Ervan Hardoko
wartawan

Wartawan, peminat isu-isu luar negeri dan olahraga, meski tidak gemar berolahraga

Raibnya Jamal Khashoggi dan Pertaruhan Citra Pangeran MBS

Kompas.com - 19/10/2018, 11:21 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KOMPAS.com — Sejak ditunjuk menjadi putra mahkota Arab Saudi pada 27 Juni 2017, Pangeran Mohammed bin Salman langsung berusaha menunjukkan dirinya memiliki visi bagi masa depan negeri itu.

Salah satu pandangan pangeran berusia 32 tahun itu dituangkan dalam apa yang disebutnya sebagai "Visi 2030" yang salah satu tujuannya adalah mengurangi ketergantungan Arab Saudi terhadap minyak bumi.

Selama ini, hasil minyak bumi amat cukup untuk menghidupi Arab Saudi, tetapi setelah beberapa kali harga minyak dunia anjlok, MBSsapaan akrab sang pangeranyakin Saudi butuh pemasukan dari sektor lain.

Baca juga: Tersangka Pembunuh Jamal Khashoggi, Tewas dalam Kecelakaan di Riyadh

Untuk menumbuhkan perekonomian Saudi, negeri itu membutuhkan investasi asing dalam jumlah besar.

Namun, citra Saudi sebagai negara yang ketat dan tidak demokratis membuat banyak negara ragu untuk berbisnis di negeri itu.

Pangeran MBS paham betul citra Saudi di dunia internasional perlu dipoles agar keraguan-keraguan tersebut bisa dikikis dan suatu saat hilang.

Salah satu yang sudah dilakukan MBS adalah mencabut larangan mengemudi bagi perempun Saudi yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Dia juga kemudian mengizinkan berdirinya bioskop di Saudi dan bahkan mulai menjajaki kemungkinan menjalin kerja sama dengan Hollywood.

Kedua keputusan ini, meski terbilang sederhana, amat meningkatkan citra Arab Saudi di mata dunia. Selain itu, citra MBS sebagai sosok demokratis, reformis, fleksibel, dan mengerti tuntutan zaman langsung terbangun.

Di bidang ekonomi, Pangeran MBS berniat mendirikan sebuah kota baru berfasilitas canggih. Kota yang hingga saat ini hanya disebut NEOM ini dibangun sebagai sebuah zona bebas ekonomi dan dagang internasional.

Baca juga: Raibnya Jamal Khashoggi, Seorang Jenderal Jadi Kambing Hitam

Tujuannya amat jelas, MBS ingin negerinya terlihat menjadi negara yang ramah terhadap investor internasional yang ingin menanamkan modalnya di Arab Saudi.

Tak hanya itu, untuk menunjukkan keterbukaan negeri tersebut, MBS juga berencana membuka sejumlah daerah negeri itu yang berpotensi menjadi daerah wisata semacam Sharm el-Sheik, di Mesir.

Bersambung di halaman berikutnya: Pendekatan keras

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.