasib Khashoggi semakin kuat.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com